Kemarau Diprediksi Panjang, Pramono Minta Warga Waspadai Kebakaran

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung usai meresmikan Bedah Rumah di Kawasan Bekas Kebakaran di Jalan Bangka III, Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung usai meresmikan Bedah Rumah di Kawasan Bekas Kebakaran di Jalan Bangka III, Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengimbau agar warga dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang dan lebih kering tahun 2026.

Hal itu disampaikan Pramono usai meresmikan program bedah rumah di kawasan bekas kebakaran Jalan Bangka III, Kelurahan Pela Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (21/7).

Pramono mengatakan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi musim kemarau tahun ini akan berlangsung panjang dengan kondisi yang lebih kering. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko kebakaran.

“Seperti kita ketahui bersama, ini kemaraunya diprediksi oleh BMKG akan panjang dan kemungkinan akan kering. Dan karena panjang dan kering, kemungkinan untuk terjadinya kebakaran dan sebagainya potensinya lebih besar,” kata Pramono kepada wartawan.

Ilustrasi Kebakaran. Foto: Shutterstock

Untuk mengantisipasi hal itu, Pemprov DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melakukan berbagai upaya pencegahan, salah satunya dengan memastikan setiap rukun warga (RW) memiliki alat pemadam api ringan (APAR).

“Maka untuk itu, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta kami juga sudah melakukan sosialisasi, termasuk setiap RW harus ada APAR-nya satu. Dan itu kalau Jakarta kan gerakan ini sudah diadakan. Itu untuk preventifnya,” ujarnya.

Selain memperkuat langkah antisipasi dari pemerintah, Pramono meminta masyarakat turut berperan aktif mencegah kebakaran dengan lebih berhati-hati dalam beraktivitas.

Ia secara khusus mengingatkan warga yang tinggal di kawasan padat penduduk agar tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun mengabaikan potensi korsleting listrik.

Pemadam kebakaran tengah berusaha memadamkan api dari bangunan yang hangus terbakar di Mampang, Jakarta Selatan, Selasa (10/2/2026). Foto: Dok. Sudin Gulkarmat Jaksel

“Kami meminta betul warga juga ikut terlibat menjaga bersama-sama terutama untuk daerah-daerah yang sensitif yang padat penduduk seperti di Tambora, Cakung, dan sebagainya. Jangan kemudian misalnya habis merokok membuang puntung sembarangan yang bisa mengakibatkan kebakaran atau korsleting,” ucap Pramono.

Pram menegaskan, Pemprov DKI akan terus menyosialisasikan langkah-langkah pencegahan kebakaran kepada masyarakat selama musim kemarau berlangsung.

“Jadi ini mari kita jaga bersama-sama. Pemerintah DKI Jakarta akan secara berulang-ulang menyampaikan kepada masyarakat untuk tindakan ini,” katanya.

Ilustrasi kemarau. Foto: Neenawat Khenyothaa/Shutterstock

Sebelumnya, BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih panjang dan didominasi kondisi bawah normal atau lebih kering dibanding biasanya. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi secara bertahap mulai Juli hingga September 2026, dengan cakupan wilayah terluas pada Agustus.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan musim kemarau kini mulai banyak dialami banyak wilayah di Indonesia.

“Berdasarkan hasil monitoring perkembangan iklim terkini, BMKG melakukan pemutakhiran informasi prediksi musim kemarau 2026. Dalam beberapa waktu ke depan, akan semakin banyak wilayah Indonesia yang memasuki periode musim kemarau,” kata Ardhasena saat dihubungi kumparan, Minggu (19/7).

BMKG mencatat, sebanyak 198 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 31,6 persen wilayah Indonesia diprediksi memasuki musim kemarau pada Juni 2026.

Sementara pada Juli 2026, sebanyak 66 ZOM atau 7,26 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau.