Kemenkes: 105 Orang Tewas, 1.672 Luka-luka Akibat Gempa di NTT

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 105 orang meninggal dunia akibat gempa bumi di Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain itu, sebanyak 1.672 orang mengalami luka-luka dan lebih dari 185 ribu warga mengungsi akibat bencana tersebut.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan, berdasarkan data yang dipaparkan pada Rabu (26/8), sebanyak 1.287 orang mengalami luka ringan dan menjalani rawat jalan. Sementara itu, 385 orang mengalami luka berat dan menjalani perawatan inap.
"Tadi pagi, korban meninggal 105 orang, luka ringan rawat jalan kurang lebih 1.287 orang, luka berat ya, dirawat inap mencapai 385 orang, pengungsi juga 185.000 lebih," kata Agus dalam Media Briefing Kemenkes melalui Zoom, Rabu (26/8).
Agus mengatakan, korban meninggal tersebar di sejumlah wilayah di NTT. Di antaranya Kabupaten Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Ende, dan Ngada.
"Nah, ini sebaran yang meninggalnya ada di Nagekeo, kemudian di Manggarai, kemudian di Manggarai Timur, Manggarai Barat, ada di Sikka, Ende, ya, kemudian di Ngada," jelasnya.
Selain korban jiwa dan luka-luka, sekitar 1,9 juta penduduk di tujuh kabupaten di Kepulauan Flores ikut terdampak gempa. Para pengungsi tersebut tersebar di 444 titik pengungsian.
"Nah, yang terdampak itu kan ada tujuh kabupaten di Kepulauan Flores ya. Yang tadi sudah saya sampaikan bahwa masyarakat yang terdampak itu dari tujuh kabupaten ada 1.917.000-an ya terdampak. Kemudian yang meninggal dunia 105 orang, kemudian luka berat ada 385, luka ringan 1.287. Kemudian ini ada juga pengungsian ya, ada 444 titik pengungsian," kata Agus.
Selain itu, terdapat lima warga negara asing (WNA) yang terdampak gempa. Namun, seluruh WNA tersebut telah kembali ke negara asalnya.
"Kemudian WNA terdampak juga ada ya, tapi semua sudah pulang ya, ada lima orang," pungkasnya.
Dari sisi dampak kesehatan, Agus mengatakan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan di tujuh kabupaten terdampak. Tercatat sebanyak 9.668 kasus ISPA.
"Kemudian ini distribusi penyakit yang paling banyak adalah ISPA, mencapai 9.668 kasus yang tersebar di tujuh kabupaten," ujar Agus.
Selain ISPA, Kemenkes mencatat 35 kasus gigitan hewan rabies di Kabupaten Nagekeo. Saat ini, seluruh korban telah mendapatkan vaksinasi.
"Ini datanya, bahkan ada kasus gigitan hewan rabies sebanyak 35 orang di Nagekeo dan alhamdulillah sudah divaksinasi semua," tuturnya.
Untuk menangani korban gempa, Kemenkes mengoperasikan rumah sakit lapangan di sejumlah wilayah terdampak. Lokasi rumah sakit lapangan tersebut berada di Aeranamo, Kabupaten Nagekeo, dan Rumah Sakit Umum Daerah Ruteng, Kabupaten Manggarai.
"Nah, perlu kami sampaikan juga bahwa rumah sakit lapangan untuk tujuh kabupaten di Kepulauan Flores ini, yang pertama ada di Aeranamo, Kabupaten Nagekeo, dan Rumah Sakit Umum Daerah Ruteng, Manggarai ya," kata dia.
Menurut Agus, rumah sakit lapangan tersebut telah melakukan tindakan operasi terhadap delapan pasien. Sementara itu, di Kabupaten Manggarai Timur masih terdapat lima pasien yang dapat ditangani.
"Di rumah sakit lapangan itu sudah melakukan tindakan operasi delapan orang. Kemudian di Kabupaten Manggarai Timur masih yang dapat ditangani ada lima orang," jelasnya.
Berdasarkan data per 25 Agustus pukul 16.00, terdapat 55 pasien kategori kuning, 11 pasien kategori hijau, dan satu pasien kategori hitam atau meninggal. Secara keseluruhan, terdapat 78 pasien dalam data tersebut.
