Konten dari Pengguna

Jangan Asal Naik: Bekal yang Wajib Disiapkan Sebelum Mendaki Gunung

rafahalkhuzaymah

rafahalkhuzaymah

Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Pamulang.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari rafahalkhuzaymah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penulis saat mendaki Kawah Ratu, 04/01/2026. (Foto: Dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Penulis saat mendaki Kawah Ratu, 04/01/2026. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Jujur, dulu aku mengira mendaki gunung itu gampang. Tinggal pakai sepatu, bawa tas, lalu jalan. Anggapan itu runtuh waktu aku pertama kali mendaki Kawah Ratu via Pasir Reungit bersama teman-teman pada 4 Januari 2026 . Dari pengalaman itu aku sadar bahwa mendaki gunung butuh persiapan yang matang, dan ini cerita serta pelajaran yang kudapat.

Awalnya Cuma Ikut-Ikutan

Waktu itu aku berangkat karena penasaran dan tergoda foto-foto pemandangan di media sosial. Persiapanku seadanya. Aku pakai sepatu biasa, jaket tipis, dan tidak latihan fisik sama sekali.. Baru setengah jalan, napasku sudah habis dan kakiku pegal. Dari situ aku mulai paham bahwa fisik yang siap itu penting dalam mendaki gunung.

Sepulang dari sana, aku mencari tahu lebih banyak. Ternyata data Basarnas tahun 2015 sampai 2019mencatat adanya peningkatan kecelakaan pendaki, dan banyak penyebabnya adalah kurangnya persiapan. Aku bersyukur waktu itu bisa pulang dengan selamat.

Pelajaran Pertama: Sepatu dan Pakaian Itu Penting

Pelajaran terbesarku adalah soal pakaian. Dulu aku pikir cukup pakai satu jaket tebal. Ternyata yang disarankan adalah pakaian berlapis, yaitu lapisan dasar, lapisan penghangat, dan jaket luar yang tahan angin dan air. Kaus katun dan jeans sebaiknya dihindari karena mudah basah dan lama kering, sehingga tubuh makin cepat kedinginan.

Soal sepatu, Kementerian Kesehatan menyarankan sepatu khusus hiking yang cengkeramannya kuat supaya tidak mudah terpeleset di jalur licin. Aku sendiri merasakan bagaimana susahnya melangkah di jalur berbatu dengan sepatu yang salah.

Pelajaran Kedua: Jangan Remehkan Sarapan dan Logistik

Kesalahan terbesarku waktu itu adalah berangkat tanpa sarapan sama sekali. Aku mengira bekal di tas cukup. Padahal isinya hanya 3 botol air mineral, 1 yogurt, dan 2 potong roti. Itu jauh dari cukup untuk perjalanan mendaki yang menguras tenaga.

Basarnas mengingatkan agar pendaki membawa logistik sesuai lama perjalanan. Air minum yang cukup, makanan berkalori tinggi, dan P3K sebaiknya ada di tas. Sekarang aku selalu sarapan dulu dan membawa camilan yang bikin kenyang, seperti cokelat, kurma, atau biskuit, bukan cuma roti dua potong.

Kenali Hipotermia Saat Mendaki Gunung

Pengalaman ini yang paling kuingat. Sepanjang perjalanan, hujan deras turun tanpa henti. Bajuku basah kuyup, makeup luntur, dan rambut jadi lepek. Aku sempat menertawakan penampilanku sendiri, tapi lama-kelamaan tubuhku makin lemas karena perut kosong dan pakaian yang basah.

Sesampainya di puncak, udaranya dingin sekali. Badanku menggigil hebat. Saat itu aku baru sadar bahwa ini bukan sekadar kedinginan biasa. Menurut sumber yang kubaca setelahnya, hipotermia terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah 35°C, dengan gejala seperti gemetar hebat, bingung, dan mengantuk berlebihan. Kombinasi hujan, baju basah, dan tubuh tanpa energi ternyata membuat tubuh lebih cepat kehilangan panas.

Dari situ aku belajar beberapa hal:

  • Simpan satu set baju kering di dalam plastik kedap air, lalu segera ganti baju basah saat berhenti.

  • Isi tenaga sebelum dan selama mendaki, jangan menunggu sampai lemas.

  • Kalau mulai menggigil hebat, jangan dipaksakan. Cari tempat berteduh, ganti baju, minum yang hangat, dan hangatkan tubuh pelan-pelan.

Pesanku untuk Kamu yang Mau Mendaki

Dari pengalamanku, aku belajar bahwa gunung tidak pernah salah, yang sering salah adalah persiapan kita. Jadi sebelum melangkah ke jalur pendakian, siapkan dirimu sebaik mungkin. Puncak boleh jadi tujuan, tapi pulang dengan selamat adalah yang terpenting.