Mendiktisaintek Sebut Motif Pemalsuan Riset di Denmark untuk Dapat Travel Grant
·waktu baca 5 menit

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, mengungkap motif yang diduga melatarbelakangi kasus pemalsuan riset oleh sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi ilmiah internasional di Kopenhagen, Denmark.
Brian menyebut, keempat terduga pelaku memiliki motif untuk memanfaatkan travel grant ke luar negeri. Travel grant adalah bantuan dana untuk perjalanan mempresentasikan riset.
“Jadi, memang cukup kuat saat ini dugaan bahwa mereka ingin memanfaatkan travel grant ke luar negeri. Tapi tentu, ini memiliki atau sangat bermasalah dari sisi etik dan integritas,” kata Brian usai rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6).
Brian mengatakan pihaknya telah membentuk tim khusus untuk menindaklanjuti kasus tersebut. Tim itu juga melibatkan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), mengingat keempat pelaku diketahui merupakan alumni kampus tersebut.
“Kita sudah membentuk tim khusus untuk tindak lanjut. Tim ini juga ada dari pimpinan UNY, ya. Kenapa UNY? Karena kesamaan dari semua yang terduga melakukan pelanggaran, ini lulusan dari UNY,” ungkap Brian.
Ia kemudian berkoordinasi dengan UNY untuk melakukan pendalaman. Brian menyebut empat orang yang diduga terlibat telah dipanggil dan dimintai keterangan terkait motif maupun aktivitas mereka.
“UNY juga telah berkoordinasi dengan kami, sudah mengundang langsung keempat terduga tersebut. Dan sudah diwawancarai, motif dan lain sebagainya,” tutur dia.
Brian menegaskan tindakan tersebut tidak hanya bermasalah secara etika akademik, tetapi juga berpotensi merusak reputasi penelitian Indonesia di mata dunia internasional.
“Dan yang sangat disayangkan juga adalah dengan kasus ini, maka kredibilitas penelitian di Indonesia juga kemudian akan disangsikan,” tuturnya.
Meski demikian, Brian meminta publik tetap melihat persoalan tersebut secara proporsional dan tidak menggeneralisasi seluruh peneliti Indonesia.
“Ada banyak peneliti Indonesia yang betul-betul melakukan penelitian, berkualitas, berkelas dunia. Jangan sampai hanya gara-gara tindakan oknum-oknum ini kemudian mejudge bahwa semua penelitian kita bermasalah,” ungkap Brian.
Ia juga mengungkapkan hingga saat ini jumlah terduga pelaku yang sedang didalami masih empat orang.
“Sampai saat ini masih empat orang. Karena ada beberapa nama yang mungkin banyak ya, ternyata kan tidak tahu-menahu. Jadi, sampai saat ini masih empat orang,” ucapnya.
Brian menambahkan pemerintah mendorong tim investigasi bekerja cepat karena kasus tersebut telah mendapat perhatian luas dari masyarakat dan dinilai mencoreng nama Indonesia di forum internasional.
Menurut Brian, indikasi penyalahgunaan travel grant sebenarnya telah lama menjadi perhatian. Bahkan, saat dipanggil UNY, salah satu terduga pelaku diketahui baru kembali dari Jepang.
“Iya sudah banyak, sudah banyak. Jadi kejadian-kejadian ini, ini ternyata banyak ya. Bahkan kemarin ketika UNY mengundang, yang bersangkutan baru saja dari Jepang, gitu,” ungkapnya.
Ia mengatakan sejumlah pihak juga telah menyampaikan informasi kepada lembaga pemberi grant terkait dugaan pelanggaran tersebut. Namun keputusan lebih lanjut tetap berada di tangan lembaga penyelenggara maupun pemberi bantuan.
“Jadi ini sebenarnya beberapa pihak juga sudah mengirimkan informasi kepada penyelenggara yang memberi grant-nya itu ya. Sudah ada upaya untuk menyampaikan bahwa ini, tapi kan mungkin juga perlu verifikasi dan sebagainya dan itu otoritas kan ada di pemberi grant, begitu,” ujar Brian.
Brian menegaskan pemerintah akan terus memproses kasus tersebut, termasuk mencari kemungkinan langkah hukum yang dapat ditempuh terhadap para terduga pelaku.
“Secara etika ini kan mencoreng nama baik penelitian di Indonesia. Kami melihat juga banyak peneliti-peneliti Indonesia yang sangat kredibel, yang sangat bagus, yang dedikasi tinggi, tentu namanya menjadi tidak bagus karena hal-hal yang seperti ini. Sehingga kami tetap akan memproses,” ungkap Brian.
“Dari tim hukum kami sedang mencari celah apa yang bisa digunakan untuk melakukan proses tindakan hukum lebih lanjut. Karena kami sepakat bahwa ini perlu ada efek jera, dan juga perlu juga untuk membesarkan hati teman-teman kita peneliti yang memang serius melakukan penelitian, serius menyiapkan bahan dan pergi ke luar negeri,” sambungnya.
Brian juga membantah dugaan bahwa motif tindakan tersebut berkaitan dengan pengumpulan angka kredit dosen atau KUM (Kredit Unit Minimum). Sebab, para terduga pelaku bukan merupakan dosen aktif.
“Jadi kalau tadi disampaikan apakah ini motifnya karena KUM itu tidak Bapak. Karena mereka bukan dosen, mereka tidak mengumpulkan KUM,” tuturnya.
“Tetapi motifnya adalah, setelah beberapa hal kami dapati, mereka ingin mendapatkan travel grant. Jadi memang ada beberapa lembaga yang memberikan bantuan untuk dosen-dosen muda menghadiri konferensi internasional gitu ya, peneliti-peneliti muda. Nah, ini yang kemudian dimanfaatkan secara tidak bijak ya, oleh oknum-oknum ini,” pungkasnya.
Sebelumnya, dugaan skandal pemalsuan riset ini diungkap oleh Wa Ode Dwi Daningrat di akun Instagramnya, Senin (25/5) lalu, dan viral di media sosial.
Wa Ode Dwi Daningrat atau Dwi merupakan peneliti Indonesia yang berkiprah di bidang clinical medicine di University of Oxford. Dwi menemukan kejanggalan terhadap abstrak ilmiah yang disodorkan sekelompok periset tersebut dalam ISPPD 2026 yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026.
ISPPD atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases merupakan forum ilmiah global utama di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokal. Forum ini mempertemukan ribuan ilmuwan, dokter, epidemiolog, dan peneliti kesehatan dari berbagai negara.
Menurut Dwi, sekelompok periset itu menyodorkan 19 abstrak yang dipamerkan dalam acara tersebut. Menurutnya, jumlah abstrak sebanyak itu tidak masuk akal dibuat dalam waktu singkat. Terlebih, kata dia, abstrak tersebut tidak akurat dan mengandung fabrikasi data termasuk penggunaan artificial intelligence (AI).
