Konten dari Pengguna

Kenapa Ada Negara yang Punya 2 Musim dan Ada yang 4 Musim?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafli Iqbal Taufiqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak kepikiran, kenapa kita di Indonesia cuma kenal musim kemarau dan musim penghujan, sementara orang-orang di Eropa atau Korea Selatan bisa menikmati indahnya bunga mekar di musim semi dan main salju saat musim dingin? Padahal, kita semua sama-sama tinggal di planet Bumi yang terus mengelilingi matahari. Perbedaan jumlah musim ini sebenarnya berasal dari bentuk fisik planet kita dan posisinya saat berada di luar angkasa.

Gambar Kemiringan Bumi (Sumber : Gemini AI Generated)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Kemiringan Bumi (Sumber : Gemini AI Generated)

Kunci dari semua perbedaan ini ada pada posisi Bumi yang ternyata tidak tegak lurus, melainkan sedikit miring sekitar 23,5 derajat. Kemiringan poros inilah yang membuat cahaya matahari tidak terbagi rata ke seluruh penjuru Bumi sepanjang tahun.

Mari kita lihat wilayah yang punya banyak musim dulu umumnya empat musim seperti di Eropa, Amerika Utara, atau Asia Timur. Karena letak negara-negara ini agak di atas (utara) atau di bawah (selatan) dari garis khatulistiwa, kemiringan Bumi memberikan efek yang signifikan. Saat belahan bumi utara sedang condong menghadap matahari, wilayah mereka kebagian sinar yang sangat terpusat dan durasi siang yang panjang. Jadilah musim panas.

Enam bulan kemudian, posisi Bumi bergeser. Belahan utara ganti condong menjauhi matahari. Sinar yang datang jadi miring, energinya tersebar luas namun melemah, dan waktu siangnya jadi sangat pendek. Suhu udara pun anjlok drastis dan lahirlah musim dingin. Nah, masa transisi atau perpindahan posisi di antara dua titik ekstrem inilah yang memunculkan musim gugur dan musim semi.

Lalu, bagaimana ceritanya wilayah tropis seperti negara kita hanya terdapat dua musim?

Letak khatulistiwa ada tepat di "pinggang" Bumi. Karena posisinya yang berada di tengah-tengah itu, kemiringan 23,5 derajat tadi nyaris tidak memberikan pengaruh berarti terhadap sudut datangnya cahaya matahari. Sepanjang tahun, kawasan ekuator selalu mendapat sinar matahari yang tegak lurus dan konstan. Durasi siang dan malamnya pun selalu imbang, nyaris persis 12 jam. Akibatnya, suhu udara di wilayah tropis cenderung selalu hangat dan stabil sepanjang tahun, tidak pernah turun sampai beku atau naik terlalu ekstrem.

Karena suhu udaranya stabil dan tidak punya variasi musim dingin atau panas, alam menggunakan cara lain untuk menandai pergantian waktu di wilayah tropis melalui curah hujan. Panas matahari yang terus-menerus memanasi ekuator ini menggerakkan sirkulasi udara dan pola pergerakan angin monsun. Pergerakan angin yang membawa uap air laut inilah yang kemudian menciptakan siklus musim hujan dan musim kemarau.

Pada akhirnya, jumlah musim yang kita rasakan sepenuhnya ditentukan oleh di belahan Bumi sebelah mana kita berpijak.