Kemenkes Targetkan Skrining Genomik Capai 100 Ribu Tes per Tahun pada 2030

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers usai agenda Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) ke-4 tahun 2026 di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers usai agenda Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) ke-4 tahun 2026 di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan kapasitas skrining genomik di Indonesia mencapai 100 ribu tes per tahun pada 2030.

Pernyataan itu disampaikan Budi dalam paparannya pada agenda Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) ke-4 di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (15/9).

Genomik merupakan bidang ilmu yang mempelajari keseluruhan informasi genetik atau DNA yang terdapat dalam tubuh manusia. Perkembangan teknologi genomik memungkinkan informasi tersebut dianalisis secara lebih mendalam untuk mengetahui karakteristik genetik seseorang, termasuk perubahan gen yang dapat berkaitan dengan risiko penyakit tertentu. Dalam dunia kesehatan, genomik kini mulai dimanfaatkan untuk mendukung pencegahan penyakit, diagnosis, hingga pemilihan pengobatan yang lebih sesuai dengan kondisi genetik masing-masing pasien.

Budi mengatakan, kapasitas skrining genomik di Indonesia meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Saat pertama kali menjabat sebagai menteri kesehatan, kapasitas pemeriksaan genomik disebut masih di bawah 500 tes per tahun.

“Ketika saya bergabung, kapasitas kami kurang dari 500 tes per tahun. Sekarang sudah mencapai 12.500, dan kami menargetkan 100 ribu tes per tahun pada 2030,” kata Budi.

Peningkatan kapasitas tersebut juga diarahkan untuk membangun basis data genomik nasional. Nantinya, data hasil pemeriksaan dapat dianalisis menggunakan machine learning dan artificial intelligence (AI).

“Kami ingin menggunakan hasil skrining darah ini untuk membangun basis data genomik nasional, sehingga kami dapat melakukan analisis menggunakan machine learning dan AI,” jelas Budi.