Memahami Ekstremnya Cuaca di Planet Venus, Mars, dan Jupiter

Mahasiswa Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rafli Iqbal Taufiqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saat sedang mengeluhkan suhu panas atau hujan badai di Bumi, kita sering lupa satu hal yaitu cuaca di planet kita ini sebenarnya sangat ideal. Bumi dianugerahi lapisan atmosfer yang pas untuk mendukung kehidupan. Udara yang kita hirup sehari-hari didominasi oleh nitrogen dan oksigen, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh planet lain di tata surya. Kalau kita iseng menengok kondisi atmosfer di planet tetangga, dinamika cuacanya di sana benar-benar ekstrem.

Seperti contoh Venus. Banyak orang menyebutnya sebagai kembaran Bumi karena ukuran keduanya hampir sama. Tapi jangan salah, kondisi cuaca di sana lebih panas. Atmosfer Venus dipenuhi 95 persen gas karbon dioksida dan tertutup awan asam yang sangat pekat. Kandungan gas masif ini memicu efek rumah kaca yang melewati batas. Akibatnya, panas matahari terperangkap rapat dan mendidihkan suhu permukaannya hingga 480 derajat Celcius.
Bukan cuma panasnya yang ekstrem, tekanan udara di Venus juga sangat ekstrem, mencapai 90.000 milibar. Angka ini 90 kali lipat lebih kuat dari tekanan udara di pantai-pantai Bumi. Bayangkan saja rasanya berada air laut di kedalaman 900 meter, tubuh manusia pasti langsung hancur seketika jika nekat berdiri di daratannya.
Beda lainnya dengan Mars. Planet Merah ini justru punya atmosfer yang kelewat tipis dengan tekanan cuma sekitar 7 milibar. Walaupun udaranya sama-sama didominasi karbon dioksida, lapisan atmosfer Mars tidak mampu menahan panas matahari karena terlalu tipis. Sehingga, panas tersebut lepas begitu saja ke luar angkasa dan membuat suhu rata-rata di sana turun sampai beku di angka minus 60 derajat Celcius.
Di daratan Mars yang beku dan kering ini, ancaman cuaca paling menakutkan adalah badai debu raksasa. Angin dengan kecepatan ratusan kilometer per jam sering menyapu permukaannya, menerbangkan material pasir, dan menutupi hampir seluruh wilayah planet dengan kabut debu kemerahan yang pekat.
Kalau kita melihat lebih jauh lagi dari matahari, ada Jupiter. Planet raksasa ini wujudnya murni gas, tanpa daratan padat sama sekali. Udara di Jupiter sebagian besar terdiri dari hidrogen dan helium, dengan sedikit metana dan amonia.
Fenomena cuaca paling mengerikan di Jupiter bisa dilihat dari sebuah pusaran oval ikonik yang dikenal sebagai Great Red Spot atau Bintik Merah Raksasa. Jangan tertipu tampilannya yang cantik di foto. Bintik itu aslinya adalah badai luar biasa besar yang terus berputar berlawanan arah jarum jam dan tidak pernah berhenti. Ukuran satu badai merah tersebut cukup untuk menelan tiga planet seukuran Bumi sekaligus.
Melihat betapa ektrem, beracun, dan berbahayanya badai di planet-planet tersebut, rasanya kita patut bersyukur. Sistem iklim yang stabil di Bumi adalah keistimewaan yang sangat mahal, dan sudah sepatutnya terus kita lestarikan.
