Konten dari Pengguna

2 Contoh Akulturasi Penanggalan Jawa dan Islam

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh akulturasi penanggalan jawa. Foto hanya ilustrasi. Sumber: Pexels/Leeloo The First
zoom-in-whitePerbesar
Contoh akulturasi penanggalan jawa. Foto hanya ilustrasi. Sumber: Pexels/Leeloo The First

Penanggalan Jawa masih digunakan oleh masyarakat Jawa hingga saat ini. Kalender jawa merupakan contoh akulturasi penanggalan Jawa dan Islam yang ada di Pulau Jawa antara penanggalan Saka dengan penanggalan Hijriyah.

Dikutip dari buku Sistem Penanggalan Aboge Dalam Perspektif Astronomi oleh Muhamad Z. M. (2022:94) pada tahun 1633 M bertepatan dengan tahun 1043 H, Sultan Agung Hanyakrakusuma membuat suatu sistem penanggalam yang menjadi pegangan kerajaan dan juga masyarakat Jawa.

Contoh Akulturasi Penanggalan Jawa

Contoh akulturasi penanggalan jawa. Foto hanya ilustrasi. Sumber: Pexels/Leeloo The First

Akulturasi dalam sistem penanggalan di Jawa dan Islam dapat menciptakan harmoni pada setiap aspek kalener. Untuk mengetahui lebih lanjut, simak beberapa contoh akulturasi penanggalan Jawa dan Islam di bawah ini.

1. Penamaan Bulan

Pada penanggalan jawa, panamaan bulan tetap berjumlah 12, yaitu Suro, Sapar, Mulud, Rabingulakir, Jumadilawal, Jumadilakir, Rajab, Ruwah, Puasa, Syawal, Hapir, dan Besar. Setiap bulannya akan terdiri dari 29 hingga 30 hari.

Sistem penanggalan ini mulanya dibuat oleh Sultan Agung pada tahun 1633 Masehi. Sistem ini dilakukan dengan menyatukan kejawen menggunakan kalender Saka dan kaum santri menggunakan kalender Hijriah.

Kalender Saka adalah sistem penanggalan yang diambil dari pergerakan bumi mengelilingi matahari. Sedangkan kalender Hijriah berdasarkan pergerakan bulan mengelilingi bumi dengan perhitungan dimulai dari 622 M.

Nama bulan serta jumlah hari yang ada pada penanggalan Jawa sendiri diambil dari kalender Hijriah, sedangkan angka tahun Saka tetap digunakan. Sehingga, kalender Jawa pertama dimulai pada 1 Sura 1555 Jawa.

2. Pembagian Waktu dalam Kalender Jawa

Pada kalender Jawa, terdapat pembagian waktu yang terdiri dari beberapa bagian, yaitu:

  • Windu, sebutan untuk 8 tahun.

  • Wuku, terbagi menjadi 30 jenis.

  • Pranoto Mongso atau Mansa, terbagi menjadi 12 pilihan yang mirip dengan zodiak.

  • Hari Pasar, adalah penamaan hari yang terdiri dari Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi.

Oleh karena itu, kalender Jawa disusun berdasarkan kejadian alam serta pengamatan terhadap pola hidup masyarakat. Sehingga, dapat bermanfaat bagi umat manusia. Contohnya adalah untuk memprediksi fenomena alam yang dapat berdampak pada karakter seseorang.

Baca Juga: Pengertian Akulturasi Budaya dan Contohnya di Masyarakat

Itulah penjelasan mengenai beberapa contoh akulturasi penanggalan Jawa dan Islam yang penting untuk diketahui. Semoga bermanfaat! (NUM)