Konten dari Pengguna

"Independent Woman" RI Meningkat, Pria Mapan Menurun. Pertanda Baik atau Buruk?

Rafisa Rona Dillaputri

Rafisa Rona Dillaputri

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret tahun 2024

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafisa Rona Dillaputri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pekerja kantoran wanita oleh @unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pekerja kantoran wanita oleh @unsplash

Perkembangan zaman berjalan begitu cepat makin meningkatkan emansipasi wanita dalam berkarier dan bekerja sebagai tenaga profesional. Bahkan, posisi mapan pun banyak diduduki oleh para wanita. Hal ini menunjukkan munculnya fenomena independent woman RI meningkat, pria mapan menurun.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (KPK), Wihaji, berpendapat bahwa alasan ekonomi lah yang menjadi faktor utama fenomena tersebut. Menurutnya, banyak anak muda yang khawatir dengan masa depan mereka di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang pada akhirnya lebih memilih untuk fokus membangun karier.

Country Representative UN Women Indonesia, Dwi Faiz, dalam sambutannya pada acara "Women Empowerment Principles (WEPs) Award 2024" di Jakarta pada hari Selasa, mengatakan bahwa menurut data terbaru World Bank, sektor swasta sudah menyumbang lebih dari 90% lapangan pekerjaan di Indonesia dan menjadi penggerak utama ketenagakerjaan nasional dan menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan perekonomian Indonesia yang mendukung partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan. Hal inilah yang membuka gerbang besar bagi wanita untuk berkarier mandiri.

Lalu, bagaimana fenomena ini berdampak bagi perekonomian Indonesia? Menurut beberapa pendapat ahli, penulis merangkum bahwa hal ini memiliki dampak signifikan baik positif maupun negatif.

Dampak positif dalam meningkatkan Perekonomian Indonesia

  • Peningkatan Produktivitas.

  • Peningkatan Kualitas SDM.

  • Meningkatnya Konsumsi.

  • Perluasan Pasar.

Bahaya jangka panjang terhadap perekonomian Indonesia

Dengan maraknya fenomena wanita mandiri, menurut data yang merujuk pada laporan Statistik Indonesia, angka pernikahan Indonesia tercatat terus menurun dalam enam tahun terakhir. Angka pernikahan 2023 turun 7,51% menjadi 1,58 juta pernikahan dibandingkan pada 2022 sebanyak 1,7 juta pernikahan. Biaya hidup yang semakin tinggi dan memilih pasangan hidup yang ideal menjadi salah satu alasan menurunnya angka pernikahan.

Hal ini akan membahayakan Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Apabila jumlah pernikahan menurun, tingkat kelahiran akan ikut menurun, dan posisi piramida penduduk akan terbalik (jumlah penduduk lansia lebih banyak ketimbang jumlah penduduk produktif). Ini akan menjadi krisis terbaru lagi bagi negara Indonesia yang saat ini sama dirasakannya oleh negara Jepang, yaitu berkurangnya populasi yang berakibat:

  • Kurangnya tenaga kerja produktif.

  • Lonjakan biaya kesehatan dan pensiun.

  • Mempengaruhi perputaran uang negara.

Fenomena ini menarik bagi beberapa ahli dan pakar untuk mengkajinya dan mencari solusi bersama untuk pemerintahan Indonesia dalam menangani fenomena tersebut.