"Sehingga total 11, kemudian yang kuning masih 55, yang hijau 11, yang hitam ya meninggal ada satu orang. Jadi totalnya 78 orang ini data per 25 Agustus pukul 16," kata Agus.
Di Kabupaten Nagekeo, layanan kesehatan juga harus dipindahkan ke rumah sakit lapangan karena kondisi bangunan rumah sakit yang mengalami keretakan akibat gempa. Menurut Agus, pemindahan layanan tersebut dilakukan agar tenaga kesehatan dan pasien tetap mendapatkan rasa aman.
"Nagekeo, nah, rumah sakitnya itu kan retak-retak ya, retak-retak sehingga layanan kesehatan berpindah ke rumah sakit lapangan dengan tenda-tenda yang tadi sudah tayang ya. Nah, ini penting sehingga rasa aman bagi tenaga kesehatan, rasa aman bagi pasien dapat kita penuhi ya," ungkapnya.
Kemenkes mencatat kebutuhan tenaga relawan kesehatan untuk penanganan gempa mencapai 316 orang yang tersebar di sejumlah kabupaten terdampak.
"Kemudian kebutuhan tenaga relawan ya, jadi relawan yang dibutuhkan 316 yang tersebar di Manggarai Barat 19 orang dengan rincian dokter umum ada 18, kemudian spesialisnya satu, kemudian di Manggarai dokter umumnya 10, ortopedinya dua, dan tenaga kesehatan yang lain sehingga totalnya 130," kata Agus.
Agus menambahkan kebutuhan tenaga kesehatan di Manggarai Timur mencapai 25 orang, Ngada 11 orang, Sikka 48 orang, dan Ende 65 orang.
“Sedangkan di Manggarai Timur untuk kebutuhan dokter umumnya 10, kemudian ortopedinya satu, kemudian dokter bedahnya enggak ada, Manggarai Timur sehingga totalnya 25 orang. Kemudian di Ngada, dokter umumnya tiga, spesialis penyakit dalam, spesialis anak, nah ini dibutuhkan semua sehingga total 11," kata Agus.
"Kemudian di Sikka dibutuhkan tenaga kesehatan ada 48, di Ende 65, sehingga totalnya 316.” tambahnya.
Kemenkes juga memberangkatkan tenaga kesehatan untuk membantu penanganan di wilayah terdampak. Pada Senin (24/8), sebanyak 207 tenaga kesehatan telah diberangkatkan, termasuk 122 orang dari Jakarta menuju tujuh kabupaten terdampak. Selain itu, terdapat tambahan 78 tenaga kesehatan yang akan bergabung ke lokasi.
"Nah, ini pemberangkatan relawan ke tujuh kabupaten ya. Kemarin Senin kita sudah memberangkatkan 207 ya, yang mana 122 orangnya berangkat dari Jakarta menuju ke tujuh kabupaten ini ya. Kemudian ada ditambah intensif sekarang 78 ya, dan akan bergabung ke lokasi yang tujuh tempat ini," kata Agus.
Penambahan tenaga kesehatan tersebut diharapkan dapat membantu penanganan kesehatan selama 14 hari ke depan bersama tenaga medis yang sudah berada di wilayah terdampak.
"Sehingga dengan demikian untuk 14 hari ke depan kita mampu menangani masalah kesehatan baik di Puskesmas maupun rumah sakit, sehingga bergabung dengan tenaga medis setempat ya baik di Puskesmas maupun di rumah sakit," tutur Agus.
Penanganan kesehatan di wilayah terdampak juga melibatkan berbagai unsur, tidak hanya Kemenkes. Mobilisasi sumber daya manusia kesehatan dari Kemenkes dan non-Kemenkes mencapai 392 orang.
"Nah, ini kalau kita lihat mobilisasi daripada SDMK oleh Kemenkes dan non-Kemenkes ada 392 ya. Kemudian ini juga terbagi ada yang mandiri, ada organisasi profesi, ada LSM, ada Pemda, ada akademisi," kata Agus.
Koordinasi penanganan dilakukan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC) di tingkat Provinsi NTT dan tujuh kabupaten terdampak.
"Nah, tentunya ini diakomodir melalui HEOC (Health Emergency Operation Center) baik di tingkat provinsi yaitu di Kupang maupun di tujuh kabupaten yang terdampak. HEOC-nya ada semua di sana dan didampingi oleh teman-teman dari pusat krisis," kata Agus.
