Ekonomi Indonesia dan La Furia Roja: Menang karena Sistem

Analis Yunior - Bank Indonesia
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Rafdi Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Rafdi Aulia – Analis Yunior Bank Indonesia

"Satu gol bisa menentukan final. Tapi satu gol tidak memenangkan turnamen. Dari La Furia Roja, kita belajar bahwa kemenangan—di sepak bola maupun ekonomi—lahir dari sistem, sinergi, dan kepemimpinan."
Analogi itu terasa cocok untuk menggambarkan perjalanan Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2026, sekaligus memberi gambaran menarik tentang bagaimana Ekonomi Indonesia membutuhkan sistem yang kuat, adaptif, dan bersinergi untuk menghadapi berbagai tekanan. La Furia Roja tidak bertanding ke Amerika hanya membawa sederet nama bintang, tetapi juga sebuah sistem permainan yang matang. Perjalanan mereka pun jauh dari mulus. Setelah secara mengejutkan membuka turnamen dengan hasil imbang melawan Cabo Verde, Spanyol lalu bangkit mengalahkan Arab Saudi dan Uruguay untuk memuncaki Grup H. Di fase gugur, Austria, Portugal, Belgia, dan Prancis satu demi satu dilewati, sebelum Argentina menjadi ujian terakhir. Ferran Torres akhirnya mencetak gol kemenangan di final, tetapi gol itu lebih tepat dibaca sebagai puncak dari proses Panjang dan Kerjasama tim ketimbang aksi seorang pahlawan tunggal.
Di dalam tim itu, setiap pemain memiliki peran. Rodri menjaga keseimbangan dan menentukan tempo. Lamine Yamal menghadirkan kreativitas. Nico Williams membawa kecepatan dan keberanian menyerang ruang. Lini belakang memastikan agresivitas tidak berubah menjadi kerentanan. Ketika situasi menuntut pendekatan berbeda, pemain dari bangku cadangan siap memberi jawaban. Itulah sebabnya kemenangan Spanyol menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai cerita sepak bola, tetapi juga sebagai metafora tentang bagaimana sebuah ekonomi dijaga: dengan menggunakan instrumen yang tepat, timing yang tepat, konsisten, dan bersinergi.
Dari Lapangan Hijau ke Arena Ekonomi Indonesia
Upaya otoritas menjaga ekonomi Indonesia seperti turnamen panjang, hampir tidak pernah berjalan sesuai skenario. Tekanan dapat datang dari inflasi, gejolak nilai tukar, harga energi dan komoditas, arus modal global, ketegangan geopolitik, hingga risiko sektor keuangan. Dalam menghadapi tantangan tersebut, keberhasilan tidak cukup bergantung pada satu instrumen. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca arah permainan, menyesuaikan respons, dan memastikan seluruh kebijakan bergerak menuju tujuan yang sama.
Di sinilah peran sinergi kebijakan dan intuisi pemangku kebijakan menjadi penting. Spanyol tidak mengubah seluruh identitas permainannya hanya karena satu laga tidak berjalan mulus. Mereka memperbaiki eksekusi tanpa kehilangan sistem. Dalam ekonomi, kebijakan yang baik juga bukan sekadar keras atau longgar, melainkan proporsional, berbasis data, forward looking, dan mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan momentum pertumbuhan.
Peran Rodri dapat menjadi analogi sederhana. Ia tidak selalu mencetak gol, tetapi menentukan apakah pertandingan berada dalam kendali Spanyol atau mengikuti tempo lawan. Fungsi serupa dijalankan bank sentral dalam perekonomian. Bank Indonesia mengintegrasikan kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran sebagai kebijakan utama. Kebijakan moneter diarahkan pada inflasi yang rendah dan stabil serta nilai tukar yang terjaga. Kebijakan makroprudensial menjaga ketahanan sistem keuangan sekaligus mendorong pembiayaan yang optimal. Sementara kebijakan sistem pembayaran memastikan transaksi ekonomi berlangsung cepat, mudah, murah, aman, andal, dan semakin terintegrasi.
Stabilitas adalah Bahasa Kepercayaan
Dalam kerangka itu, stabilitas nilai tukar memiliki arti penting. Nilai tukar yang stabil bukan berarti Rupiah harus terpaku pada satu angka, tetapi bergerak secara wajar sesuai fundamental ekonomi, dengan volatilitas yang terjaga sehingga menciptakan kepastian dan rasa aman bagi masyarakat, dunia usaha, maupun investor.
Bagi dunia usaha, nilai tukar yang stabil memberi kepastian dalam menghitung biaya bahan baku, pembiayaan, dan investasi. Bagi rumah tangga, stabilitas membantu meredam tekanan harga barang impor dan menjaga daya beli. Bagi investor, nilai tukar merupakan salah satu cermin kredibilitas pengelolaan ekonomi. Karena itu, stabilitas Rupiah bukan sekadar persoalan pasar valuta asing. Ia juga menyangkut ekspektasi dan kepercayaan.
“Rupiah yang stabil adalah bahasa kepercayaan.”
Ketika kepercayaan terjaga, pelaku usaha lebih berani berekspansi, investor lebih yakin menempatkan modal, dan masyarakat tidak mudah mengambil keputusan karena kepanikan jangka pendek. Stabilitas nilai tukar pada akhirnya menjadi fondasi agar pertumbuhan ekonomi berlangsung lebih sehat dan berkelanjutan.
