Konten dari Pengguna

Cinta Pertama Seorang Anak Lelaki

Rafi Fairuz

Rafi Fairuz

Journalist Student at State Polytechnic of Jakarta

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafi Fairuz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto seorang ibu yang sedang gembira (Sumber Foto : Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Foto seorang ibu yang sedang gembira (Sumber Foto : Dok. Pribadi)

Sosok ibu bagaikan cinta pertama bagi buah hati laki-laki nya. Disaat masih di dalam kandungan, ibulah yang selalu menemani calon bayi kecilnya, mengelusnya, mengajaknya berbicara, dan selalu menjaganya.

Susah tidur, mual, dan kesakitan rasanya tak menjadi halangan demi menjaga buah hati kecilnya agar terlahir dengan selamat ke dunia ini. Seorang ibu akan melakukan apapun agar anaknya dapat hidup dengan bahagia. Tetesan keringat yang menetes seraya berteriak saat melahirkan menjadi saksi bagaimana kerasnya pengorbanan ibu. Isak tangis suara bayi yang keluar pun menjadi kegembiraan tersendiri dan sebagai pengobat diri akan sakitnya proses melahirkan.

Perjuangan sang ibu tidak berhenti sampai situ. Bagaikan butiran pasir di dasar laut, perjuangannya takkan pernah bisa terhitung oleh ruang dan waktu. Ibu bagaikan sosok malaikat tanpa sayap yang turun ke bumi, selalu menyinari kehidupan buah hatinya tanpa kenal pamrih. Seorang anak yang senantiasa digendongnya menjadi saksi hidup bagaimana pengorbanan sang ibu merawatnya hingga besar kini.

Bahkan, sebelum anaknya mengenal apa arti cinta sesungguhnya, ia terlebih dahulu sudah jatuh cinta dengan sosok ibu yang senantiasa ada tiap waktu. Ketika sakit, ibu adalah sosok yang rela menemani dan memotong waktu tidurnya demi menjaga anaknya. Memberikan obat di tengah malam, menyuapi ketika tubuh tak mampu bergerak banyak, dan mendoakan anaknya agar selalu sehat dalam lindungan Yang Maha Kuasa.

Tak jarang pula ia berbohong pada anaknya, ia rela tidak makan dan memberikan porsi makannya untuk sang anak sambill seraya berkata “makan saja, ibu sudah makan/sudah kenyang.’ Ya memang, kebahagiaan utama ibu adalah ketika melihatnya dapat tersenyum bahagia dan makan dengan lahap.

Perjuangan ibu yang selalu bangun sebelum azan Subuh berkumandang demi menyiapkan segelintir sarapan pagi demi keluarga kecilnya. Lalu melanjutkannya dengan membersihkan rumah dan tak lupa bekerja demi membutuhi kebutuhan keluarga tak membuat ibu lelah. Bahkan setelah melewati rutinitas panjangnya ibu tetap kembali menyiapkan makan malam dan bercanda ria dengan anak-anaknya.

Seorang ibu yang sedang bermain dengan buah hatinya (Sumber Foto : Pixabay.com)

Alangkah beratnya menjadi seorang ibu mengurus segala hal dalam rumah tangga, bahkan ketika buah hatinya sudah besar, sosok ibulah yang masih setia menemani dan menjadi teman keluh kesah bagi anaknya. Walaupun matanya yang sudah sayu dan kerutan di wajahnya yang menjadi bukti besarnya pengorbanannya, ia tetap mendengarkan curahan hati dan keluh kesah ketika anaknya dalam kesusahan.

Walaupun terkadang anaknya selalu membuatnya kesal dan jengkel akan perbuatannya. Ibu tak pernah mempunyai dendam terpendam sedikitpun kepada anaknya. Dalam doanya di sepertiga malam, ia senantiasa mendoakan anaknya yang nakal ini menjadi anak yang berhasil dan berguna bagi nusa bangsa dan agama.

Kini anaknya yang kian sudah bertumbuh dewasa seakan tidak pernah lupa dengan perkataan sang ibu “Jadilah orang yang berhasil di dunia ini, jangan sombong dan angkuh, sesungguhnya semua itu hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa dan doa ibu selalu menyertai di mana kau berada.” Ya, seburuk apapun kita, ibu selalu senantiasa mencintai sepenuh hati dan mendoakan anaknya untuk menjadi orang yang berhasil di kemudian hari.

Sosok ibu takkan pernah terganti sampai kapanpun, kasihnya bagaikan pasir di lautan yang tiada habisnya dan perjuangannya bagaikan pasir di gurun yang tak terhitung jumlahnya. Tidak ada seorang pun yang mampu membalas kasih sayang, cinta, dan doanya yang selalu dipanjatkan untuk anaknya.

Terima kasih ibu, atas semua hal yang telah kau berikan dan kau ajarkan. Raut wajahmu dan keringat yang menetes adalah saksi bisu bagaimana perjuanganmu yang tiada tara. Maafkan anakmu yang masih sering membuat luka di hati dan dan menyusahkanmu setiap hari. Kasihmu takkan pernah terganti dan hadirmu di hidup ini, takkan pernah terlupakan.

(Rafi Fairuz Darmawan/Politeknik Negeri Jakarta)