2 Cerpen tentang Bullying Singkat di Lingkungan Sekolah

Ragam Info
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerpen tentang bullying singkat merupakan salah satu karya sastra yang dapat dijadikan referensi bacaan. Pasalnya, cerpen tentang bullying umumnya memiliki pesan moral yang menyentuh hati dan berguna untuk kehidupan sehari-hari.
Cerpen sendiri merupakan karya sastra dalam bentuk tulisan yang mengisahkan tentang sebuah cerita fiksi. Umumnya, cerpen dikemas secara pendek, jelas, dan ringkas.
Mengenal Topik Bullying di Lingkungan Sekolah
Terdapat berbagai topik yang bisa diangkat ke dalam cerpen, salah satunya adalah topik bullying di lingkungan sekolah.
Dikutip dari buku Bullying dalam Perspektif Psikologi (Teori Perilaku), Irmayanti dan Agustin (2023:8), bullying adalah perilaku yang dilakukan secara sadar dan sengaja, berulang kali dalam waktu yang relatif lama, terdapat ketidakseimbangan kekuatan, sistematis dan terorganisir.
Bullying bertujuan untuk menyakiti orang lain, dalam hal ini adalah korban dan dapat terjadi dalam beberapa bentuk, yaitu dalam bentuk verbal, fisik, dan mental.
Fenomena bullying dapat terjadi di lingkungan sehari-hari, salah satunya di lingkungan sekolah. Tindakan bullying harus menjadi perhatian khusus dan tidak dapat disepelekan pihak sekolah.
Pasalnya, banyak dampak negatif yang akan dirasakan oleh korban maupun pelaku, di antaranya timbulnya gangguan emosi, gangguan tidur, masalah mental, hingga penurunan prestasi.
Baca juga: Ciri-ciri Pelaku Bullying yang Perlu Diwaspadai
2 Cerpen tentang Bullying Singkat di Sekolah
Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan untuk memberantas bullying di lingkungan sekolah adalah dengan membaca cerpen tentang bullying.
Harapannya, pembaca dapat meresapi pesan moral yang ada pada cerpen sehingga langsung dapat diterapkan di lingkungan sekolah. Berikut 2 cerpen tentang bullying singkat di lingkungan sekolah yang dapat dibaca.
1. Cerpen Bullying - Di Balik Tawa Ceria
Tersimpan kisah pilu seorang anak bernama RIdwan yang menjadi korban bullying di sekolahnya. Ia memiliki postur tubuh yang kecil dan kurus, sehingga membuat Ridwan menjadi sasaran empuk teman-temannya yang suka mengejek.
Setiap hari, Ridwan harus menghadapi hinaan dan lelucon dari teman-temannya dengan sebutan yang tidak pantas. Ridwan merasa sangat tertekan dan tidak berdaya. Ia hanya bisa diam dan menyembunyikan rasa sakitnya di balik senyuman palsu.
Suatu hari, Ridwan menemukan sebuah buku di perpustakaan sekolah. Buku itu berisi tentang kisah-kisah orang yang berhasil mengatasi bullying. Ridwan membaca buku itu dengan penuh semangat. Ia merasa termotivasi oleh kisah-kisah tersebut.
Keesekan harinya, ketika Ridwan sedang berjalan di koridor sekolah, dia kembali menjadi sasaran ejekan teman-temannya. Namun, kali ini ia tidak tinggal diam.
Ia menatap teman-temannya dengan berani dan berkata, “Kalian tidak boleh mengejekku lagi. Aku tidak akan membiarkan kalian terus menyakitiku.”
Teman-teman Ridwan terkejut melihat keberaniannya. Mereka akhirnya berhenti mengejek RIdwan dan mulai menghormatinya. Semenjak itu, Ridwan terbebas dari bullying.
Ia menyadari bahwa diam dan menahan rasa sakit bukanlah solusi. Ia harus berani melawan bullying untuk melindungi dirinya sendiri.
2. Cerpen Bullying - Kata yang Menyayat Hati
Sintia terbangun dari tidurnya. Hari ini adalah hari pertama ia masuk sekolah di kelas 7.
Sintia adalah seorang gadis yang cantik dan cerdas. Ia memiliki banyak teman di lingkungannya. Namun ketika Sintia masuk sekolah, ia mulai menjadi korban perundungan verbal.
Teman sekolahnya sering mengejek Sintia karena penampilannya yang berbeda. Mereka memanggilnya dengan sebutan yang tidak pantas.
Sintia sangat sedih dan tertekan karena perundungan tersebut. Ia merasa tidak percaya diri, menarik diri dari teman-temannya, hingga mengalami kesulitan belajar.
Suatu hari, Sintia bertemu dengan seorang guru baik hati bernama Pak Budi. Pak Budi mengajak Sintia untuk berbicara. Setelah mendengar cerita Sintia, Pak Budi memahami bahwa Sintia adalah korban perundungan verbal. Pak Budi pun memberikan semangat pada Sintia.
Semenjak itu, Sintia mulai berani melawan perundungan tersebut. Ia tidak lagi diam ketika diejek teman-temannya. Pihak sekolah pun akhirnya mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku perundungan. Sintia akhirnya bisa bebas dari perundungan dan merasa bahagia.
Sekian ulasan mengenai 2 cerpen tentang bullying singkat di lingkungan sekolah. Semoga artikel di atas dapat menginspirasi dan memicu semangat untuk memberantas bullying di lingkungan sekolah. (YAS)
