Konten dari Pengguna

Kenapa Pekerjaan Rumah Disebut “Bantuan” Ketika Dilakukan Laki-Laki?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafiqah Meidina Syakira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah pasangan yang merawat tanaman hias dan melakukan pekerjaan rumah. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah pasangan yang merawat tanaman hias dan melakukan pekerjaan rumah. Foto: Pexels

“Suaminya baik, kok. Dia sering membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah.”

Kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa. Ketika seorang laki-laki mencuci piring, memasak, menyapu, atau menjaga anak, tindakannya sering dianggap sebagai bentuk bantuan kepada perempuan di rumah.

Tapi, sebenarnya ada satu kata yang menarik untuk diperhatikan: membantu.

Membantu siapa?

Pertanyaan ini bukan berarti setiap pasangan harus membagi pekerjaan rumah secara persis 50:50 setiap hari. Kondisi setiap keluarga berbeda. Ada yang bekerja dengan jam yang berbeda, ada yang sedang kuliah, ada yang mengurus anak, dan ada pula pembagian tugas yang memang sudah disepakati bersama.

Yang menarik untuk dibicarakan adalah mengapa pekerjaan rumah sejak awal begitu mudah dianggap sebagai tanggung jawab perempuan, sementara ketika laki-laki melakukannya, ia justru disebut sedang “membantu”.

Dari hal sesederhana mencuci piring, sebenarnya kita bisa melihat bagaimana gender bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Pekerjaan rumah bukan sekadar urusan rumah

Memasak, mencuci, membersihkan rumah, berbelanja kebutuhan keluarga, mengurus anak, sampai merawat anggota keluarga yang sakit membutuhkan waktu dan tenaga. Pekerjaan-pekerjaan tersebut mungkin tidak selalu menghasilkan pendapatan, tetapi tetap memiliki nilai dan dibutuhkan agar kehidupan keluarga berjalan.

Masalahnya, pekerjaan domestik sering kali tidak terlihat sebagai “pekerjaan” karena dilakukan di dalam rumah dan tidak mendapatkan upah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan gambaran yang cukup jelas. Pada 2025, dari penduduk berusia 15 tahun ke atas yang kegiatan utamanya adalah mengurus rumah tangga, terdapat sekitar 35,87 juta perempuan, sedangkan laki-laki sekitar 3,90 juta.

Angka tersebut tentu tidak berarti setiap perempuan mengalami pembagian pekerjaan rumah yang sama atau bahwa laki-laki tidak mengerjakan pekerjaan domestik. Namun, perbedaannya menunjukkan bahwa aktivitas mengurus rumah tangga masih sangat erat dikaitkan dengan perempuan.

Di sinilah persoalan gender menjadi penting. Bukan karena perempuan tidak mampu mengurus rumah, tetapi karena sejak kecil banyak orang tumbuh dengan anggapan bahwa pekerjaan domestik memang “seharusnya” dilakukan perempuan.

Anak perempuan mungkin lebih sering diminta membantu pekerjaan rumah, sementara anak laki-laki lebih mudah dibebaskan karena dianggap tidak memiliki kewajiban yang sama. Lama-kelamaan, pembagian tersebut bisa terlihat seperti sesuatu yang alami, padahal sebenarnya merupakan kebiasaan yang dibentuk oleh lingkungan sosial.

Ketika perempuan punya banyak peran

Persoalan ini menjadi semakin kompleks ketika perempuan juga memiliki aktivitas di luar rumah.

Perempuan yang bekerja, berkuliah, menjalankan usaha, atau aktif dalam kegiatan sosial tetap bisa dihadapkan pada ekspektasi untuk mengurus pekerjaan domestik. Akibatnya, waktu untuk beristirahat, belajar, bekerja, atau mengembangkan diri bisa ikut berkurang.

