Siswa di Jaktim Edit Foto Siswi Jadi Vulgar Pakai AI, Berujung Dianiaya

Seorang siswa SMP di Jakarta Timur diduga mengedit foto sejumlah siswi menjadi gambar vulgar menggunakan artificial intelligence (AI). Perbuatan itu kemudian memicu penganiayaan terhadap pelaku yang diduga dilakukan oleh teman dari sejumlah korban.
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Timur I Made Budi mengatakan pihaknya telah mengetahui informasi mengenai dugaan pengeditan foto tersebut, tetapi belum menerima laporan dari para korban.
"Iya sudah. Namun kami belum menerima laporan para korban," kata Made kepada kumparan, Jumat (25/9).
Di sisi lain, siswa yang diduga mengedit foto tersebut disebut menjadi korban penganiayaan. Made mengatakan penganiayaan diduga dilakukan oleh teman-teman siswi yang fotonya diedit karena tidak terima dengan perbuatan tersebut.
"Pelaku yang mengedit dianiaya oleh teman para korban. Karena kesal atas perbuatannya," ujar dia.
Kasus dugaan penganiayaan itu terjadi di dua lokasi, yakni Jalan Tiner serta kawasan Waduk Ria Rio, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Berdasarkan keterangan orang tua siswa yang mengedit foto siswi tersebut kepada polisi, penganiayaan pertama terjadi pada Selasa (15/9) hingga Rabu (16/9). Sepulang sekolah, korban disebut diminta datang ke sebuah warung di samping SD 01 Kayu Putih.
Dari lokasi tersebut, korban kemudian diminta naik motor dan dibawa ke sebuah rumah kosong. Di sana, korban diduga dipukul pada bagian hidung, telinga, dan kepala. Dada korban juga disebut ditendang oleh beberapa orang yang masih dalam penyelidikan.
Salah satu orang yang diduga terlibat juga disebut mengancam korban menggunakan katana atau samurai.
Pada Rabu (16/9), korban disebut kembali dibawa ke kawasan Waduk Ria Rio, Kayu Putih. Di lokasi tersebut, korban diduga dipukul pada bagian kepala dan ditampar pada kedua telinganya. Perut korban juga disebut beberapa kali ditendang.
Made mengatakan penganiayaan tersebut diduga berkaitan dengan tindakan korban yang sebelumnya mengedit foto siswi-siswi menjadi gambar vulgar.
"Adapun sebelumnya korban mengedit foto siswi-siswi menjadi foto vulgar, lalu teman-teman siswi-siswi tersebut tidak menerima sehingga melakukan kekerasan fisik terhadap korban," ujarnya.
Polisi masih mendalami informasi mengenai dugaan penganiayaan tersebut maupun dugaan pembuatan foto vulgar menggunakan AI. Hingga kini, polisi juga masih menunggu laporan dari para korban yang fotonya diduga diedit.
