Konten dari Pengguna

Kenapa Kita Masih Perlu Belajar Sejarah di Era Modern?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rafa Gumilang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mencari sejarah menggunakan Teknologi & AI
zoom-in-whitePerbesar
Mencari sejarah menggunakan Teknologi & AI

Di tengah majunya teknologi dan hadirnya kecerdasan buatan (AI), banyak orang mulai bertanya untuk apa kita belajar sejarah. Sebagian menganggap sejarah itu ilmu yang ketinggalan zaman karena peran hafalan seolah bisa digantikan oleh mesin yang lebih cepat. Padahal, teknologi sejelas apa pun tidak memiliki rasa, hati nurani, maupun nilai moral seperti yang dimiliki oleh manusia.

Di era globalisasi yang serba cepat ini, kita sangat mudah kehilangan arah dan lupa akan asal-usul sendiri. Belajar sejarah hadir sebagai pegangan utama agar kita tetap kenal identitas diri dan bangga dengan bangsa sendiri. Selain itu, paham sejarah membuat otak kita lebih kritis sehingga tidak mudah termakan berita bohong atau hoaks yang beredar di media sosial.

Manfaat praktis sejarah dalam kehidupan sehari-hari adalah membantu kita memahami masalah hari ini lewat akar penyebabnya. Pengetahuan sejarah menjadi petunjuk bagi kita dalam mengambil keputusan dan menentukan arah masa depan. Jika kita mau belajar dari masa lalu, kita akan sadar bahwa banyak kejadian hari ini sebenarnya punya pola yang mirip dengan peristiwa terdahulu.

Agar bisa memahami sejarah dengan benar, kita tentu butuh landasan pengetahuan yang kuat sejak awal. Hal ini dijelaskan oleh Mohammad Hatta dalam buku Pengantar Djalan ke Ilmu dan Pengetahuan, bahwa "Tiap-tiap ilmu mesti bersendi akan pengetahuan. Pengetahuan adalah tangga yang pertama bagi ilmu untuk mentjari keterangan lebih lanjut". Artinya, sebelum bisa mengambil pelajaran sejarah, kita harus paham dulu fakta-fakta dasarnya agar tidak salah mengerti.

Banyak orang mengira belajar sejarah itu cuma urusan menghafal nama pahlawan, nama tempat, dan angka tahun. Anggapan ini sebenarnya keliru karena sejarah justru melatih kita untuk berpikir jernih dan mencari tahu sebab-akibat. Lewat sejarah, kita diajar untuk tidak langsung percaya begitu saja pada satu cerita sebelum mengecek kebenarannya dari berbagai sudut pandang.

Dalam mencari kebenaran masa lalu, para peneliti sejarah juga tidak asal menebak melainkan menggunakan metode ilmiah yang rapi. Mengenai hal ini, F.R. Ankersmit dalam buku Refleksi Tentang Sejarah (terjemahan Dick Hartoko) menjelaskan bahwa "Bila dirumuskan secara umum, maka menurut positivisme, hanya terdapat satu jalan untuk memperoleh pengetahuan yang benar dan yang dapat dipercaya-entah apa objek penelitian kita (alam hidup, alam mati, sejarah, dan sebagainya), yakni menerapkan metode-metode ilmu-ilmu eksakta". Kutipan ini mengingatkan kita bahwa cerita sejarah itu ditulis berdasarkan aturan penelitian yang ketat, bukan karangan bebas.

Selain mengasah cara berpikir, sejarah juga punya peran besar dalam membentuk watak dan moral kita. Cerita tentang perjuangan orang-orang zaman dulu memberi kita contoh nyata soal keberanian, kejujuran, dan sifat pantang menyerah. Dari kegagalan atau kesalahan orang di masa lalu, kita bisa mengambil pelajaran berharga agar tidak mengulangi lubang kesalahan yang sama.

Pada akhirnya, belajar sejarah bukan berarti kita terjebak dalam kenangan masa lalu yang membosankan. Sejarah adalah cermin tempat kita berkaca agar bisa melangkah lebih bijak hari ini dan esok hari. Menumbuhkan rasa suka pada sejarah adalah modal penting bagi siapa saja yang ingin memiliki masa depan yang jauh lebih baik.