Memahami Fenomena Microburst yang Kerap Disangka Puting Beliung

Mahasiswa Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rafli Iqbal Taufiqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah melihat video viral atap rumah terbang atau pohon raksasa tumbang seketika karena angin kencang saat hujan deras? Biasanya, orang-orang langsung menyebutnya sebagai terjangan "puting beliung". Wajar saja, karena efek kerusakannya memang mengerikan. Tapi, dalam meteorologi, angin perusak yang datang tiba-tiba itu sangat mungkin bukanlah puting beliung, melainkan fenomena yang disebut microburst.
Meski sama-sama berasal dari awan badai pekat, microburst punya cara kerja dan wujud ancaman yang berbeda dari puting beliung. Puting beliung memiliki angin yang berputar membentuk corong dan menyedot benda-benda dari bawah ke atas. Jejak kerusakannya akan terlihat melingkar dan memusat di sepanjang jalur pergerakannya.
Sebaliknya, microburst sama sekali tidak berputar. Angin ini berupa hempasan kolom udara yang meluncur lurus dan sangat kuat dari dasar awan menabrak tanah (Fujita, 1985). Coba bayangkan aliran air deras dari keran yang membentur dasar wastafel. Air tersebut akan menghantam dasar lalu menyebar kencang ke segala arah. Begitulah persisnya microburst bekerja. Makanya, jejak kerusakannya berupa pepohonan atau bangunan yang roboh searah ke luar (menyebar), bukan terpelintir.
Bagaimana angin sekuat ini bisa tiba-tiba muncul? Semuanya bermula di dalam awan Cumulonimbus yang sedang matang. Di dalam awan ini, tersimpan butiran air dan kristal es dalam jumlah yang sangat masif.
Ketika hujan es dan air ini turun melewati wilayah udara yang lebih kering di bagian bawah awan, terjadilah penguapan (evaporasi) yang sangat cepat. Penguapan ini menyerap banyak energi panas dari sekitarnya, membuat suhu udara mendadak anjlok dan menjadi sangat dingin (Wallace & Hobbs, 2006).
Secara fisika, udara dingin memiliki massa jenis yang lebih padat dan berat. Gumpalan udara dingin yang super berat ini, ditambah dengan beban air hujan yang turun deras, menciptakan gaya dorong ke bawah yang luar biasa kuat (Holton & Hakim, 2012). Kolom udara ini meluncur bebas dan menghantam tanah dengan kecepatan yang bisa menembus 100 kilometer per jam.
Umur sebuah microburst biasanya sangat pendek, rata-rata hanya berlangsung 5 hingga 15 menit saja. Area dampaknya pun relatif sempit, umumnya dengan diameter di bawah 4 kilometer.
Walaupun sebentar dan cakupannya kecil, daya rusaknya tidak main-main. Selain menumbangkan fasilitas di darat, angin ini adalah salah satu musuh terbesar di dunia penerbangan. Hempasan angin yang berubah drastis secara tiba-tiba (wind shear) bisa membuat pesawat kehilangan daya angkat (lift) secara seketika, terutama pada momen krusial saat lepas landas atau mendarat.
Referensi
Fujita, T. T. (1985). The Downburst: Microburst and Macroburst. Satellite and Mesometeorology Research Project (SMRP), University of Chicago.
Holton, J. R., & Hakim, G. J. (2012). An Introduction to Dynamic Meteorology (5th ed.). Academic Press.
Wallace, J. M., & Hobbs, P. V. (2006). Atmospheric Science: An Introductory Survey (2nd ed.). Elsevier Academic Press.
