Konten dari Pengguna

Jejak Ontbijtkoek di Semarang: Benarkah Menjadi Inspirasi Ganjel Rel?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmadinniejaad Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi roti Ontbijtkoek dan Ganjel Rel yang memiliki rupa hampir identik, sumber: https://www.pexels.com/photo/sliced-brown-bread-on-a-white-surface-8599721/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi roti Ontbijtkoek dan Ganjel Rel yang memiliki rupa hampir identik, sumber: https://www.pexels.com/photo/sliced-brown-bread-on-a-white-surface-8599721/

Sebelum bulan Ramadan tiba, warga Semarang datang ke pelataran Masjid Agung Kauman untuk membeli sajian khas Dugderan, salah satunya sepotong roti yang berwarna cokelat kehitaman bertaburkan biji wijen, bertekstur padat, dengan aroma kayu manisnya yang semerbak. Roti Ganjel Rel namanya, nama yang terdengar lebih pantas disematkan ke perkeretaapian daripada digunakan untuk nama jajanan pasar.

Tetapi di balik uniknya penamaan tersebut, terdapat kisah sejarah yang jarang disorot. Kemiripan bentuk dan penggunaan rempah membuat Ganjel Rel sering disamakan dengan Ontbijtkoek, roti rempah yang berasal dari Belanda ini diperkirakan telah eksis di Semarang saat masa kolonial Belanda pada awal abad ke-20.

Hubungan kedua roti ini masih diperdebatkan dan belum dapat dipastikan secara langsung, tetapi ada catatan arsip sezaman yang memperlihatkan keberadaan Ontbijtkoek yang diperkirakan menjadi inspirasi dari terciptanya roti Ganjel Rel ini.

Ontbijtkoek: Dari Budaya Makan Belanda, Hingga ke Hindia Belanda

Ontbijtkoek secara harfiah merupakan "roti sarapan". Tetapi roti ini tidak hanya dikonsumsi saat waktu sarapan pagi dan siang saja, melansir dari Honest Cooking&Travel roti ini ternyata lebih sering dijadikan sebagai camilan yang dipadukan dengan olesan mentega dan ditemani oleh secangkir kopi maupun teh. Kebiasaan itu membuat Ontbijtkoek menjadi makanan yang lazim dikonsumsi oleh rakyat Belanda dalam kesehariannya.

Budaya konsumsi roti sendiri telah menyatu dalam kehidupan dari masyarakat Belanda. Melansir dari Wittenborg University of Applied Sciences, budaya tersebut erat kaitannya dengan pola hidup yang lebih menekankan kesederhanaan dan kepraktisan kemudian membuat roti menjadi salah satu dari sekian banyaknya makanan yang paling umum dikonsumsi untuk sehari-hari.

Hal itu membuat Ontbijtkoek kemudian berkembang sebagai salah satu jenis roti yang populer di kalangan masyarakat Belanda.

Ketika sebagian masyarakat Belanda pindah dan menetap di Hindia Belanda, budaya konsumsi roti kemudian turut terbawa. Selaras dengan berkembangnya pusat-pusat kota sampai hadirnya berbagai toko roti yang khas Eropa, berbagai jenis roti kemudian dikenal di Hindia Belanda, salah satunya Ontbijtkoek.

Kehadiran roti tersebut di Semarang dapat ditelusuri lewat beberapa arsip surat kabar saat masa kolonial di kota Semarang.

Jejak Ontbijtkoek di Semarang

Tidak banyak bukti dan catatan pasti kapan Ontbijtkoek sampai ke Semarang, tetapi beberapa sumber memberi petunjuk mengenai keberadaan roti rempah khas Belanda telah dikenal luas di kota Semarang saat era kolonial. Mengutip buku "Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia masa Kolonial 1840-1942" karya Fadly Rahman, dijelaskan bahwa pemerintah kolonial turut serta membawa budaya kuliner dari negara asalnya, seperti kebiasaan mengonsumsi roti, yang kemudian diikuti oleh sejumlah kaum priyayi di Hindia Belanda.

Konteks tersebut nyatanya diperkuat dengan keberadaan arsip surat kabar kolonial yang diterbitkan di Semarang. Seperti iklan pada surat kabar terbitan tahun 1927 Algemeen Handelsblad Voor Nederlandsch-Indie dan arsip terbitan tahun 1937 pada kanal yang sama, sebagai penanda pengumuman tibanya stok Ontbijtkoek yang baru diimpor dari Eropa dan iklan toko roti Firma Th. Hoogvelt di kawasan Heerenstraat yang merupakan ruas jalan utama di pusat kota Semarang pada masa itu.

