Konten dari Pengguna

Infrastruktur Kian Meningkat, Netizen: Mengapa Selalu di Jawa dan Kota Besar

Rafli Dwi Fathoni

Rafli Dwi Fathoni

Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Pamulang

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafli Dwi Fathoni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kereta Cepat Jakarta Bandung (sumber:https://pixabay.com/id/photos/kereta-kecepatan-sedang-transit-3714601/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kereta Cepat Jakarta Bandung (sumber:https://pixabay.com/id/photos/kereta-kecepatan-sedang-transit-3714601/)

Dalam meningkatkan pembangunan di beberapa daerah, banyak pemerintah daerah mulai membangun infrastruktur sarana dan prasarana. Seperti yang sedang berlangsung di perkotaan besar Pulau Jawa. Dalam membentuk kawasan infrastruktur langkah strategis yang tepat yaitu, mengambil suatu kebijakan yang mengarah pada perkembangan pusat ekonomi daerah.

Akhir-akhir ini banyak infrastruktur yang sedang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, salah satu proyek yang sedang dilakukan yaitu Kereta Cepat Jakarta Bandung. Proyek ini diperkirakan rampung dan dapat beroperasi pada bulan Juni 2023.

Pada tanggal 16 November 2022 uji coba Kereta Cepat Jakarta Bandung telah dilakukan, yang disaksikan oleh Presiden Indonesia dan Presiden China secara virtual. Dalam uji dinamis tersebut kereta melaju sekitar 80 km/jam sampai 350 km/jam. Nantinya kita hanya membutuhkan waktu 40 menit untuk sampai ke Bandung dan juga sebaliknya.

Tetapi para warga Indonesia di sosial media mulai mempertanyakan “mengapa infrastruktur selalu di bangun di Daerah Jawa dan perkotaan besar terlebih dahulu?” seperti Jakarta dan Bandung, sedangkan banyak daerah lain di Indonesia yang juga sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur. Infrastruktur bukan hanya untuk memperoleh keuntungan bagi pemerintah saja, tetapi juga untuk mempercepat pemerataan kesenjangan. Jika keberadaan infrastruktur sangat kurang diperhatikan di daerah terpencil maka pembangunan sumber daya di daerah tersebut tidak akan berjalan dengan baik. Mereka mempertanyakan keadilannya itu seperti yang disebut dalam sila kedua Pancasila “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

Bukan hanya di daerah terpencil saja, kadang di daerah kota padat penduduk seperti Tangerang pun masih kurang memadai infrastruktur sarana dan prasarananya. Contohnya seperti yang sedang terjadi, perbaikan jalan serentak yang menimbulkan macet dimana-mana. Banyak warga yang kesal perihal ini karena membuat mereka terlambat saat berangkat kerja dan juga menimbulkan lebih banyak polusi dari biasanya. Seharusnya Pemerintah Tangerang dalam melakukan perbaikan sejumlah infrastruktur ini harus dilakukan secara bertahap.

Walaupun pada akhirnya beliau menuliskan permohonan minta maaf kepada warga Palembang melalui akun sosial media pribadinya. Beliau juga meluruskan pernyataan yang ia sebut proyek gagal itu, bahwa dalam pembangunan Lintas Rel Terpadu dibutuhkan dana yang besar setidaknya 1 triliun per kilometer tidak ada daerah yang mampu kecuali Jakarta ucapnya. Dan ia juga mengatakan populasi setiap daerah harus besar supaya dana cepat balik modal.

Melalui akun sosial media Twitter, masyarakat Palembang mengungkapkan hasil dari proyek infrastruktur Lintas Rel Terpadu Palembang benar-benar memberikan keuntungan baginya, karena mempermudah dirinya untuk bepergian dan harga ongkosnya pun terhitung cukup murah dibanding angkutan umum lainya. Dan pastinya dampak dari proyek infrastruktur tersebut juga membantu masyarakat Palembang yang lain. Hingga sekarang tren penumpang Lintas Rel Terpadu Palembang pun terus membaik.

Kita sebagai warga Indonesia hanya bisa berharap, setelah warga mempertanyakan keadilannya sebagaimana bunyi sila kedua pancasila guna pembangunan infrastruktur daerah tempat tinggal mereka dan pemerintah juga sadar akan hal itu, semoga semakin banyak pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana di daerah lain guna membantu masyarakat untuk menjalankan aktivitas keseharian mereka nantinya.