Peran Ejaan dan Tanda Baca dalam Meningkatkan Ketepatan dan Kejelasan Tulisan

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah AR Fachruddin
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rafel Bani Abdilah (Rapel) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahasa tulis memiliki karakteristik yang berbeda dari bahasa lisan, salah satunya adalah ketergantungannya pada struktur, ejaan, dan tanda baca untuk menyampaikan makna secara jelas dan tepat. Dalam komunikasi lisan, intonasi, jeda, dan ekspresi wajah dapat membantu pemahaman, tetapi dalam bahasa tulis, hal-hal tersebut digantikan oleh penggunaan tanda baca dan penerapan ejaan yang sesuai. Oleh karena itu, ejaan dan tanda baca tidak sekadar aturan tata bahasa yang kaku, melainkan instrumen vital dalam membangun pemahaman dan menghindari ambiguitas dalam teks tertulis.
Ejaan berperan penting dalam memastikan bahwa kata-kata yang ditulis dapat dibaca dan dipahami secara seragam oleh semua pembaca. Sementara itu, tanda baca berfungsi untuk memberikan struktur kalimat, membatasi ide, serta membantu pembaca menafsirkan maksud penulis secara tepat. Tanpa penggunaan ejaan dan tanda baca yang benar, makna sebuah kalimat dapat berubah, menimbulkan kesalahpahaman, bahkan menyebabkan kegagalan komunikasi.
Kajian yang dilakukan oleh Mayawati, Santoso, dan Sakti (2024) pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Demak Ijo menunjukkan bahwa kesalahan dalam penggunaan tanda baca dan ejaan sering kali terjadi karena kurangnya pemahaman siswa terhadap fungsi dan penerapannya. Kesalahan umum yang ditemukan mencakup penempatan huruf kapital yang tidak sesuai, penggunaan tanda titik dan koma yang tidak tepat, serta penulisan kata yang tidak sesuai dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia. Temuan ini mengindikasikan bahwa masalah dasar dalam pendidikan bahasa tulis perlu mendapatkan perhatian lebih, terutama dalam tahap pembelajaran awal, karena kesalahan yang dibiarkan berlarut akan terus terbawa hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Pentingnya ejaan dan tanda baca tidak hanya relevan di tingkat pendidikan dasar, tetapi juga sangat signifikan dalam karya ilmiah. Penelitian oleh Kasdam dan Sabban (2024) mengungkapkan bahwa bahkan dalam jurnal akademik, yang seharusnya mengedepankan akurasi dan presisi, kesalahan ejaan dan tanda baca masih sering dijumpai. Dalam kajiannya terhadap Jurnal Paradigma Vol. 10 No. 1 Tahun 2024, ditemukan berbagai bentuk kesalahan seperti penggunaan tanda koma yang tidak tepat dalam memisahkan anak kalimat, penghilangan tanda titik pada akhir kalimat, dan penulisan kata depan yang salah kaprah. Kesalahan-kesalahan ini dapat menurunkan kualitas tulisan ilmiah dan membuat pembaca kesulitan memahami isi tulisan secara utuh.
Lebih dari itu, masalah dalam penggunaan ejaan dan tanda baca juga berkaitan erat dengan kemampuan berpikir logis dan sistematis seseorang dalam menyampaikan ide. Dalam kegiatan menulis, penggunaan ejaan dan tanda baca mencerminkan ketelitian, kerapian berpikir, dan sikap menghargai pembaca. Sebaliknya, kesalahan berulang dalam aspek ini dapat menggambarkan kurangnya kesadaran linguistik atau rendahnya literasi dasar.
Menanggapi hal ini, Zebua (2022) dalam penelitiannya menawarkan pendekatan pembelajaran kooperatif model jigsaw sebagai solusi untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca. Dalam implementasinya, model ini mendorong siswa untuk saling berbagi pemahaman dan tanggung jawab terhadap materi, termasuk kaidah kebahasaan. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif dalam meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya ketepatan penulisan serta memupuk kolaborasi aktif dalam memahami struktur bahasa tulis. Artinya, penguatan kemampuan ejaan dan tanda baca tidak cukup dilakukan dengan hafalan atau teori semata, tetapi harus melalui praktik kolaboratif yang kontekstual dan menyenangkan.