Iklan roti Ontbijtkoek Advertentie. "Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indièˆ". Semarang, 13-09-1927, p. 4. Geraadpleegd op Delpher op 30-06-2026, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB19:000434010:mpeg21:p00004
Iklan di toko yang sama Advertentie. "Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indièˆ". Semarang, 29-01-1937, p. 8. Geraadpleegd op Delpher op 30-06-2026, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB19:000472024:mpeg21:p00008

Heerenstraat yang terletak di dalam kawasan kompleks kota lama (Oudstadt) pada masa itu menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan permukiman warga Eropa di Semarang. Sebagai kawasan yang menjadi pusat aktivitas untuk kelompok tersebut, kawasan ini dipenuhi berbagai macam fasilitas komersial untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk keberadaan toko roti khas Eropa. Salah satu produk yang diiklankan adalah Ontbijtkoek, yang terlihat dalam arsip surat kabar terbitan tahun 1927 dan 1937.

Keberadaan Ontbijtkoek di iklan surat kabar dengan jarak terbitan 1 dekade tersebut menunjukkan bahwa roti ini bukan sebuah produk yang eksis dalam sesaat saja, tetapi telah dipasarkan rutin di kota Semarang.

Ganjel Rel: Adaptasi Kuliner atau Kebetulan?

Keberadaan Ontbijtkoek di Semarang membuatnya dapat ditelusuri pada sejumlah arsip surat kabar kolonial, tapi apa hubungannya dengan roti Ganjel Rel? Pertanyaan ini muncul karena kedua roti ini memiliki berbagai kemiripan, mulai dari bentuknya yang memanjang, berwarna coklat agak kehitaman, penggunaan rempah kayu manis, sampai biji wijen yang ditaburkan di atasnya. Kemiripan tersebut menyebabkan adanya dugaan kaitan historis di keduanya.

Meski begitu, sampai saat ini belum ditemukan sumber utama yang secara khusus menyebut Ganjel Rel merupakan hasil adaptasi dari Ontbijtkoek yang sudah dipasarkan di Semarang saat masa kolonial.

Sedangkan asal-usul roti Ganjel Rel ini lebih banyak menyebar melalui mulut ke mulut (lisan) dan juga ingatan pada masyarakat. Karena hal inilah hubungan kedua roti tersebut belum sepenuhnya dipastikan secara historis.

Arsip koran beredarnya Ontbijtkoek di Semarang saat masa kolonial membuka peluang adanya proses adaptasi kuliner. Tetapi pada roti Ganjel Rel, terdapat sebuah perbedaan pada bahan dan resep yang digunakan lebih didominasi oleh bahan lokal. Kemiripan Ontbijtkoek dan Ganjel Rel masih perlu ada bukti lebih lanjut dan bukan sebagai hubungan yang sudah pasti terbukti.

Terlepas dari hal tersebut, ada atau tidaknya kaitannya dengan Ontbijtkoek. Ganjel Rel lambat laun menyatu dan berkembang mengikuti kondisi sosial dan kebutuhan masyarakat Semarang sampai saat ini. Perubahan bahan, resep, dan ciri khasnya menunjukkan roti ini kemudian membentuk identitas kuliner lokal yang khas Semarangan.

Hingga saat ini, roti Ganjel Rel tetap hadir di berbagai toko roti, restoran, maupun toko oleh-oleh di kota Semarang dan bukan hanya hadir saat momen-momen Dugderan saja.

Kisah antara kedua roti tersebut memperlihatkan bahwa pada sejarah kuliner tidak selalu tersimpan di catatan resmi, tetapi dapat ditelusuri melalui jejak-jejak kecil seperti arsip surat kabar, sampai ke kemiripan resep yang diwariskan ke beberapa generasi.

Dari jejak-jejak ini, sejarah kuliner lokal Semarang masih menunggu untuk ditelusuri lebih dalam lagi. Arsip surat kabar era kolonial hanya menjadi salah satu petunjuk yang membantu dalam penelusuran untuk memahami bagaimana sebuah makanan dari luar dapat berubah, beradaptasi, kemudian menjadi identitas lokal kota Semarang yang bertahan sampai saat ini.