Indonesia Sesalkan Kontak Senjata AS-Iran, Minta Kembali ke Meja Perundingan
·waktu baca 2 menit

Pemerintah Indonesia menyatakan keprihatinan atas kembali terjadinya kontak senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Indonesia menyerukan agar kedua pihak segera kembali ke meja perundingan dan menghentikan eskalasi konflik.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Armanatha Nasir (Tata) saat merespons pertanyaan mengenai sikap Indonesia di tengah situasi konflik AS-Iran serta rencana kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau ke Indonesia.
Menurutnya, keberlanjutan konflik tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak global, termasuk bagi Indonesia.
“Intinya kan begini ya, terkait dengan situasi di antara Iran dan Amerika Serikat ya di Selat Hormuz. Kita tentunya ingin terus mendorong agar para pihak segera kembali ke meja perundingan, kembali lakukan gencatan senjata,” ungkap Tata di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6).
“Karena bila perang ini berlanjut, tidak saja berdampak negatif dan merugikan masyarakat di negara-negara yang sedang berkonflik, baik itu di Amerika maupun di Iran, tapi juga di negara-negara di seluruh dunia termasuk di Indonesia,” lanjutnya.
Tata menegaskan Indonesia menyayangkan kembali terjadinya kontak senjata antara kedua pihak yang berkonflik. Ia menekankan pentingnya upaya deeskalasi dan penyelesaian melalui jalur diplomasi.
“Oleh karena itu kita sebenarnya menyayangkan bahwa kembali terjadi kontak senjata ya antara para pihak yang berkonflik dan kita kembali lagi menyerukan agar segera kembali lakukan gencatan senjata dan melakukan perundingan,” tuturnya.
Adapun Indonesia pernah menawarkan diri untuk berperan sebagai mediator dalam konflik tersebut. Presiden Prabowo Subianto juga sempat menyampaikan kesiapan Indonesia untuk mendukung proses dialog damai, termasuk kemungkinan pertemuan langsung dengan pihak terkait.
Tata menyebut bahwa tawaran Indonesia sebagai fasilitator perdamaian masih terbuka, namun pelaksanaannya bergantung pada kesepakatan semua pihak yang berkonflik.
“Tawaran itu selalu ada, dan tentunya ini kan membutuhkan kesepakatan dari semua pihak, dan ini adalah niat baik dari Bapak Presiden Prabowo di mana beliau selalu mengatakan siap untuk menjadi good offices ya dalam mendukung penyelesaian dari konflik ini,” ujar dia.