Masalah ejaan dan tanda baca juga berkaitan erat dengan perkembangan teknologi dan budaya digital saat ini. Banyak penulis muda dan pelajar yang terbiasa menggunakan bahasa digital dengan struktur yang longgar dan tidak sesuai kaidah baku. Meskipun bentuk komunikasi digital seperti chat atau media sosial bersifat informal, kebiasaan ini sering terbawa ke ranah formal, termasuk dalam penulisan akademik dan administrasi. Fenomena ini menjadi tantangan baru dalam dunia pendidikan, di mana guru dan dosen harus mampu menanamkan disiplin berbahasa yang sesuai konteks.
Untuk itu, penguatan pemahaman terhadap ejaan dan tanda baca harus dilakukan secara berkelanjutan dan menyeluruh. Dalam konteks pembelajaran, guru dapat memberikan latihan menulis yang disertai refleksi dan diskusi mengenai penggunaan tanda baca dan ejaan. Sementara itu, di lingkungan akademik, proses editing dan review harus lebih ketat dalam memeriksa aspek kebahasaan. Tidak hanya isi dan struktur logika tulisan yang dikaji, tetapi juga ketepatan teknis dalam penulisan.
Lebih lanjut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebagai rujukan resmi dalam penggunaan bahasa Indonesia tulis. Sayangnya, belum semua lembaga pendidikan dan penerbit menjadikan dokumen ini sebagai acuan utama dalam pelatihan menulis. Diperlukan kebijakan yang lebih tegas dan sistematis agar standar ini benar-benar menjadi dasar dalam menilai kualitas tulisan, baik di tingkat sekolah, perguruan tinggi, maupun dalam dunia kerja.
Dari berbagai kajian dan pengalaman pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa peran ejaan dan tanda baca sangat fundamental dalam menjaga kejelasan dan ketepatan bahasa tulis. Mereka bukan sekadar pelengkap estetika tulisan, melainkan fondasi utama dalam menyampaikan ide, membangun argumen, dan menjaga kohesi serta koherensi wacana. Dalam dunia yang semakin bergantung pada teks — baik cetak maupun digital — kemampuan menulis dengan benar, rapi, dan sistematis menjadi indikator literasi yang tidak bisa ditawar.
Kesadaran akan pentingnya ejaan dan tanda baca harus ditanamkan sejak dini dan terus diasah sepanjang jenjang pendidikan. Penulis yang baik bukan hanya mereka yang mampu menuangkan gagasan besar, tetapi juga yang mampu meramu kata-kata dengan ketepatan dan ketelitian. Dalam hal ini, ejaan dan tanda baca menjadi senjata utama agar tulisan dapat berbicara dengan jelas, efektif, dan meyakinkan kepada pembaca dari berbagai latar belakang.
Daftar Pustaka
Ajra, S. M., Aeni, E. S., & Wuryani, W. (2023). Analisis Kesalahan Penggunaan Ejaan dan Tanda Baca pada Kumpulan Cerpen Karya Siswa Kelas IX-B. Parole: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 6(5), 413-424.
Kasdam, F., & Sabban, M. M. (2024). Analisis Kesalahan Penggunaan Ejaan dan Tanda Baca dalam Jurnal Paradigma Vol. 10, No 1, Tahun 2024 Universitas Banda Naira. Paradigma: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora, 10(2), 47–57.
Mayawati, C., Santoso, G. B., & Sakti, B. P. (2024). Bentuk-bentuk Kesalahan Tanda Baca dan Ejaan dalam Karangan Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Demak Ijo. Edukasi Elita: Jurnal Inovasi Pendidikan, 1(4), 269–282.
Ningrum, I. S. E., Purnami, L. E., & Lestari, A. T. (2021). Analisis Kesalahan Ejaan dan Tanda Baca pada Media Sosial Instagram. Jurnal Komposisi, 6(1), 20-28.
Zebua, T. (2022). Penerapan Model Jigsaw untuk Meningkatkan Kemampuan Menggunakan Ejaan dan Tanda Baca dalam Menulis Pengalaman Pribadi. Educativo: Jurnal Pendidikan, 1(1), 320–325.
