Konten dari Pengguna

Data Banyak, Keputusan Lambat: Mengapa Butuh Sistem Informasi Manajemen?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari AHMAD RAFI PASHA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sistem Informasi Manajemen membantu mengubah data menjadi informasi bernilai untuk mendukung keputusan bisnis yang lebih cepat dan tepat.

Ilustrasi Data yang melimpah membutuhkan sistem yang tepat agar dapat berubah menjadi informasi dan keputusan bisnis yang bernilai. Dokumentasi. Foto sutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Data yang melimpah membutuhkan sistem yang tepat agar dapat berubah menjadi informasi dan keputusan bisnis yang bernilai. Dokumentasi. Foto sutterstock

Di era digital seperti sekarang, perusahaan hampir tidak pernah kekurangan data. Setiap transaksi, pencarian produk, interaksi dengan pelanggan, stok barang, sampai aktivitas karyawan bisa menghasilkan data. Masalahnya justru muncul ketika data yang dimiliki perusahaan semakin banyak, tetapi perusahaan tidak mampu mengubahnya menjadi informasi yang benar-benar berguna.

Data yang menumpuk tidak otomatis membuat perusahaan menjadi lebih pintar. Kalau tidak ada sistem yang mampu mengolah dan menyajikan data dengan baik, data hanya akan menjadi kumpulan angka yang membutuhkan banyak waktu untuk dipahami. Dalam kondisi seperti inilah Sistem Informasi Manajemen (SIM) menjadi penting. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dari 69,21 persen pada 2023. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat di ruang digital semakin besar.

Bagi perusahaan, semakin banyak aktivitas digital juga berarti semakin banyak data yang bisa dikumpulkan. Perusahaan dapat mengetahui produk yang paling banyak dicari, waktu pembelian, karakteristik pelanggan, perkembangan penjualan, sampai kondisi persediaan. Namun, banyaknya data juga bisa menjadi masalah jika setiap bagian perusahaan menyimpan dan mengolah data dengan cara yang berbeda-beda.

Bayangkan sebuah perusahaan memiliki data penjualan di bagian pemasaran, data stok di gudang, data pelanggan di layanan konsumen, dan laporan keuangan di bagian akuntansi. Sebenarnya, semua data tersebut saling berhubungan. Namun, jika sistem yang digunakan tidak terintegrasi, manajer bisa saja membutuhkan waktu berhari-hari hanya untuk mendapatkan gambaran kondisi bisnis secara keseluruhan. Di sinilah SIM berperan. Secara sederhana, SIM bukan hanya tentang perangkat lunak atau komputer, tetapi sebuah sistem yang menghubungkan manusia, prosedur, data, dan teknologi untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan manajemen dalam melakukan perencanaan, pengawasan, dan pengambilan keputusan.

Jadi, masalah perusahaan saat ini bukan lagi “apakah kita punya data?”, tetapi “apakah kita bisa mengambil keputusan dari data tersebut?”

Pertanyaan ini semakin penting karena perkembangan bisnis berjalan semakin cepat. Konsumen bisa saja berpindah ke produk lain hanya karena mendapatkan pengalaman belanja yang kurang baik. Tren pasar juga dapat berubah hanya dalam hitungan hari. Begitu juga dengan stok barang yang terlambat diperbarui, yang bisa membuat perusahaan kehilangan kesempatan untuk melakukan penjualan.

McKinsey dalam riset mengenai pengambilan keputusan menemukan bahwa hanya 48 persen responden yang menyatakan organisasi mereka mampu mengambil keputusan dengan cepat. Bahkan, hanya 37 persen yang menilai bahwa keputusan organisasinya memiliki kualitas tinggi sekaligus dapat diambil dengan cepat.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kecepatan dalam mengambil keputusan menjadi salah satu persoalan yang nyata dalam manajemen. Perusahaan mungkin memiliki banyak karyawan dan teknologi yang canggih, tetapi jika informasi yang dibutuhkan manajer terlambat tersedia, keputusan yang diambil juga bisa terlambat. Contohnya dapat dilihat dalam pengelolaan persediaan. Ketika data penjualan menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk tertentu mulai meningkat, manajemen tentu membutuhkan informasi tersebut secepat mungkin. Jika laporan masih harus dikumpulkan secara manual dari berbagai bagian, perusahaan bisa saja baru mengetahui adanya peningkatan permintaan ketika stok barang sudah hampir habis.

