FOMO Healing: Ketika Istirahat Berubah Menjadi Ajang Pembuktian

Mahasiswa universitas pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Rafina Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Weekend ini healing ke mana?"

Kalimat itu terasa semakin akrab di telinga. Setelah lima hari berkutat dengan pekerjaan atau tugas kuliah, media sosial dipenuhi foto pantai, gunung, kafe estetik, hingga penginapan dengan pemandangan yang menenangkan. Hampir semuanya diberi keterangan yang sama: healing.
Fenomena ini sebenarnya menunjukkan sesuatu yang positif. Semakin banyak orang menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental dan meluangkan waktu untuk beristirahat. Di tengah ritme hidup yang serba cepat, mengambil jeda memang menjadi kebutuhan, bukan lagi sekadar keinginan.
Namun, ada sisi lain yang mulai terlihat. Healing perlahan tidak hanya dimaknai sebagai proses memulihkan diri, tetapi juga menjadi simbol gaya hidup yang seolah harus diperlihatkan kepada orang lain.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat penggunaan media sosial yang tinggi. Laporan Digital 2025 dari We Are Social dan Meltwater menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mengakses media sosial. Dalam waktu yang panjang tersebut, pengguna terus disuguhi berbagai potongan kehidupan orang lain, mulai dari pencapaian, gaya hidup, hingga momen liburan. Tidak mengherankan jika persepsi mengenai "cara menikmati hidup" ikut terbentuk dari apa yang sering muncul di layar.
Akhirnya, banyak orang mulai menganggap bahwa healing identik dengan bepergian ke tempat wisata, menikmati kopi di kafe yang sedang viral, atau menginap di hotel dengan pemandangan yang menarik untuk diunggah. Padahal, semua itu hanyalah salah satu bentuk istirahat, bukan definisi healing itu sendiri.
Tanpa disadari, media sosial juga memunculkan rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO). Ketika melihat teman-teman mengunggah liburan hampir setiap akhir pekan, sebagian orang mulai merasa hidupnya kurang menarik. Bahkan, ada yang memaksakan diri mengeluarkan uang demi mengikuti tren agar tidak merasa berbeda dari lingkungan sekitarnya.
Di titik inilah makna healing mulai bergeser. Aktivitas yang seharusnya membantu mengurangi stres justru dapat menjadi sumber tekanan baru. Bukan karena liburannya, tetapi karena muncul dorongan untuk memenuhi ekspektasi yang dibentuk media sosial.
Padahal, setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda dalam memulihkan diri. Ada yang merasa lebih tenang setelah berjalan kaki di sore hari. Ada yang memilih membaca buku, memasak, berkebun, menonton film, atau sekadar tidur lebih lama tanpa memikirkan pekerjaan yang belum selesai. Kegiatan sederhana tersebut mungkin tidak menghasilkan foto yang estetik, tetapi tetap memberikan manfaat bagi kesehatan mental.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah lama menekankan bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan. Menjaga kondisi mental tidak selalu membutuhkan langkah besar, melainkan juga dapat dilakukan melalui pengelolaan stres, keseimbangan antara aktivitas dan waktu istirahat, serta menjaga hubungan sosial yang sehat.
Karena itu, tidak ada alasan untuk mengukur kualitas healing berdasarkan lokasi, biaya, ataupun unggahan di media sosial. Istirahat bukanlah sebuah kompetisi. Apa yang efektif bagi satu orang belum tentu memberikan dampak yang sama bagi orang lain.
Di era digital, mungkin yang paling kita butuhkan bukan sekadar waktu untuk pergi berlibur, melainkan keberanian untuk berhenti membandingkan diri dengan kehidupan yang terlihat di layar. Sebab, media sosial hanya menampilkan potongan-potongan momen terbaik, bukan keseluruhan cerita.
Pada akhirnya, healing bukan tentang seberapa jauh kita pergi atau seberapa menarik foto yang berhasil diunggah. Healing adalah tentang memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk benar-benar beristirahat, menerima bahwa tidak semua akhir pekan harus diisi dengan perjalanan, dan memahami bahwa ketenangan tidak selalu datang dari tempat yang jauh. Kadang, ketenangan justru ditemukan ketika kita berhenti mengejar standar yang dibuat orang lain dan mulai mendengarkan kebutuhan diri sendiri.
