Konten dari Pengguna

TikTok Jadi Sumber Berita: Kita Merasa Tahu, Padahal Cuma Lihat Potongannya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafi Badru Ahlam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi AI Generated
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi AI Generated

Pagi itu saya membuka WhatsApp. Sebuah video berdurasi 47 detik masuk ke grup keluarga. Isinya potongan ceramah seorang tokoh agama yang sedang membahas isu sensitif. Di kolom komentar, puluhan orang sudah bereaksi. Ada yang marah, ada yang menyimpulkan, ada yang membagikannya ke grup lain. Tidak ada satu pun yang bertanya: apa kalimat sebelum dan sesudah potongan itu?

Fenomena ini bukan lagi kasus sporadis. Ia telah menjadi cara kita mengonsumsi informasi sehari-hari. Digital News Report 2026 dari Reuters Institute mencatat 64 persen masyarakat Indonesia mendapatkan berita melalui platform media sosial dan pesan, dengan penggunaan TikTok untuk berita telah melampaui 40 persen. Indonesia bahkan disebut sebagai salah satu negara dengan penggunaan TikTok untuk berita tertinggi di dunia, bersama Malaysia dan Peru. Survei APJII 2026 menegaskan posisi TikTok sebagai platform media sosial paling banyak diakses di Indonesia, dengan penetrasi internet mencapai 81,72 persen atau sekitar 235 juta pengguna.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Mereka menandai pergeseran fundamental dalam cara kita memahami dunia. Berita tidak lagi dicari; ia datang sendiri. Ia muncul di lini masa, direkomendasikan algoritma, dibagikan teman. Kita tidak lagi membuka portal berita sebagai "koran pagi", kita membuka TikTok, dan berita datang kepada kita.

Masalahnya bukan pada mediumnya. Masalahnya pada apa yang hilang ketika berita dikemas dalam video berdurasi kurang dari satu menit.

Apa yang hilang dalam 60 detik

Reuters Institute secara eksplisit menyoroti persoalan ini: video pendek memiliki keterbatasan ruang untuk menjelaskan konteks, kronologi, dan berbagai sudut pandang sebuah peristiwa. Informasi yang kompleks dipadatkan menjadi beberapa detik. Kita hanya memperoleh bagian tertentu dari sebuah berita, potongan yang sudah dipilih entah oleh kreator, algoritma, atau editor yang mengejar keterlibatan.

Marshall McLuhan pernah menulis bahwa medium adalah pesannya. Artinya, bukan hanya konten yang membentuk pemahaman kita, tetapi bentuk medium itu sendiri. Ketika mediumnya adalah video pendek yang dioptimalkan untuk menahan perhatian selama tiga detik pertama, maka informasi yang bertahan adalah informasi yang bisa memicu emosi dengan cepat. Bukan informasi yang membutuhkan penalaran, verifikasi, atau konteks. Sebuah studi bertajuk The Compression Crisis yang diterbitkan di Zenodo pada 2026 menemukan bahwa format video di bawah 60 detik secara sistematis mengikis kemampuan audiens untuk memahami konteks dan implikasi dari informasi yang mereka konsumsi.

Kasus nyata yang sudah terjadi

Kita bisa melihat bagaimana ini bekerja dalam kasus nyata. Kasus viralnya potongan ceramah Jusuf Kalla tentang isu SARA adalah contoh klasik. Video aslinya berdurasi 43 menit, tetapi yang beredar adalah potongan singkat yang menghilangkan konteks pernyataan. Polisi bahkan mengindikasikan adanya unsur kesengajaan dalam pemotongan tersebut. Ribuan orang bereaksi, berkomentar, menyimpulkan semuanya berdasarkan fragmen. Ketika klarifikasi datang, perhatian sudah berpindah ke konten viral berikutnya.

