Konten dari Pengguna

Di Balik Pengorbanan Anak Pertama

Rafina Aulia

Rafina Aulia

Mahasiswa universitas pamulang

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafina Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hubungan kakak dan adik. Sumber: Canva
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hubungan kakak dan adik. Sumber: Canva

"Namanya juga anak pertama, harus bisa mengalah."

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi sebagian orang, kalimat tersebut menjadi awal dari tanggung jawab yang terus bertambah seiring usia. Sejak kecil, anak pertama sering diminta menjadi contoh bagi adiknya, membantu orang tua, atau mengalah demi kepentingan keluarga. Ketika beranjak dewasa, tanggung jawab itu tidak jarang berubah menjadi beban yang jauh lebih besar.

Di saat teman-teman seusianya sibuk memilih jurusan kuliah atau mengejar pekerjaan impian, sebagian anak pertama justru dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Ada yang menunda kuliah karena harus bekerja, ada yang mengubur cita-cita agar adiknya tetap bisa bersekolah, bahkan ada yang menjadi sumber penghasilan utama ketika kondisi ekonomi keluarga sedang sulit.

Di balik kisah-kisah tersebut, terdapat sebuah fenomena yang dalam psikologi dikenal sebagai parentifikasi (parentification). Parentifikasi adalah kondisi ketika seorang anak mengambil peran dan tanggung jawab yang seharusnya menjadi tugas orang tua. Tanggung jawab itu tidak selalu berupa mencari nafkah. Mengasuh adik setiap hari, mengurus pekerjaan rumah hampir sepenuhnya, menjadi tempat orang tua mencurahkan masalah, hingga merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan keluarga juga termasuk bentuk parentifikasi apabila dilakukan secara terus-menerus dan melampaui kapasitas seorang anak.

Fenomena ini sering kali tidak disadari karena sangat dekat dengan budaya masyarakat Indonesia. Anak sulung kerap dianggap sebagai sosok yang harus lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih bertanggung jawab dibandingkan saudara-saudaranya. Nilai tersebut sebenarnya mengajarkan kepedulian dan gotong royong dalam keluarga. Namun, batas antara tanggung jawab dan beban menjadi kabur ketika seorang anak harus mengorbankan pendidikan, impian, atau masa mudanya demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Kondisi ekonomi menjadi salah satu penyebab yang paling sering melatarbelakangi parentifikasi. Ketika orang tua kehilangan pekerjaan, mengalami penurunan penghasilan, atau menghadapi kesulitan finansial, anak pertama sering kali merasa memiliki kewajiban untuk membantu. Tidak sedikit yang memilih bekerja lebih dahulu daripada melanjutkan pendidikan agar adik-adiknya tetap memiliki kesempatan bersekolah.

Pengorbanan seperti ini memang layak dihargai. Namun, penting untuk memahami bahwa pengorbanan yang lahir dari keterpaksaan berbeda dengan pengorbanan yang lahir dari pilihan. Ketika seorang anak merasa tidak memiliki pilihan selain mengesampingkan masa depannya demi keluarga, kondisi tersebut dapat meninggalkan tekanan psikologis yang tidak selalu terlihat.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa parentifikasi dapat membentuk pribadi yang mandiri, tangguh, dan memiliki empati tinggi. Akan tetapi, pengalaman tersebut juga dapat membuat seseorang terbiasa memendam perasaan, sulit meminta bantuan, merasa bersalah ketika memprioritaskan diri sendiri, hingga mengalami kelelahan emosional. Tidak sedikit anak pertama yang tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus selalu kuat karena keluarga bergantung kepada mereka.

Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa tidak semua anak pertama mengalami parentifikasi. Banyak keluarga yang mampu membagi tanggung jawab secara seimbang sehingga setiap anak tetap memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mengejar cita-citanya. Karena itu, fenomena ini tidak boleh dijadikan alasan untuk memberi label bahwa semua anak sulung pasti menderita atau memikul beban yang sama.

Yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana masyarakat memandang pengorbanan anak. Membantu orang tua merupakan nilai yang baik, tetapi hal tersebut tidak seharusnya membuat seorang anak kehilangan haknya untuk memperoleh pendidikan, beristirahat, menikmati masa muda, atau membangun masa depan. Keluarga yang sehat bukanlah keluarga yang menggantungkan seluruh harapan kepada satu orang anak, melainkan keluarga yang saling mendukung sesuai kemampuan masing-masing.

Pada akhirnya, menjadi anak pertama bukan berarti harus menjadi orang tua kedua. Menjadi sosok yang bertanggung jawab memang merupakan hal yang baik, tetapi setiap anak juga berhak tumbuh sesuai usianya. Di balik julukan "tulang punggung keluarga", mungkin ada mimpi yang tertunda, bangku kuliah yang ditinggalkan, atau masa muda yang tidak sempat dinikmati. Memahami fenomena parentifikasi bukan untuk menyalahkan orang tua, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap anak berhak memiliki ruang untuk bermimpi tanpa harus memikul beban yang melampaui usianya.