2 Cerita Anak Islami tentang Kejujuran Singkat dan Bisa Diteladani Anak-anak

Ragam Info
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kejujuran adalah suatu sikap yang harus dimiliki setiap orang. Berperilaku jujur perlu diajarkan sejak usia dini, salah satunya lewat dongeng atau cerita islami. Salah satu contoh cerita anak islami tentang kejujuran adalah kisah Abdullah bin Masud.
Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), jujur berarti lurus hati, tidak berbohong (misalnya dengan berkata apa adanya). Maka dari itu, orang yang memiliki sifat jujur, akan mendapat kepercayaan dari orang lain.
2 Contoh Cerita Anak Islami tentang Kejujuran
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengajarkan kejujuran pada anak, salah satunya melalui dongeng atau cerita islami.
Di bawah ini adalah contoh cerita anak islami tentang kejujuran yang bisa diceritakan kepada anak-anak, agar bisa diteladani.
1. Kisah Abdullah bin Mas'ud si Penggembala Kambing yang Jujur
Kisah pertama adalah tentang kejujuran seorang pemuda bernama Abdullah bin Mas'ud, yang merupakan seorang penggembala kambing yang hidup di zaman Rasulullah saw.
Abdullah bin Mas'ud adalah seorang penggembala kambing yang hidup pada zaman nabi Muhammad Saw. Sehari-hari, Abdullah bin Mas'ud menggembalakan kambing milik seorang petinggi Quraisy yang bernama Uqbah bin Abi Muaith.
Abdullah bin Mas'ud merupakan seorang yang mempunyai sifat jujur. Hal ini terbukti saat suatu hari Rasulullah Saw dan sahabatnya yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq datang dan meminta susu dari kambing gembalanya.
Namun, Abdullah bin Mas'ud menolak memberikan susu tersebut. Ia berkata, "Kambing-kambing ini bukan milik saya. Saya hanya memeliharanya."
Mendengar jawaban itu, Rasulullah Saw dan Abu Bakar Ash Shiddiq tidak marah. Beliau malah senang mendengar jawaban jujur dari penggembala itu.
2. Kisah Kejujuran Syeikh Abdul Qadir al-Jilani
Cerita ini diambil dari buku Kisah-kisah Keteladanan Pilihan untuk Anak, Abdul Wahid Hasan, (halaman 10). Diceritakan bahwa dalam sebuah majelis taklim, Syeikh Abdul Qadir al-Jilani bercerita sambil mengenang masa kecilnya.
"Dulu, pada tanggal 9 Dzulhijjah ketika aku masih kecil, aku pergi ke sawah untuk membajak. Aku membajak sawah dengan memakai bantuan sapi. Ketika sedang asyik membajak sawah, salah satu sapiku menoleh ke belakang dan bersuara, 'Abdul Qadir, kamu tidak diciptakan Allah untuk menjadi tukang bajak sawah.'"
"Mendengar kata-kata sampai itu, aku merasa aneh sekaligus takut. Segera kutinggalkan sawahku dan pulang ke rumah. Hatiku terus berdebar-debar. Aku lalu naik ke atap rumah. Dari sana, samar-samar aku dapat melihat orang-orang yang sedang melakukan wukuf di Padang Arafah. Aku turun dari atas atap rumah dan menemui ibu."
"Bu, pasrahkanlah anakmu ini kepada Allah. Restuilah aku untuk melakukan perjalanan jauh menuju negara Irak (Baghdad). Aku akan mencari dan belajar. Aku akan mengunjungi para ulama yang saleh," kata Abdul Qadir meminta restu pada sang ibu.
Mendengar hal itu, sang ibu pun terharu. Beliau kemudian berkata, "Anakku, ayahmu mewariskan uang sebanyak 80 dinar kepadaku. Uang itu akan kubagi dua, untukmu dan untuk adikmu."
Ibunda Abdul Qadir lalu membuatkan semacam saku baru di bajunya, tepatnya di bawah ketiak. Setelah itu, beliau berpesan, "Anakku, berjanjilah pada Ibu bahwa kamu akan selalu berkata jujur dalam hidupmu."
"Insya Allah, Bu. Aku akan selalu melaksanakan pesanmu. Semoga aku mampu," kata Abdul Qadir sambil berpamitan.
Kemudian, berangkatlah Abdul Qadir menuju Baghdad bersama kafilah yang lain. Sesampainya di daerah Hamdan, tiba-tiba ada 60 orang penunggang kuda yang menghadang perjalanan mereka.
Orang-orang itu ternyata adalah kawanan perampok. Satu per satu harta orang-orang dalam rombongan kafilah itu disikat habis. Hingga kemudian, seseorang mendekati Abdul Qadir.
"Hai orang miskin, kamu punya apa?" tanya perampok itu sambil menggertak.
"Aku tidak punya apa-apa. Aku hanya punya uang sebanyak 40 dinar," jawab Abdul Qadir.
"Di mana uangmu?" tanya perampok itu lagi.
"Tersimpan di saku bajuku. Di bawah ketiakku." Abdul Qadir menjawab dengan jujur, seperti pesan sang ibu.
Mendengar jawaban itu, si perampok pun memeriksa saku baju yang tersimpan di bawah ketiak Abdul Qadir. Ternyata benar, perampok itu menemukan uang 40 dinar.
Perampok itu pun berkata, "Hei anak kecil, ternyata kamu benar. Aku kira kamu tadi berbohong dan main-main. Mengapa kamu berani berkata jujur seperti ini?"
Abdul Qadir pun menjawab, "Karena ibuku telah berpesan agar aku jangan pernah berbohong selama hidupku. Aku tidak mau mengkhianati perjanjianku dengan beliau."
Mendengar jawaban Abdul Qadir, tiba-tiba pemimpin perampok itu terisak-isak dan menangis sesenggukan. Air matanya mengalir di pipinya yang keras dan kasar.
Berkat kejujuran Abdul Qadir, perampok itu pun tergugah untuk bertaubat.
Baca juga: 2 Cerita Saat Liburan Tahun Baru Singkat yang Berkesan
Demikianlah 2 cerita anak islami tentang kejujuran yang bisa diceritakan kepada anak-anak. Semoga kisah dua orang yang jujur ini dapat menginspirasi anak-anak untuk memiliki sifat yang jujur. (ARN)
