Mahasiswa KKN Undip Hadirkan Inovasi untuk Revitalisasi Sendang Gedhe Mijen

Saya adalah mahasiswa Program Studi Sejarah Universitas Diponegoro yang memiliki ketertarikan pada sejarah, isu sosial, pendidikan, lingkungan, dan berbagai persoalan masyarakat
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Rafif Naufal Aryasatya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sendang Gedhe yang berada di RT 03 RW 05, Kelurahan Mijen, Kota Semarang, tidak hanya berfungsi sebagai sumber air bagi masyarakat sekitar, tetapi keberadaannya juga menyimpan cerita sejarah, nilai sosial, dan pengetahuan mengenai lingkungan yang berkembang di tengah masyarakat. Melihat potensi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik IDBU-52 Universitas Diponegoro mengembangkan program penataan dan pembuatan papan informasi Sendang Gedhe pada 26 Juli 2026.
Program ini dilakukan untuk memperkenalkan kembali keberadaan Sendang Gedhe sekaligus menyediakan akses informasi yang lebih mudah bagi masyarakat dan pengunjung. Informasi yang dikembangkan mencakup sejarah, kondisi geologi, fungsi sendang, persebaran sendang di Kelurahan Mijen, serta pedoman pemanfaatan kawasan. Penyampaian informasi tersebut dikemas melalui papan informasi dan media digital yang dapat diakses menggunakan QR Code.
Rangkaian kegiatan diawali dengan tradisi tumpengan bersama masyarakat sekitar sebagai bentuk rasa syukur atas keberadaan sumber mata air yang masih dimanfaatkan hingga saat ini. Tumpeng dengan nasi gudangan dan ikan asin menjadi bagian dari tradisi warga yang dilakukan sebagai bentuk kebersamaan sekaligus upaya menjaga budaya lokal. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kerja bakti membersihkan kawasan sendang dari sampah daun, ranting, dan sampah plastik.
Mahasiswa bersama warga juga melakukan pengecatan bangunan sendang agar kawasan terlihat lebih bersih dan terawat. Saat ini, Sendang Gedhe masih dimanfaatkan terutama untuk kebutuhan irigasi pertanian dan keperluan pendukung lainnya. Penataan sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi kawasan agar tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Sebelum melakukan penyusunan papan informasi, mahasiswa melakukan observasi lapangan untuk mengetahui kondisi fisik Sendang Gedhe dan mengidentifikasi karakteristik geologi kawasan. Tim juga mendata sejumlah titik sendang yang tersebar di Kelurahan Mijen. Data tersebut kemudian diolah menggunakan data Rupa Bumi Indonesia (RBI) dan perangkat lunak ArcGIS untuk menghasilkan peta digital persebaran sendang.
Hasil pengolahan informasi tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk papan informasi terpadu berbahan bambu. Pemilihan bambu mempertimbangkan ketersediaan material lokal, efisiensi biaya, serta kesesuaiannya dengan lingkungan sekitar sendang. Papan tersebut dilengkapi peta persebaran sendang di Kelurahan Mijen beserta QR Code yang terhubung dengan Google Maps.
Tidak berhenti pada peta, QR Code yang tersedia juga mengarahkan masyarakat menuju booklet digital Sendang Gedhe. Booklet tersebut menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai Sendang Gedhe, termasuk sejarah, kondisi lingkungan, informasi geologi sederhana, fungsi, serta dokumentasi kawasan. Dengan demikian, papan informasi tidak hanya berfungsi sebagai media yang dapat dibaca di lokasi, tetapi juga menjadi pintu masuk menuju informasi digital yang lebih lengkap.
Salah satu informasi yang turut didokumentasikan adalah sejarah Sendang Gedhe yang diperoleh berdasarkan wawancara dengan Bapak Muhisyam selaku sesepuh setempat. Berdasarkan penuturannya, Sendang Gedhe memiliki keterkaitan dengan tokoh asal Persia, Syekh Hasan Atthoyibi atau Tumenggung Tambak Yudha, yang melakukan babat alas di wilayah Kecamatan Mijen. Pada masa lalu, sendang dimanfaatkan masyarakat untuk mandi, mencuci, hingga memenuhi kebutuhan air minum. Seiring perkembangan teknologi dan penggunaan pompa air tanah, pemanfaatannya kemudian lebih banyak diarahkan untuk kebutuhan irigasi pertanian.
Selain sejarah, informasi geologi sederhana juga diperkenalkan melalui media tersebut. Masyarakat diajak memahami bahwa keberadaan mata air berkaitan dengan kondisi batuan dan sistem aliran air bawah permukaan. Informasi ini diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat bahwa Sendang Gedhe memiliki nilai tidak hanya dari sisi sosial dan budaya, tetapi juga dari aspek lingkungan. Papan informasi juga memuat pedoman penggunaan kawasan yang berisi imbauan untuk menjaga kebersihan, menggunakan fasilitas sesuai fungsinya, serta menjaga kelestarian lingkungan sendang. Ketentuan tersebut disusun sebagai pedoman sederhana bagi masyarakat dan pengunjung agar pemanfaatan kawasan dapat dilakukan secara lebih bertanggung jawab.
Melalui program ini, mahasiswa KKN Tematik IDBU-52 Universitas Diponegoro berharap Sendang Gedhe dapat semakin dikenal sebagai bagian dari warisan alam dan kehidupan masyarakat Kelurahan Mijen. Papan informasi dan booklet digital yang dikembangkan diharapkan dapat terus dimanfaatkan sebagai media edukasi mengenai sejarah, lingkungan, dan keberadaan Sendang Gedhe bagi masyarakat serta generasi berikutnya. Upaya ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, serta SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui penyediaan informasi, pengenalan nilai sumber daya air, dan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan di tingkat masyarakat.