Sebaliknya, SIM yang sudah terintegrasi dapat membantu menampilkan informasi mengenai penjualan dan persediaan secara lebih teratur. Manajer bisa melihat indikator yang dibutuhkan dan kemudian menentukan tindakan yang sesuai, misalnya menambah persediaan, mengubah strategi promosi, atau mengevaluasi produk tertentu. Namun, penggunaan SIM bukan berarti perusahaan harus mengumpulkan semua data yang tersedia. Terlalu banyak data tanpa tujuan yang jelas justru bisa membuat pekerjaan menjadi lebih rumit. Perusahaan perlu menentukan data mana yang memang dibutuhkan untuk menjawab masalah bisnis. Sebagai contoh, manajer pemasaran tidak selalu membutuhkan seluruh data transaksi perusahaan. Mereka mungkin lebih membutuhkan informasi tentang perilaku pelanggan, efektivitas promosi, tingkat konversi, dan penjualan berdasarkan wilayah. Sementara itu, bagian keuangan membutuhkan informasi yang berbeda untuk memantau arus kas, biaya, pendapatan, dan profitabilitas.

Dengan begitu, SIM seharusnya tidak hanya dilihat sebagai “alat teknologi”. Hal yang paling penting dari SIM adalah kemampuannya dalam mengubah data menjadi informasi yang relevan, diberikan kepada orang yang tepat, dan tersedia pada waktu yang tepat. Pentingnya SIM juga berkaitan dengan keamanan informasi. IBM dalam Cost of a Data Breach Report 2025 mencatat bahwa rata-rata biaya global akibat kebocoran data mencapai US$4,44 juta. Penelitian tersebut menganalisis lebih dari 600 organisasi yang mengalami kebocoran data. IBM juga menemukan bahwa organisasi yang menggunakan AI dan otomatisasi keamanan secara ekstensif dapat menghemat rata-rata US$1,9 juta dalam biaya kebocoran dibandingkan dengan organisasi yang tidak menggunakannya.

Artinya, perusahaan tidak cukup hanya mampu mengolah data dengan cepat. Perusahaan juga harus mampu menjaga data yang dimilikinya. Sistem informasi yang baik perlu memperhatikan siapa saja yang dapat mengakses data, keamanan data, akurasi, integritas, serta bagaimana data tersebut dikelola. Di Indonesia sendiri, kebutuhan terhadap infrastruktur digital juga terus meningkat. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut bahwa pada 2025 Indonesia memiliki 185 pusat data dengan kapasitas 274 MW dan menargetkan kapasitas lebih dari 2.000 MW pada 2029. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa data sudah menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi modern. Namun, investasi dalam teknologi seharusnya tidak hanya berhenti pada pembelian server, aplikasi, atau perangkat komputer. Perusahaan juga harus memastikan bahwa teknologi yang digunakan benar-benar menghasilkan informasi yang dapat dimanfaatkan dalam proses bisnis.

Pada akhirnya, perusahaan yang unggul bukan berarti perusahaan yang memiliki data paling banyak. Perusahaan yang lebih siap menghadapi persaingan adalah perusahaan yang mampu menemukan informasi penting dari data yang mereka miliki, memahami arti dari informasi tersebut, kemudian menggunakannya untuk mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Karena itu, Sistem Informasi Manajemen bukan hanya menjadi kebutuhan bagi bagian teknologi informasi.

SIM juga merupakan bagian dari strategi manajemen. Ketika jumlah data terus bertambah, perusahaan membutuhkan sistem yang mampu menyaring berbagai data tersebut menjadi informasi yang lebih mudah dipahami. Data yang tidak digunakan hanya akan menjadi arsip. Data yang diolah dapat berubah menjadi informasi yang menjadi dasar dalam mengambil keputusan. Dan keputusan yang tepat pada waktu yang tepat dapat menjadi salah satu keunggulan kompetitif bagi perusahaan.

Di buat oleh : Ahmad Rafi Pasha & Aditya Nugroho

Dosen Pengampu : Yossy Wahyu Indrawan S.E., M.M.