Konten dari Pengguna

Sehari di Solo Safari: Menyapa Gajah dan Menyusuri Dunia Satwa yang Menghibur

Rafidah Inas Sarwestri

Rafidah Inas Sarwestri

Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafidah Inas Sarwestri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gajah Bernama Dian milik Solo Safari. Minggu (8/6/2025). Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Gajah Bernama Dian milik Solo Safari. Minggu (8/6/2025). Sumber: Dokumentasi Pribadi

Seekor gajah berdiri tenang di kejauhan, mengibaskan telinganya perlahan seperti memberi isyarat selamat datang. Siang itu, Langkah kami menyusuri Solo Safari dimulai dengan rasa penasaran dan berakhir dengan decak kagum. Bukan hanya melihat hewan-hewan dari dekat, tapi juga merasakan kehangatan dan tawa yang terselip di setiap sudut perjalanan.

Minggu siang, matahari bersinar cukup terik ketika aku dan enam temanku, Sausan, Vanya, Amel, Indy, Dian, dan Nova memutuskan untuk berkunjung ke Solo Safari, salah satu destinasi wisata edukatif yang sedang ramai dikunjungi di Solo. Tepatnya berlokasi di Jalan Ir. Sutami No 109, Jebres, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta.

Kami tiba sekitar pukul 13.00 WIB. Karena hari itu akhir pekan, harga tiket masuk reguler pun menyesuaikan yaitu, sebesar Rp75.000 per orang. Meski cukup padat oleh pengunjung, antusiasme kami tidak surut sedikit pun.

Memasuki lobi utama, kami langsung disambut oleh beberapa hewan reptil, termasuk ular. Menariknya, pengunjung diizinkan untuk menyentuh reptil tersebut, sebuah pengalaman yang jarang ditemukan di tempat wisata lain. Beberapa dari kami memberanikan diri, sementara yang lain cukup puas memotret saja.

Melangkah lebih jauh, di sisi kiri kami menjumpai beberapa rusa yang tampak tenang merumput. Tidak jauh dari situ, terdapat kerbau dan sapi yang menambah suasana khas peternakan di tengah kebun binatang modern. Namun, puncak rasa kagum kami muncul saat tiba di area primata. Area ini sangat luas dan menampung berbagai jenis kera dan monyet. Mereka tampak aktif, saling bercengkerama sembari mengamati pengunjung dari kejauhan.

3 Anak Harimau milik Solo Safari. Minggu (8/6/2025). Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kejutan sesungguhnya datang setelah kami melewati area primata. Tiga anak harimau muncul di pelataran pertunjukan. Salah satunya bernama Bantoro, seperti yang dijelaskan oleh petugas ketika Dian bertanya, “Namanya siapa, Kak?” Aksi lincah dan lucu ketiganya berhasil mengundang gelak tawa para penonton. Tingkah mereka menggemaskan, layaknya anak kecil yang sedang bermain. Namun, tak lama kemudian, ketiganya dibawa kembali oleh petugas dengan hati-hati, diiringi sorak sorai kecil dari pengunjung.

Tak jauh dari situ, dua ekor unta terlihat sedang bersantai di sisi kiri area jalan. Pengunjung diperbolehkan menaiki unta dengan tarif tambahan. Kami memilih mengamati saja sambil bercanda, “Untanya kelihatan ngantuk ya?” celetuk Sausan yang langsung disambut tawa kami semua.

Perjalanan berlanjut ke dalam sangkar burung, sebuah sangkar berukuran besar yang berisi beragam koleksi burung eksotis. Salah satu yang menarik perhatian kami adalah burung kakatua jambul kuning, yang menurut papan informasi, memiliki hobi bernyanyi. Walau kami tidak sempat mendengarnya bernyanyi, melihat ekspresinya saja sudah cukup menghibur. Didalam sangkar itu juga terdapat beberapa burung merak, namun sayangnya, saat kami berkunjung, tidak ada yang membuka ekornya, sebuah momen langka yang biasanya menjadi favorit pengunjung.

Kami lalu menuju area buaya muara, salah satu hewan paling mencuri perhatian. Ukurannya besar, sekitar 3-4 meter panjangnya. Yang paling berkesan adalah saat kami diperbolehkan menyentuh anak buaya, tentu di bawah pengawasan petugas. Rasanya unik, bersisik, tebal, dan agak kasar. Sebuah pengalaman yang tak akan mudah kami lupakan.

Menjelang akhir, kami mengunjungi kandang gajah. Seekor gajah betina bernama Dian tampak menyambut dari kejauhan. “Kak, ini nggak boleh mendekat buat foto kah?’ tanyaku, “Foto dari situ saja ya, Kak,” jawab petugas dengan ramah. Meski tidak terlalu dekat, menyaksikan Gajah Dian mengibaskan telinganya dan memainkan belalainya sudah cukup membuat kami betah berlama-lama di sana.

Setelah hampir dua jam berkeliling, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, kami menyusuri jalan keluar sambil berbagi cerita tentang keseruan hari itu. Di tengah perjalanan, aku bertanya, “Gimana, seru nggak?” Nova menjawab sambil tersenyum, “Seru… tapi kok nggak ketemu jerapah, ya?” celetuknya menjadi penutup kunjungan kami ke Solo Safari hari itu.

Solo Safari bukan sekadar tempat melihat hewan, melainkan ruang untuk tertawa, belajar, dan merayakan kebersamaan. Meski belum sempat melihat semua koleksi satwanya, kami sepakat ini adalah kunjungan yang layak untuk diulang.