Konten dari Pengguna

Mengapa Media Sosial Membuat Kita Merasa Tertinggal?

Rafina Aulia

Rafina Aulia

Mahasiswa universitas pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafina Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menggunakan sosial media. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menggunakan sosial media. Foto: Shutter Stock

"Sebentar saja, cuma mau lihat media sosial."

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, dalam beberapa menit, linimasa sudah dipenuhi berbagai kabar tentang kehidupan orang lain. Ada teman yang baru wisuda, ada yang mengumumkan diterima bekerja di perusahaan impian, ada yang membagikan momen membeli rumah pertama, hingga unggahan tentang liburan ke luar negeri. Tanpa disadari, muncul pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di benak banyak orang, "Kenapa mereka sudah sejauh itu, sementara aku rasanya masih di tempat yang sama?"

Perasaan tersebut bukan berarti kita iri terhadap kebahagiaan orang lain. Terkadang, yang muncul justru rasa khawatir bahwa kita sedang tertinggal. Padahal sebelumnya, kita merasa baik-baik saja.

Media sosial memang telah mengubah cara kita melihat kehidupan orang lain. Jika dulu kita hanya mengetahui kabar teman dekat, sekarang kita bisa melihat pencapaian puluhan bahkan ratusan orang hanya dalam sekali menggulir layar. Dalam satu waktu, kita melihat teman lulus kuliah, seseorang membuka usaha baru, orang lain bertunangan, sementara kreator seusia sudah berbicara tentang investasi atau membeli rumah. Semua itu muncul hampir bersamaan.

Tanpa disadari, kita mulai membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan orang-orang yang memiliki latar belakang, kesempatan, bahkan tujuan hidup yang berbeda.

Masalahnya, media sosial tidak pernah menampilkan keseluruhan cerita. Yang lebih sering terlihat adalah hasil akhirnya, bukan proses panjang di belakangnya. Kita melihat foto wisuda, tetapi tidak melihat malam-malam ketika seseorang begadang menyelesaikan skripsi. Kita melihat foto rumah baru, tetapi tidak mengetahui berapa lama ia menabung atau tantangan yang harus dihadapi untuk mendapatkannya. Kita melihat senyuman dalam sebuah unggahan, tetapi tidak selalu mengetahui kesulitan yang mungkin sedang mereka alami.

Di sinilah perbandingan itu menjadi tidak adil. Kita membandingkan keseharian diri sendiri yang penuh tantangan dengan potongan terbaik dari kehidupan orang lain.

Fenomena ini juga menjadi perhatian dalam berbagai penelitian. Sejumlah studi menunjukkan bahwa kebiasaan membandingkan diri di media sosial dapat berkaitan dengan menurunnya kepuasan terhadap diri sendiri, terutama ketika seseorang terus-menerus melihat pencapaian orang lain tanpa menyadari bahwa setiap unggahan hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka. Namun, hal ini bukan berarti media sosial adalah penyebab utama masalah kesehatan mental. Cara seseorang menggunakan media sosial dan cara memaknai apa yang dilihat juga memiliki peran yang besar.

Media sosial pada dasarnya bukanlah musuh. Platform ini tetap memberikan banyak manfaat, mulai dari mencari informasi, membangun relasi, hingga memperoleh inspirasi. Namun, akan menjadi masalah ketika kita mulai mengukur nilai diri berdasarkan pencapaian orang lain.

Pada akhirnya, setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. Ada yang menemukan jalan karier lebih cepat, ada yang baru berhasil setelah melewati banyak kegagalan. Ada yang mencapai impiannya di usia muda, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Semua perjalanan itu tetap bernilai.

Mungkin sesekali kita perlu berhenti sejenak dari kebiasaan membandingkan diri. Bukan untuk mengabaikan pencapaian orang lain, melainkan agar kita kembali menyadari bahwa hidup bukan tentang siapa yang lebih cepat sampai, tetapi tentang bagaimana kita terus bertumbuh sesuai dengan perjalanan masing-masing.