15 Contoh Zat Aditif dalam Makanan dan Fungsinya

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam makanan sering kali ditambahkan zat aditif untuk membuatnya lebih menarik dan awet. Contoh zat aditif, yaitu MSG, tartrazine, natrium benzoat, dan lain sebagainya.
Penambahan zat aditif dalam makanan berguna sebagai penyedap, pewarna, dan pengawet. Kenali apa saja zat yang termasuk ke dalam kategori zat aditif agar lebih paham terhadap makanan yang dikonsumsi.
15 Contoh Zat Aditif dalam Makanan beserta Fungsi
Mengutip dari buku Keracunan Makanan Buku Ajar Ilmu Gizi, Dr. Arisman, MB, M.Kes (hal. 54-55), zat aditif adalah bahan kimia yang dicampurkan ke dalam makanan, secara langsung atau tidak langsung dalam jumlah tertentu, untuk tujuan pemrosesan, pengawetan, atau memperbaiki rasa, tekstur, dan tampilan makanan. Adapun contoh zat aditif yang sering ditambahkan pada makanan.
1. Penguat Rasa atau Penyedap
Zat aditif yang masuk dalam kelompok penguat rasa adalah sebagai berikut.
Monosodium glutamat (MSG): Penguat rasa umami atau gurih, terdapat dalam vetsin atau micin.
Sirup jagung fruktosa tinggi: Penguat rasa manis
Aspartam: Menguatkan rasa manis pada minuman
Sukralosa: Penguat rasa manis
Sakarin: Untuk memberi sensasi manis pada makanan
2. Pewarna Makanan
Zat aditif yang termasuk pewarna:
Tartrazine 102: Pewarna makanan dengan warna kuning
Yellow 2G107: Pewarna buatan warna kuning
Sunset yellow FCF110: Memberi warna kuning pada makanan
Cochineal 120: Memberi warna merah pada makanan
Erythrosine: Pewarna merah pada makanan
3. Pengawet Makanan
Contoh golongan zat aditif yang semuanya bermanfaat untuk mengawetkan makanan.
Benzoat 210, 211, 212, 213
Nitrat 249, 250, 251, 252
Sulfit 220, 221, 222, 223, 224, 225, dan 228
Sodium Nitrit
Natrium Benzoat
Baca juga: 3 Contoh Zat Pemanis Buatan dan Dampaknya untuk Kesehatan Manusia
Zat Aditif yang Sudah Dilarang di Indonesia
Terdapat beragam zat aditif yang dipakai di Indonesia, sebagian aman dan layak dikonsumsi. Namun, ada sebagian yang telah dilarang peredarannya.
Beberapa zat aditif yang sudah tidak boleh dipakai lagi adalah asam borat (boraks), formalin, kalium bromat, dietilpirokarbonat, dulsin. Zat-zat tersebut biasa digunakan untuk salep kulit, antiseptik, pembasmi serangga, antijamur, dan bahan deterjen. Sehingga tidak layak untuk dikonsumsi dan masuk ke dalam tubuh manusia.
Apabila sampai tertelan, akan banyak bahaya yang dirasakan pengonsumsinya, yaitu mual, muntah, sakit perut, diare, sakit ginjal, membahayakan hati, dan saluran pencernaan.
Contoh zat aditif di atas adalah kategori zat tambahan pada makanan yang masing-masing memiliki fungsi berbeda. (IMA)
