Konten dari Pengguna

Tak Sama, Tapi Setara: Inilah Klasifikasi Tunanetra yang Perlu Diketahui Publik

Fida Rafalina

Fida Rafalina

Saya Fida Rafalina mahasiswi Psikologi dari Universitas Malikussaleh, yang aktif dalam penelitian dan kegiatan kampus. Saya berpengalaman dalam layanan konseling, desain grafis, serta terlibat di berbagai program seperti PKM dan PMW.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fida Rafalina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membimbing Siswa Sekolah Dasar. Foto hanya ilustrasi, bukan yang sebenarnya. Sumber : Fida Rafalina
zoom-in-whitePerbesar
Membimbing Siswa Sekolah Dasar. Foto hanya ilustrasi, bukan yang sebenarnya. Sumber : Fida Rafalina

Faktanya, tidak semua “tunanetra” mengalami kebutaan total, terdapat klasifikasi tingkat penglihatan. Namun, kepada banyak orang masih belum mengetahui atau memahaminya. Jarang mengetahui tentang klasifikasi tersebut, orang-orang malah sering kali melakukan sesuatu yang tak sesuai atau menganggap terlalu peduli atau mengasumsi hal-hal yang buruk dengan penyandang disabilitas penglihatan. Oleh karena itulah kenali klasifikasi tunanetra bukan hanya untuk tenaga medis atau pengajar, tetapi bagi masyarakat umum. Dengan membentuk pemahaman, orang dapat mulai menciptakan lingkungan yang benar-benar inklusif.

Secara umum, klasifikasi tunanetra berdasarkan daya penglihatannya terbagi menjadi tiga, diantaranya sebagai berikut:

a. Tunanetra ringan (defective vision/low vision); yakni mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.

b. Tunanetra setengah berat (partially sighted); yakni mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang bercetak tebal.

c. Tunanetra berat (totally blind); yakni mereka yang sama sekali tidak dapat melihat.

Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda dari anak-anak biasa. Penangan yang berbeda dibutuhkan untuk masing-masing karakteristik tersebut, yang mencakup fisik, mental, intelektual, sosial, dan emosional.

Memahami klasifikasi tunanetra membantu meningkatkan kesadaran sosial dan empati serta memberikan definisi medis. Kita bisa menjadi bagian dari masyarakat yang lebih inklusif dan ramah disabilitas dengan memberikan ruang untuk pendidikan, meningkatkan aksesibilitas, dan menumbuhkan kepedulian. Karena keterbatasan bukanlah hambatan, melainkan tantangan yang bisa dihadapi bersama—dengan mata hati yang terbuka