Konten dari Pengguna

Deepfake di Indonesia: Wajah Kita Bisa Dipalsukan, Tapi Apakah Kita Sudah Siap?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafi Badru Ahlam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi AI Generated
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi AI Generated

Bayangkan Anda membuka WhatsApp. Sebuah video masuk dari nomor tak dikenal. Di dalamnya, wajah seorang menteri persis seperti di berita sedang mengumumkan program bantuan dana. Suaranya sama. Gerak bibirnya selaras. Anda percaya. Anda klik tautan yang disertakan. Dan dalam hitungan detik, Anda menjadi korban penipuan.

Ini bukan adegan film. Ini sudah terjadi di Indonesia. Sepanjang 2026, sederet pejabat negara menjadi korban pencatutan wajah dan suara melalui teknologi deepfake. Mulai dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Pendidikan Abdul Mu'ti, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, hingga Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dalam setiap kasus, video palsu dibuat dengan probabilitas rekayasa AI mencapai 99 persen lebih. Dan yang paling mengkhawatirkan: ribuan orang sudah tertipu.

Bukan lagi hoaks biasa

Kita sudah lama akrab dengan hoaks. Tapi deepfake adalah spesies baru yang jauh lebih berbahaya. Hoaks biasa bisa kita cek faktanya. Kita bisa membandingkan dengan sumber resmi, mencari klarifikasi, atau membaca bantahan. Tapi bagaimana kita mendeteksi video yang terlihat dan terdengar persis seperti aslinya?

Dalam ilmu komunikasi, kita mengenal konsep source credibility seberapa besar kita mempercayai sumber pesan. Teori ini dikembangkan oleh Hovland, Janis, dan Kelley pada 1953, dan hingga hari ini menjadi fondasi bagaimana kita menilai kredibilitas komunikator. Dua elemen utamanya adalah expertise (keahlian) dan trustworthiness (kejujuran). Deepfake menghancurkan keduanya sekaligus. Ia membuat kita tidak bisa lagi mempercayai apa yang kita lihat dan dengar, bahkan ketika sumbernya adalah wajah pejabat yang kita kenal.

OJK mencatat 1.379 laporan penipuan yang terindikasi menggunakan AI hingga Juni 2026. Modusnya beragam: bantuan dana palsu, investasi bodong, hingga pemerasan. Yang menjadi korban bukan hanya orang awam, tetapi juga kalangan terdidik. Seorang mahasiswi di Solo menjadi korban konten pornografi berbasis AI yang dibuat mantan kekasihnya. Ia mengalami depresi berat, tidak bisa tidur, dan keluarganya sempat ditawari damai oleh pelaku.

Ketika wajah menjadi senjata

Deepfake menyerang sesuatu yang paling personal dari diri kita: wajah dan suara. Dalam komunikasi nonverbal, wajah adalah media paling kuat untuk menyampaikan emosi, niat, dan identitas. Paul Ekman, psikolog yang terkenal dengan penelitian ekspresi wajah, menunjukkan bahwa wajah adalah "kompas emosional" yang memandu interaksi sosial kita. Ketika wajah bisa dipalsukan, kompas itu kehilangan arah.

Dalam UU Perlindungan Data Pribadi, wajah termasuk data biometrik yang harus dilindungi. Tapi regulasi selalu kalah cepat dari teknologi. Ketika sebuah foto yang kita unggah ke media sosial bisa diubah menjadi video palsu dalam hitungan menit, pertanyaannya bukan lagi apakah data kita aman, melainkan siapa yang akan menyalahgunakannya.

Yang lebih mengerikan: deepfake tidak hanya menyerang individu. Ia menyerang fondasi kepercayaan publik. Jika kita tidak lagi bisa mempercayai apa yang kita lihat dan dengar, bagaimana kita bisa membuat keputusan politik yang rasional? Bagaimana kita bisa memverifikasi kebijakan publik? Bagaimana kita bisa membedakan pemimpin yang jujur dari yang palsu? Di sinilah deepfake menjadi ancaman eksistensial bagi demokrasi.

Siapa yang harus bertanggung jawab?

Pemerintah sudah bergerak. Kementerian Komunikasi dan Digital memeriksa Meta dan Google atas dugaan pelanggaran perlindungan pengguna. MK juga baru saja memutuskan bahwa pemerintah harus memberi alasan tertulis sebelum memblokir konten. Tapi regulasi saja tidak cukup. Platform harus bertanggung jawab untuk mendeteksi dan melabeli konten deepfake secara proaktif, bukan menunggu korban melapor.

Dalam kerangka Crisis Communication, respons terhadap deepfake tidak bisa dilakukan dengan cara lama. Menunggu klarifikasi resmi keluar memakan waktu, dan dalam hitungan menit, video palsu sudah menyebar ke ribuan grup WhatsApp. Diperlukan protokol komunikasi krisis yang cepat, transparan, dan terkoordinasi bukan sekadar pernyataan pers yang keluar berhari-hari kemudian.

Dan kita, sebagai pengguna, tidak bisa lagi hanya menjadi konsumen pasif. Literasi digital harus naik level. Bukan hanya "cek fakta," tetapi juga "cek visual." Ajarkan orang untuk curiga pada video yang terlalu bagus, terlalu dramatis, atau terlalu menguntungkan untuk dipercaya. Ajarkan mereka untuk memverifikasi melalui saluran resmi.

Penutup

Deepfake adalah cermin gelap dari kemajuan teknologi kita. Ia menunjukkan bahwa inovasi tanpa etika dan literasi adalah bom waktu. Wajah kita bisa dipalsukan. Suara kita bisa ditiru. Tapi kesadaran kritis kita itu satu-satunya yang tidak bisa direkayasa AI.

Selama kita masih percaya pada apa yang kita lihat tanpa bertanya, selama itu pula deepfake akan terus memangsa. Dan selama itu pula, komunikasi manusia yang dibangun di atas kepercayaan akan terus terkikis.