Ketika Kebijakan Tidak Bisa Bermain Sendiri
Namun, sebagaimana Spanyol tidak dapat hanya bergantung kepada Rodri, stabilitas perekonomian Indonesia juga tidak dapat dijaga oleh Bank Indonesia seorang diri. Di sinilah sinergi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK menjadi penting. Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan memiliki mandat berbeda, tetapi risiko ekonomi modern sering menembus batas antarsektor.
Tekanan global dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar, meningkatkan biaya pembiayaan, menekan neraca korporasi, lalu merambat ke sistem keuangan. Karena itu, koordinasi bukan sekadar bertukar informasi. Sinergi berarti seluruh pemangku kebijakan memiliki pemahaman yang sama terhadap risiko, respons yang selaras, scenario yang tepat, dan kebijakan yang efektif tanpa mengurangi efektivitas kebijakan institusi lain. Dalam sepak bola, sebuah umpan baru bernilai ketika pemain lain memahami ruang yang dituju. Dalam ekonomi pun demikian: kebijakan yang tepat akan lebih efektif ketika transmisinya didukung seluruh sistem.
Hal yang sama berlaku di dalam Bank Indonesia. Kebijakan utama berupa moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran akan semakin optimal apabila ditopang kebijakan pendukung. Kebijakan ekonomi dan keuangan daerah membantu menghubungkan kebijakan nasional dengan karakter ekonomi wilayah. Kebijakan internasional memperkuat kerja sama dan ketahanan menghadapi rambatan global. Kebijakan inklusi memperluas akses terhadap pembiayaan dan layanan keuangan. Sementara pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing memperkuat likuiditas, pembentukan harga, instrumen lindung nilai, serta transmisi kebijakan moneter. Kerangka resmi Bauran Kebijakan Bank Indonesia memang menempatkan kebijakan utama tersebut dalam satu integrasi dinamis yang diperkuat oleh berbagai kebijakan pendukung.
Artinya, memiliki banyak instrumen belum cukup. Tantangannya adalah memastikan seluruh instrumen saling menguatkan. Kebijakan pro-stability perlu berjalan seiring dengan kebijakan pro-growth. Stabilitas harus membuka ruang bagi investasi, pembiayaan produktif, inovasi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing. Ekonomi yang hanya stabil tetapi kehilangan momentum pertumbuhan sama tidak idealnya dengan tim yang hanya bertahan tanpa menciptakan peluang.
Ferran Torres memberi satu ilustrasi menarik. Ia menjadi penentu ketika Spanyol membutuhkan solusi berbeda. Dalam ekonomi, fleksibilitas seperti ini dapat dianalogikan dengan policy space. Cadangan devisa yang memadai, ruang fiskal yang sehat, sektor keuangan yang kuat, pasar keuangan yang dalam, dan koordinasi kelembagaan yang teruji menyediakan lebih banyak pilihan ketika tekanan berubah.
Pada akhirnya, gol Ferran Torres memang menjadi klimaks. Namun Spanyol menjadi juara bukan karena satu sentuhan pada menit ke-106. Gelar itu dibangun sejak laga pertama: melalui disiplin, adaptasi, kedalaman strategi, dan keyakinan bahwa setiap pemain adalah bagian dari sistem yang lebih besar.
Banyak Instrumen, Satu Tujuan
Pelajaran yang sama berlaku bagi pengelolaan ekonomi Indonesia. Stabilitas nilai tukar merupakan fondasi penting untuk menjaga inflasi, mendukung pertumbuhan, dan memperkuat kepercayaan pemangku kepentingan. Efektivitasnya semakin besar ketika kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran diperkuat oleh kebijakan ekonomi dan keuangan daerah, kebijakan internasional, inklusi keuangan, dan pendalaman pasar keuangan. Namun seluruh instrumen itu baru mencapai daya optimal ketika ditopang sinergi Pemerintah, KSSK, pemerintah daerah, industri keuangan, pelaku pasar, dunia usaha, akademisi, UMKM, dan masyarakat.
Di titik inilah peran Gubernur Bank Sentral menjadi sangat krusial. Kepemimpinannya tidak berhenti pada memastikan instrumen kebijakan berjalan sesuai mandat, tetapi juga menjadi salah satu pengorkestra utama yang memastikan keseluruhan ekosistem sinergi dan kolaborasi dapat bergerak dalam ritme yang selaras. Dalam ekonomi yang makin terintegrasi, kepemimpinan bank sentral membutuhkan kemampuan membaca perubahan permainan, menjaga kredibilitas kebijakan, membangun kepercayaan, serta menjembatani berbagai perspektif pemangku kebijakan menuju tujuan yang sama.
Seperti pelatih yang tidak ikut mencetak gol tetapi menentukan bagaimana seluruh talenta di lapangan dapat berfungsi sebagai satu tim, Gubernur Bank Sentral harus memastikan bahwa seluruh instrumen kebijakan tidak berjalan sendiri-sendiri. Karena pada akhirnya, tantangan terbesar bukanlah memiliki sebanyak mungkin instrumen kebijakan, melainkan memastikan semuanya dimainkan pada waktu yang tepat, dalam ritme yang tepat, memiliki tujuan yang sama dan yang lebih penting lagi didukung oleh seluruh pemangku kebijakan.
Menang Bersama karena Sistem
Spanyol mengangkat trofi karena para pemainnya percaya pada sistem. Perekonomian juga membutuhkan fondasi serupa: kebijakan yang kredibel, institusi yang kuat, sinergi dan kolaborasi yang solid, dan kepemimpinan yang mampu menyatukan seluruh ekosistem.
Sebab kemenangan besar tidak pernah lahir dari satu pemain. Ia lahir ketika ada kepemimpinan yang mampu membuat seluruh tim percaya, bergerak dalam satu ritme, dan menang bersama.