ILO bersama KataData Insight Center pada 2023 menemukan bahwa 79,3 persen responden perempuan dalam surveinya melaporkan mengalami beban ganda, sementara 61,6 persen responden laki-laki mengatakan istri atau saudara perempuan mereka mengalami kondisi tersebut.

Angka ini merupakan hasil survei, bukan gambaran bahwa semua perempuan memiliki pengalaman yang sama. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa pembagian pekerjaan berbayar dan tidak berbayar masih menjadi persoalan yang nyata dalam kehidupan sebagian perempuan.

Bahkan dalam eksperimen sosial ILO dan Magdalene, lima perempuan mencatat aktivitas pekerjaan domestik dan perawatan selama tujuh hari. Beberapa di antaranya menghabiskan waktu lebih dari 100 jam dalam seminggu untuk pekerjaan perawatan tidak berbayar.

Bayangkan jika sebagian besar waktu seseorang habis untuk mengurus kebutuhan orang lain. Kapan ia punya ruang untuk belajar hal baru, mengejar karier, membangun usaha, berorganisasi, atau sekadar beristirahat?

Pertanyaan tersebut membawa kita pada hal yang lebih besar: pemberdayaan perempuan.

Pemberdayaan bukan cuma soal memberi kesempatan

Ketika membicarakan pemberdayaan perempuan, pembahasannya sering berfokus pada pendidikan, pekerjaan, keterampilan, akses ekonomi, atau kesempatan untuk menjadi pemimpin.

Semua itu memang penting. Tetapi, kesempatan saja tidak selalu cukup.

Seorang perempuan bisa saja mendapatkan pendidikan tinggi dan memiliki pekerjaan, tetapi jika setelah pulang ia tetap dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan rumah, ruang yang dimilikinya untuk berkembang tetap bisa terbatas.

Karena itu, pemberdayaan perempuan juga berkaitan dengan bagaimana lingkungan di sekitar perempuan memberikan ruang, pilihan, dan kesempatan untuk berkembang.

Pembagian pekerjaan rumah menjadi salah satu bagian kecil dari persoalan tersebut.

Ketika pekerjaan domestik dipandang sebagai tanggung jawab bersama, perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai pihak yang secara otomatis harus mengurus semuanya. Laki-laki juga tidak perlu dianggap “luar biasa” hanya karena melakukan pekerjaan yang sebenarnya memang dibutuhkan oleh seluruh anggota keluarga.

Bukan berarti semua pekerjaan harus selalu dibagi sama rata. Dalam sebuah keluarga, pembagian tugas bisa menyesuaikan kondisi masing-masing. Yang lebih penting adalah pembagian tersebut lahir dari kesepakatan, bukan dari anggapan bahwa satu pekerjaan otomatis menjadi kewajiban seseorang hanya karena jenis kelaminnya.

Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan hanya tentang siapa yang mencuci piring malam ini.

Persoalannya adalah bagaimana kita sejak awal memandang siapa yang bertanggung jawab atas piring tersebut.

Kalau pekerjaan rumah terus dianggap sebagai “tugas perempuan”, maka ketika laki-laki mengerjakannya, kita akan terus menyebutnya sebagai bantuan.

Namun, jika rumah dipahami sebagai ruang bersama, pekerjaan untuk menjaganya pun semestinya dapat dibicarakan sebagai tanggung jawab bersama.

Dan mungkin, perubahan kecil dalam cara kita melihat pekerjaan rumah bisa menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar: menciptakan lingkungan di mana perempuan tidak hanya diberi kesempatan untuk berkembang, tetapi juga memiliki ruang dan waktu untuk benar-benar menggunakannya.

Sumber

• Badan Pusat Statistik (BPS), Population 15 Years of Age and Over by Type of Activity During the Previous Week and Sex.

• International Labour Organization (ILO), Indonesian women are still obliged to quit their paid jobs due to caring responsibilities.

• International Labour Organization (ILO) & Magdalene, ILO-Magdalene Social Experiment: Women Spend 100 Hours on Unpaid Care Work in a Week.