Pola ini berulang. Potongan viral, klarifikasi kalah cepat, kebingungan publik meluas. Dan yang paling berbahaya bukanlah kebodohan, melainkan rasa tahu yang palsu. Orang yang menonton video 47 detik merasa telah memahami isu yang sebenarnya kompleks. Ia tidak merasa perlu mencari tahu lebih lanjut karena otaknya sudah memberi sinyal "ini sudah jelas." Akibatnya, diskusi publik tentang isu-isu penting dari politik hingga kesehatan dipenuhi oleh orang-orang yang yakin dengan kesimpulan yang dibangun di atas informasi setengah matang.

Kenapa ini terjadi?

Ini bukan kebetulan. Ini adalah struktur. Algoritma platform mengutamakan konten dengan interaksi tinggi, bukan yang paling akurat. Kreator konten terdorong mengejar engagement dan sponsor, bukan mengikuti standar jurnalistik. Batas antara jurnalisme dan konten digital pun semakin kabur. Informasi tidak lagi hanya diproduksi oleh jurnalis, tetapi juga oleh influencer yang mengemas isu publik menjadi konten singkat yang menarik perhatian. Isu-isu kompleks konflik sosial, kebijakan publik, krisis ekonomi disederhanakan menjadi soundbite yang memicu reaksi, bukan pemahaman.

Cultivation Theory dari George Gerbner memberi kita kerangka untuk memahami ini: paparan terus-menerus terhadap pola konten tertentu membentuk persepsi kita tentang realitas. Ketika pola itu adalah potongan-potongan dramatis tanpa konteks, realitas yang terbentuk juga terfragmentasi. Kita merasa lebih terinformasi dari sebelumnya, padahal kita mungkin hanya lebih terhibur.

Tentu, kita tidak bisa menyalahkan TikTok sepenuhnya. Platform ini juga telah mendemokratisasi informasi, memberi ruang bagi suara-suara yang selama ini terpinggirkan, dan mempercepat penyebaran isu-isu penting. Namun, demokratisasi tanpa literasi adalah bom waktu. Skor Indeks Masyarakat Digital Indonesia untuk pilar literasi digital pada 2025 berada di kisaran 44–49 poin, kategori sedang dan belum merata. Kita punya akses luar biasa, tetapi belum punya perangkat kognitif untuk mengelolanya.

Siapa yang harus bertanggung jawab?

Apakah semua salah pengguna? Tidak sepenuhnya. Platform memiliki tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan. Algoritma yang menentukan apa yang dilihat jutaan orang setiap hari tidak boleh menjadi kotak hitam yang tidak bisa diaudit. Transparansi algoritma bukan lagi kemewahan; ia adalah kebutuhan demokratis.

Regulator juga perlu bergerak lebih cepat. Literasi media tidak bisa hanya menjadi program sukarela atau kampanye sesekali. Ia harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan sejak dini, bukan sebagai mata pelajaran tambahan, tetapi sebagai keterampilan dasar yang setara dengan membaca dan berhitung. Di era di mana informasi datang tanpa diminta, kemampuan memilah dan memverifikasi adalah keterampilan bertahan hidup.

Dan yang tidak kalah penting, jurnalisme harus beradaptasi tanpa mengorbankan kedalaman. Media perlu hadir di platform tempat audiens berada, tetapi dengan cara yang tidak sekadar mengikuti logika viralitas. Format pendek bisa menjadi pintu masuk, bukan pintu keluar. Setelah video 60 detik, harus ada tautan ke penjelasan yang lebih lengkap. Bukan sebagai "konten tambahan," tetapi sebagai bagian integral dari pengalaman berita.

Penutup

Kembali ke video 47 detik di grup keluarga saya. Saya tidak tahu apakah pengirimnya pernah menonton ceramah lengkapnya. Saya tidak tahu apakah ia tahu bahwa konteksnya telah diubah. Yang saya tahu: ia merasa sudah tahu. Dan itulah masalahnya.

Kita tidak kekurangan informasi. Kita kekurangan cara untuk memahami informasi itu. Dan selama kita terus merasa tahu hanya karena telah melihat potongannya, kita akan terus menjadi masyarakat yang terhubung tetapi tidak benar-benar terinformasi.