Pemula Harus Tau! Belajar Python Atau C++ Dulu?
Tulisan dari Rafli Erza Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika sudah tertarik dengan dunia pemrograman, banyak sekali pertanyaan yang sering muncul salah satunya adalah Bahasa pemrograman apa yang harus lebih dahulu dipelajari. Ada yang menyarankan bahasa python karna bahasanya yang mudah di pahami, atau ada yang menyarankan bahasa C++ karena dapat memahami dasar dari pemrograman secara mendalam.
Untuk seseorang yang baru mengenal coding, pilihan tersebut hanya membuat bingung. Banyaknya bahasa pemrograman yang ada membuat pemula kebingungan untuk memilih bahasa pemrograman yang tepat untuk dipelajari. Padahal, tidak ada salah satu bahasa pemrograman yang secara mutlak cocok untuk semua orang.

Setiap bahasa pemrograman memiliki karakteristik dan kegunaan masing-masing. Bahasa python dikenal dengan sintaks yang sederhana dan mudah di pahami sehingga bahasa python sering kali digunakan dalam pembelajaran dasar pemrograman. Sedangkan bahasa C++ memiliki struktur penulisan yang lebih kompleks, tetapi dapat membantu mahasiswa memahami berbagai konsep dasar pemrograman secara lebih detail.
Untuk pemula, hal yang penting sebenarnya bukan menentukan bahasa pemrograman mana yang paling sesuai. Hal yang lebih penting adalah dapat memahami bagaimana cara berpikir dalam meyelesaikan sebuah masalah.
Ketika mendapatkan sebuah kasus, sebagai programmer tidak harus langsung menulis sebua kode. Langkah pertama yaitu memahami masalah tersebut. Setelah itu, tentukan data apa yang diperlukan, proses apa yang harus dilakukan, dan hasil akhir apa yang harus diperoleh.
Disinilah algoritma berperan penting. Algoritma membantu seseorang menyusun sebuah langkah penyelesaian masalah sebelum langkah tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman.
Misalnya, seseorang ingin membuat program sederhana untuk mengetahui sebuah angka ganjil dan sebuah angka genap. Sebelum menulis kode python atau C++, kita harus menentukan langkahnya terlebih dahulu. Program menerima sebuah angka, kemudian memeriksa angka dapat di bagi dua tanpa sisa atau tidak. Jika iya, angka tersebut termasuk bilangan genap. Jika tidak, maka termasuk bilangan ganjil.
Langkah tersebut dapat di terapkan di bahasa pemrograman manapun. Perbedaanya hanya terletak pada penulisan sintaks dari masing-masing bahasa.
Pada hal ini menunjukan bahwa bahasa pemrograman adalah alat untuk menerjemahkan Solusi yang sudah di pikirkan oleh programmer. Karena itu, Ketika terlalu sering mengganti bahasa pemrograman saat baru mulai belajar justru dapat membuat seseorang kehilangan fokus.
Untuk pemula sebaiknya memilih satu bahasa pemrograman terlebih dahulu dan pelajari konsep dasarnya sampai paham cara kerjanya. Setelah itu, mempelajari bahasa pemrograman yang lainnya akan menjadi lebih mudah karena konsep dasarnya sama saja. Seperti, variable, percabangan, perulangan, fungsi, dan struktur logika.
Saya sebagai mahasiswa Teknik informatika mengalami hal yang sama saat mulai mempelajari bahasa python dan C++. Pada awalnya, memiliki perbedaan penulisan pada kedua bahasa tersebut dan cukup membingungkan. Ada perintah yang berbeda, aturan penulisan yang berbeda, dan cara menjalankan program pada kedua bahasa tersebut.
Namun, saat sudah mulai memahami konsep dari sebuah algoritma, perbedaan keduanya menjadi lebih mudah di pahami. Saya menyadari bahwa kesalahsan utamanya bukan pada bahasa pemrograman yang digunakan. Tetapi, bagaimana cara menentukan langkah penyelesaian masalahnya.
Kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah terlalu cepat untuk berpindah dari satu bahasa ke bahasa yang lainnya. Baru mempelajari beberapa dasar python, kemudian lanjut ke C++, setelah ini mencoba javascript. Akhirnya banyak bahasa yang di pelajari, tetapi tidak ada satupun yang benar-benar di pahami.
Mencoba banyak bahasa tentu tidak salah, dengan mempelajari banyak bahasa pemrograman, wawasan dari seorang programmer akan lebih luas. Tetapi untuk tahap awal memiliki satu pondasi yang kuat jauh lebih penting.
Pemula sebaikanya juga tidak langsung terburu-buru untuk membuat sebuah aplikasi, tetapi buatlah program yang sederhana untuk menjadi tempat melatih logika dan juga memahami bagimana sebuah program bekerja.
Program seperti menghitung luas persegi panjang, menghitung nilai rata-rata, atau membuat menu sederhana. Latihan seperti itu dapat membantu melatih kebiasaan berpikir secara terstruktur. Ketika konsep dasar sudah mulai di pahami seseorang dapat meningkatkan Tingkat kesulitannya secara perlahan.
Perkembangan teknologi saat ini dapat mempermudah proses belajar pemrograman. Saat ini banyak sekali video pembelajaran, dokumentasi, forum diskusi, dan berbagai alat kecerdasan buatan untuk membantu seseorang dalam kesulitan.
Namun dengan kemudahan tersebut tetap perlu digunakan dengan bijak. Jika mendapatkan soal pemrograman, sebaiknya pemula mencoba dan memahaminya terlebih dahulu dan tidak langsung meminta bantuan. Jika langsung meminta bantuan AI menghasilkan seluruh program, mungkin seseorang mendapatkan program yang berjalan, namun belum tentuk untuk memahami program berjalan.
Bantuan teknologi seharusnya digunakan untuk mempercepat proses belajar, bukan untuk menggantikan proses berpikir. Ketika menemukan kode yang belum di pahami, kita bisa meminta penjelasan dibagian tertentu. Dengan begitu teknologi dapat menjadi teman belajat untuk membantu memahami sebuah konsep yang sedang di pelajari.
Pada akhrinya, pertanyaan mengenai apakah harus belajar bahasa pemrograman python dahulu atau C++ dahulu bukanlah masalah yang perlu di debatkan. Kedua bahasa tersebut dapat menjadi pilihan bagi pemula selama proses belajarnya dilakukan secara konsisten dan disertai pemahaman terhadap konsep dasar pemrogramannya.
Jika seseorang memilih Python, fokuslah memahami konsep dasar dan membangun program sederhana. Jika memilih C++, lakukan hal yang sama.
Bagi pemula, kemampuan berpikir logis, memahami algoritma, memecahkan masalah, dan berani mencoba jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui banyak bahasa pemrograman.
bahasa pemrograman dapat berubah dan terus berkembang. Namun, kemampuan untuk memahami sebuah masalah dan menyusun solusi akan tetap menjadi dasar dalam proses pemrograman.

