Luar Biasa! Tradisi Nyadran Masih Bertahan di Kota Semarang

saya mahasiswa yang ingin berkembang dengan membuat berita
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Rafif Arya Ditya atmaja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Jawa Tengah khususnya di Kota Semarang terdapat berbagai macam tradisi yang masih di lestarikan, salah satunya adalah Nyadran. Nyadran merupakan tradisi yang berasal dari tradisi hindu - budha yang disesuaikan dengan syariat Islam pada abad ke-15 oleh Walisongo untuk menggantikan tradisi pemujaan roh yang di anggap musyrik dalam agama Islam dan di gantikan dengan pembacaan ayat Al-Quran serta doa - doa. Nyandran di pahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur, sesama manusia, dan Tuhan.

Di Kota Semarang khususnya di Desa Kaliancar Kelurahan Podorejo Kecamatan Ngaliyan, tradisi Nyadran di lakukan di sebuah Sendang bernama Sendang Panguripan dan Pengasihan pada setiap tanggal 10 Rajjab atau sebelum datangnya bulan Ramadhan. Nyadran yang di lakukan di Sendang tersebut merupakan bentuk ucapan puji syukur karena karunia Tuhan Yang Maha Kuasa atas air yang terus mengalir setiap tahunnya.
Kegiatan yang di lakukan saat Nyadran adalah membersihkan seluruh area Sendang Panguripan dan Pengasihan yang di ikuti oleh seluruh warga Desa Kaliancar. Setelah selesai melakukan pembersihan Sendang, warga pun berkumpul untuk melakukan kenduri dengan pembacaan doa yang di pimpin oleh sesepuh di desa tersebut kemudian di tutup dengan makan bersama.
