Nestapa Warga Meruya, Pakai Air Harus Gantian dengan Tetangga

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sopian (24), warga Meruya Selatan yang juga terdampak kemarau panjang saat ditemui, Selasa (15/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sopian (24), warga Meruya Selatan yang juga terdampak kemarau panjang saat ditemui, Selasa (15/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Debit air sumur warga di Jalan Bunga II, RT 004/RW 005, Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta Barat, mulai menyusut. Kondisi tersebut membuat sejumlah warga harus mengatur giliran menggunakan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sopian (24), warga setempat, mengatakan debit air sumur mulai berkurang sejak akhir Agustus 2026. Penurunan debit terasa ketika warga menyalakan keran secara bersamaan.

“Kalau satu rumah sih tetap kecil ya. Enggak kecil banget, cuma debit airnya berkurang sekitar 30 sampai 40 persen dari biasanya,” kata Sopian saat ditemui, Selasa (15/9).

Sopian mengatakan, satu mesin air selama ini digunakan oleh empat rumah. Sebelumnya, dua rumah dapat menyalakan air secara bersamaan tanpa mengganggu debit air. Namun, kondisi tersebut kini berubah.

“Kalau dulu nyalain air dua rumah pun masih deras, cuma kalau sekarang dua rumah nyalain sudah mulai kecil,” ujarnya.

Kondisi itu membuat warga harus saling berkomunikasi sebelum menggunakan air. Mereka terkadang meminta tetangga mematikan keran terlebih dahulu agar air bisa digunakan.

“Bahkan kalau kita dulu nyalain barengan enggak apa-apa, kalau sekarang pasti bakal nanya sama tetangganya, ‘Lagi nyalain air enggak? Tolong matiin dulu ya karena saya mau pakai’,” kata Sopian.

Sebuah keran air mengalami kekeringan di Meruya Selatan, Selasa (15/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Warga Harus Menunggu Air Tertampung

Sopian mengatakan berkurangnya debit air juga berdampak pada aktivitas pagi hari. Warga biasanya menampung air sejak malam untuk mengantisipasi penggunaan air pada pagi hari.

Menurutnya, waktu yang dibutuhkan untuk mengisi empat ember kini mencapai sekitar 10-15 menit. Padahal sebelumnya, jumlah air yang sama dapat tertampung dalam waktu kurang dari lima menit.

“Biasanya deras banget, terus sekarang sudah mulai agak enggak deras,” katanya.

“Kalau dulu sih biasanya buat ngisi beberapa ember paling enggak enggak sampai 5 menit. Sekarang bisa 10 sampai 15 menit,” sambung Sopian.

Ia mengaku kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitas sehari-hari karena warga membutuhkan waktu lebih lama untuk menampung air sebelum digunakan.

“Karena kan biasa kita apa-apa cepat, kelar mandi jadi harus ekstra waktu lagi buat nampung air dan lain sebagainya. Karena lama juga tuh karena debit air kecil,” ujarnya.

Sebuah keran air mengalami kekeringan di Meruya Selatan, Selasa (15/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Sopian menuturkan air yang digunakan warga berasal dari sumur dan sudah dimanfaatkan sejak rumah tersebut dibangun. Ia belum berencana beralih menggunakan air PAM karena air sumur masih mengalir meski debitnya berkurang.

“Sejauh ini masih lihat dulu. Karena masih bisa keluar airnya. Cuma kalau nanti ternyata kering banget, enggak bisa keluar-keluar, ya mungkin akan saya coba pikirin untuk alihin ke PAM,” katanya.

Sopian menyebut kondisi serupa pernah terjadi pada sekitar 2022-2023 lalu ketika musim panas berlangsung cukup panjang. Namun, menurutnya, penurunan debit air tahun ini terasa lebih parah.

“Lebih parah yang sekarang kalau saya rasa. Lumayan bedanya,” tuturnya.

Warga Bergantian Pakai Air

Aruni (64), warga Meruya Selatan yang terdampak kemarau panjang saat ditemui, Selasa (15/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Sementara itu, Nenek Aruni (64), warga lainnya, mengatakan debit air di lingkungannya juga mulai berkurang dalam dua hingga tiga bulan terakhir.

Menurut Aruni, sebelumnya tiga rumah dapat menggunakan air secara bersamaan dengan lancar. Kini, warga harus bergantian karena rumah yang berada di bagian ujung bahkan hanya mendapatkan air dalam jumlah sangat sedikit.

“Pokoknya tadinya kan gede banget bertiga tuh. Kalau sekarang memang berkurang. Jadi kalau dipakai dua rumah, iya, berhenti dulu,” kata Aruni.

“Kalau sekarang tiga rumah nyalain? Kagak ada. Yang paling ujung Ema kagak dapat. Netes doang kayak ngiler,” ujarnya.

Aruni mengatakan warga tidak memiliki aturan tertulis terkait penggunaan air. Mereka mengandalkan tenggang rasa dengan menyesuaikan kebutuhan masing-masing rumah.

Kondisi air yang mengalir kecil dari rumah Aruni (64), warga Meruya Selatan yang terdampak kemarau panjang pada Selasa (15/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

“Enggak ada aturan tertulis, pakai tenggang rasa aja lah. Kalau dia pakai, kita pakai juga, dia kagak dapat, kita borong-borong, kan begono,” katanya sambil tertawa.

Kondisi tersebut juga membuat aktivitas mencuci harus disesuaikan dengan jadwal tetangga. Menurut Aruni, warga yang memiliki anak sekolah menjadi prioritas menggunakan air pada waktu tertentu.

“Terutama yang masih punya anak sekolah-sekolah kan? Nah itu dulu, prioritas lah mereka. Kita yang orang di rumahan ya entar aja kapan,” tuturnya.

Aruni berharap pemerintah dapat memberikan bantuan apabila kondisi kekeringan semakin parah. Namun, untuk saat ini, warga masih berupaya menyesuaikan penggunaan air dengan kondisi debit sumur.

“Kalau memang ada bantuan kenapa enggak sih? Yang penting bantuannya benar-benar dibantu,” kata Aruni.