Privilege: Keistimewaan yang Tidak Dimiliki oleh Semua Orang

Rafki Rinaldi
Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Institut Teknologi Sumatera. Tertarik menulis dengan topik teknologi, sosial budaya, dan kesehatan mental
Konten dari Pengguna
14 Mei 2024 17:25 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Rafki Rinaldi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pernah nggak teman-teman berpikir, “si A beruntung sekali lahir di keluarga kaya, makanya sekarang dia bisa punya perusahaan besar seperti ayahnya dulu”. “Si B beruntung sekali lahir dari orang tua yang berpendidikan tinggi, tidak heran kalau dia sekarang bisa lanjut kuliah di luar negeri”.
ADVERTISEMENT
kalau teman-teman pernah berpikiran seperti itu, maka itulah yang dinamakan privilege atau “keistimewaan; hak istimewa”, dan tidak semua orang mendapatkan hak istimewa itu. Privilege merupakan salah satu indikator kesuksesan yang sering sekali dilupakan oleh banyak orang.
sumber gambar : Pixabay.com
Siapa yang tidak kenal Maudy Ayunda? Siapa yang tidak kenal Nadiem Makarim?
Mereka adalah salah dua dari banyaknya orang yang beruntung mendapatkan privilege. Mereka adalah role model anak muda zaman sekarang. Tapi yang banyak orang tidak tahu adalah Maudy Ayunda dan Nadiem Makarim berhasil seperti sekarang tidak hanya karena effort dan kerja keras mereka saja, akan tetapi ada faktor lain yang memuluskan jalan mereka untuk sampai ke titik sukses. Yes. It’s Privilege. Maudy Ayunda, sedari kecil sudah disekolahkan oleh orang tuanya di International School yang punya sistem pendidikan luar negeri dan pastinya berbeda dengan sistem pendidikan sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Jadi tidak mengherankan kalau dia bisa melanjutkan kuliah di universitas top dunia. Nadiem Makarim, siapa yang tau kalau ia adalah putra seorang alumni Harvard sehingga ia bisa mengikuti jejak sang ayah untuk kuliah di tempat yang sama. Mereka juga beruntung lahir di keluarga yang ekonominya bisa dibilang sangat baik. Itulah sedikit dari privilege yang mereka dapatkan.
ADVERTISEMENT
Disini aku mau diclaimer. Bukan berarti mereka berhasil hanya karena privilege yang mereka miliki saja. Seperti yang aku bilang sebelumnya, privilege hanya salah satu dari banyaknya faktor penentu keberhasilan seseorang. Mereka tentunya juga berusaha dengan sangat keras untuk mencapai impian mereka. Bill Gates juga tidak akan menjadi seperti sekarang jika ia tidak bekerja keras dalam merintis bisnisnya dan tidak sungguh-sungguh dalam mempelajari programming. Bill Gates punya keduanya: kualitas diri dan privilege.
Bukan berarti mereka yang memiliki privilege tidak boleh dijadikan panutan. Akan tetapi, kita sebagai orang yang tidak memperoleh privilege itu harus bersikap realistis. Kita tidak bisa meniru cara dan proses mereka mencapai kesuksesan. Kita tidak punya apa yang dinamakan “privilege”. Jika kita tetap mengikuti cara mereka, bisa dipastikan kita tidak akan bisa berhasil seperti mereka. Kita hanya bisa menjadikan keberhasilan mereka sebagai cambuk motivasi agar kita mau bekerja dan berusaha jauh lebih keras untuk mencapai kesuksesan.
ADVERTISEMENT
Privilege sebenarnya adalah perkara kompleks yang tidak sederhana. Privilege tidak hanya soal kesenjangan ekonomi dan kesempatan pendidikan saja, akan tetapi banyak hal lain yang termasuk privilege, diantaranya ketidakadilan kelas sosial, usia, disabilitas, etnik dan ras, ketidakadilan gender, orientasi seksual, bahkan agama. Apa yang dibilang istimewa di Indonesia belum tentu jadi istimewa di Amerika, begitu pun sebaliknya, karena privilege sangat dipengaruhi oleh budaya di suatu negara. Namun disini aku hanya akan membahas privilege yang sering kali menjadi pembicaraan di Indonesia, yaitu ekonomi dan pendidikan.
Yang sering dilupakan oleh orang yang sukses di usia muda adalah dengan privilege kondisi ekonomi keluarganya yang mendukung, mereka bisa berkarir di bidang yang disukai. Jadi, kalaupun gagal, orang tua mereka sudah siap membantu mereka mulai dari awal lagi dengan segala “keistimewaan” yang mereka punya. Mereka tidak menyadari jutaan orang seusianya tidak seberuntung itu. Banyak anak muda yang terpaksa melupakan mimpinya karena harus realistis dan berkompromi dengan keadaan. Mereka mengambil pekerjaan yang tak sesuai passion, asalkan berpenghasilan, supaya bisa meringankan beban orang tua dan membantu biaya sekolah adik-adiknya yang masih kecil.
sumber gambar : Pixabay.com
Dalam kehidupan sebagai manusia kita adalah sama, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang memiliki titik start yang berbeda. Ada yang mulai dari titik nol, ada yang mulai dari minus, dan ada yang beruntung dengan privilege-nya bisa start di titik 20. Bodoh sekali kalau kita membandingkan diri dengan orang lain sedangkan titik start kita saja berbeda. Nilai kesuksesan bukan ditentukan oleh siapa yang bisa mencapai titik terjauh. Akan tetapi, nilai kesuksesan ditentukan oleh sejauh mana kita bisa berjalan dari titik awal kita.
ADVERTISEMENT
Seandainya kamu mulai dari titik 20 dan temanmu mulai dari titik 0. Kemudian setelah 10 tahun kamu masih di titik 20 dan temanmu juga di titik 20. Menurut kamu siapa yang sukses? Jawabannya adalah temanmu, sedangkan kamu hanya jalan di tempat.