Konten dari Pengguna

Rivalitas Suporter Sepak Bola Menguji Persatuan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafi Irsyad Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suporter Arema FC melakukan kerusuhan. (Sumber: kumparan.com)
zoom-in-whitePerbesar
Suporter Arema FC melakukan kerusuhan. (Sumber: kumparan.com)

Sorakan dari Tribun, atau Panggilan untuk Bersatu?

Buat banyak orang di Indonesia, sepak bola bukan cuma olahraga, tapi bagian dari hidup. Nama-nama seperti Persib, Persija, Persebaya, atau Arema punya tempat khusus di hati para pendukungnya. Sayangnya, semangat mendukung klub sering kali berubah jadi hal yang panas. Bukan sekadar sorak-sorai di tribun, tapi bisa melebar ke konflik, adu mulut, bahkan kekerasan.

Kita mungkin lupa, kalau di balik warna jersey yang berbeda, semua suporter tetap berdiri di tanah yang sama. Kita satu bangsa, satu tanah air. Maka muncul pertanyaan sederhana: di mana letak nilai Pancasila ketika semangat mendukung berubah jadi ajang saling serang?

Ketika Mendukung yang Terlalu Fanatisme

Dukung mendukung itu sah-sah saja. Bahkan menyemarakkan pertandingan. Tapi belakangan ini, gesekan antara suporter makin sering terdengar. Media sosial penuh komentar tajam, tribun kadang berubah jadi tempat saling sindir, bahkan bentrok. Bukan hanya soal klub lagi, tapi sudah jadi urusan harga diri dan ego kelompok.

Padahal, semangat olahraga seharusnya membangun, bukan memecah. Kalau sampai ada korban jiwa atau kekerasan yang berulang, ini bukan lagi soal fanatisme, tapi soal hilangnya kendali.

Pancasila Masih Diingat?

Di sekolah dulu kita diajari sila ketiga: Persatuan Indonesia. Tapi dalam praktik, kita sering lupa menerapkannya. Apa salahnya beda dukungan? Apa harus saling ejek karena beda klub? Kalau semangat Pancasila benar-benar kita hayati, maka rivalitas akan tetap hangat tanpa harus menyakiti.

Cinta pada klub boleh, tapi jangan sampai menutup mata pada nilai kemanusiaan. Di lapangan kita mungkin lawan, tapi di kehidupan kita tetap saudara sebangsa.

Suporter Seharusnya Bisa Jadi Simbol Perdamaian

Bukan cuma cerita buruk, ada juga banyak contoh baik dari dunia suporter. Beberapa komunitas pernah bergandengan tangan dalam aksi damai. Ada yang saling bantu saat musibah, ada yang datang ke kota rival hanya untuk menyampaikan simpati. Di situlah nilai Pancasila muncul, tanpa harus diumumkan lewat pidato.

Ternyata, Masih banyak suporter yang sadar kalau damai itu jauh lebih kuat dari sekadar teriak-teriak di tribun.

Sepak Bola dan Pancasila Bisa Jalan Bareng

Sepak bola punya kekuatan besar untuk menyatukan. Kita pernah bangga ketika timnas berlaga, semua dukungan bersatu. Artinya, kita bisa kok menjaga semangat kebersamaan, asalkan kita mau.

Yang dibutuhkan adalah cara pandang yang lebih dewasa. Bahwa jadi suporter itu bukan cuma soal klub, tapi soal menjaga nama baik, menjaga sesama, dan menghargai perbedaan.

Dari Stadion, Untuk Bangsa

Mendukung klub kesayangan itu hak semua orang. Tapi jangan sampai hak itu berubah jadi celah untuk membenci. Sepak bola harus jadi ajang yang mempersatukan, bukan memecah. Kalau kamu benar-benar cinta klubmu, buktikan dengan sikap yang dewasa dan sportif.

Mari bawa kembali nilai-nilai Pancasila ke tribun, ke media sosial, dan ke setiap ruang perbincangan kita. Karena pada akhirnya, kemenangan paling besar bukan soal skor akhir, tapi soal bagaimana kita menjaga persaudaraan sebagai warga satu bangsa.