Dari Jeruji ke Tambak Udang, Cerita Rahmat Tumbuh di Lapas Nusakambangan

Stigma seram Lapas Nusakambangan kini perlahan mulai sirna dari benak Rahmat (29). Ia adalah narapidana kasus narkotika yang diterbangkan dari Lapas Bentiring Bengkulu yang kini sehari-harinya menjalani pembinaan dengan mengurus tambak udang.
Dengan GPS yang melingkar di kakinya, Rahmat diberi ruang tumbuh untuk membekali dirinya, yang dalam 8 bulan ke depan akan bebas.
“Setelah saya di tambak ini, rasa seram di Nusakambangan ini sudah enak, enggak seseram yang dibayangkan,” kata Rahmat saat ditemui di Nusakambangan pada Selasa (30/6).
“Kalau mungkin dibilang beruntung ya ada juga lah, ada pengalaman di sini juga, saya kalau mungkin di lapas daerah ya mungkin enggak ada,” sambungnya.
Rahmat sebelumnya divonis 4,5 tahun penjara. Ia pun sudah menjalani masa tahanannya selama 3,5 tahun.
Saat menjalani masa tahanannya yang sudah 2,5 tahun di Bengkulu, Rahmat melakukan pelanggaran yakni menggunakan handphone. Hal itulah yang membuat ia dipindahkan ke Nusakambangan.
Namun, bagi Rahmat, setiap peristiwa ada hikmahnya. Di Nusakambangan, ia disiapkan dengan bekal kemampuan mengurus tambak dari pagi hingga malam.
Melepas jenuh dari hari-hari sebelumnya yang hanya berhadapan dengan tembok dan jeruji. Yang menurutnya selama ini tak ia dapatkan di lapas di Bengkulu.
“Saya enjoy di udang, kalau (ngurus) ayam pulang ke lapas. Kalau ngurus udang tidur di mes. Jadi gak kayak di penjara, lebih fresh, kalau di lapas kepikiran,” kata dia.
Setiap harinya, Rahmat dan 19 rekannya yang lain memberi pakan udang 5 kali sehari. Yakni pukul 8 pagi, 10 pagi, 2 siang, 6 sore,dan 8 malam.
“Masing masing handle satu kolam. Keuntungannya dapat premi. Bonus dari tambak Rp 25 ribu per harinya,” kata dia.
“Sudah dapat Rp 2 jutaan, bisa ditabung, beli kebutuhan,” sambungnya.
Temukan Hidayah
Bagi Rahmat, selain mendapat ruang untuk bertumbuh, di Nusakambangan dirinya dibekali untuk menemukan “jalan pulang”. Dari yang tak mengenal salat, kini Rahmat bisa menjalankan kewajibannya untuk salat 5 waktu.
“Tapi dapat kesempatan berubah kedua, di darat [di luar Nusakambangan] juga memang nggak tahu salat, ngaji, benar-benar nggak tau, kita sibuk main handphone aja. Tapi setelah di sini kan bener-bener enggak ada handphone, steril,” kata dia.
“Di sini juga apalagi juga di kelas [lapas] maksimum itu benar-benar diajarin semua salat, ngaji, diwajibkanlah. Ada hikmahnya juga saya di sini, sudah bisa ngaji,” sambungnya.
Sebagai orang yang pernah berada di balik jeruji besi, Rahmat berpesan kepada warga lainnya untuk tidak melakukan pelanggaran hukum.
“Pesan-pesan saya sih, udah, enggak ada gunanya main-main yang melanggar hukum, dipenjara enggak enak, jauh dari keluarga,” tuturnya.
