Konten dari Pengguna

2 Contoh Dialog Drama Tentang Bullying di Sekolah Singkat

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh dialog drama tentang bullying. Sumber: Pexels/Mikhail Nilov
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh dialog drama tentang bullying. Sumber: Pexels/Mikhail Nilov

Contoh dialog drama tentang bullying singkat salah satunya berjudul "Bangkit Melawan Penindasan di Sekolah" dapat dipraktikkan murid di sekolah. Contoh dialog ini dapat dipentaskan di depan kelas atau acara perpisahan sekolah.

Umumnya dialog drama bullying dapat berisikan berbagai adegan yang menggambarkan perilaku bullying, reaksi korban, upaya penyelesaian, serta perubahan pada pelaku. Dengan adanya drama ini diharapkan murid dapat mengambil hikmah dari perilaku bullying.

Contoh Dialog Drama Tentang Bullying

Ilustrasi contoh dialog drama tentang bullying. Sumber: Pexels/cottonbro studio

Dalam buku Bunga Rampai: Psikologi Remaja Permasalahannya oleh Heru Purnomo, Skep., Ns., MKes dkk (2024:128) bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan terus-menerus oleh seseorang atau kelompok terhadap korban yang tidak bisa melawan dan tidak mampu mempertahankan diri, sehingga membuat korban merasa takut dan terancam.

Agar murid memahami apa yang dimaksud dengan bullying, dampak, dan cara menyelesaikannya, murid bisa menggunakan drama sebagai pengaplikasiannya. Berikut contoh dialog drama tentang bullying yang terjadi di sekolah.

Contoh 1: Bangkit Melawan Penindasan di Sekolah

Pemeran:

  • Sinta (korban bullying)

  • Agnes (pelaku bullying)

  • Johan (teman Sinta)

  • Dani (teman Agnes)

  • Kepala sekolah

Adegan 1

Sinta sedang duduk sendirian di meja belajar ketika Agnes dan Dani mendekatinya.

Agnes: Hei, kamu, mengapa kamu duduk sendirian di sini? (Agnes tertawa sinis).

Sinta: (terlihat takut) Maafkan saya, saya tidak bermaksud mengganggu siapa pun.

Agnes: (mengerling pada Dani) Kamu melihat ini? Dia tidak punya teman. Kita harus memberinya pengalaman sosial yang bagus.

Dani: (menyetujui) Benar, kita harus memberinya pengalaman sosial yang tak terlupakan.

Adegan 2

Sinta sedang duduk di lantai, sementara Agnes dan Dani sedang berdiri di atasnya, sambil menertawakannya.

Sinta: (menangis) Maafkan saya, tolong berhenti.

Agnes: Kenapa, kamu tidak suka? Kita hanya bercanda kok. Jadi tidak usah baperan begitu.

Sinta: (berusaha bangkit) Saya tidak ingin main dengan kalian lagi.

Dani: (menjulurkan lidah) Oh, jangan berpikir bahwa kamu bisa memilih dengan siapa kamu bermain atau tidak.

Adegan 3

Tiba-tiba Johan datang menghampiri Sinta, Agnes, dan Dani. Johan terkejut melihat Sinta menangis.

Johan: Agnes, Dani berhenti!!! Kalian tahu perbuatan kalian kepada Sinta termasuk bullying. Itu tidak benar.

Agnes: (Merespon dengan sinis) Apa urusanmu? Kamu siapa? kami bisa melakukan apa pun yang kami inginkan.

Johan: Tidak, kalian tidak boleh melakukan tindakan bullying terhadap siapa pun. Ini adalah masalah serius.

Dani: (Marah) Siapa yang mengangkatmu menjadi penjaga moral kami? Kamu tidak punya hak untuk berkata begitu.

Johan: Kalau kalian tidak berhenti, saya akan melaporkan kalian ke guru dan kepala sekolah. Kalian harus bertanggung jawab atas tindakan kalian.

Dani: (Menimpali) Ya, kalau kamu laporkan kami, kami akan membalasnya.

Johan: (Berani) Saya tidak takut dengan ancaman kalian. Kalian harus berhenti melakukan tindakan bullying terhadap Sinta. Ini adalah tindakan yang salah dan tidak etis.

Adegan 4

Setelah dilaporkan ke guru dan kepala sekolah, tindakan bullying yang dilakukan Agnes dan Dani dihentikan.

Kepala Sekolah: Agnes dan Dani, tindakan bullying yang kalian lakukan sangat salah dan tidak etis. Kalian harus bertanggung jawab atas tindakan kalian dan diberikan sanksi sebagai bentuk hukuman.

Agnes: (merasa menyesal) Saya minta maaf kepada Sinta atas tindakan saya yang tidak terpuji. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya.

Dani: (merasa menyesal) Saya juga minta maaf kepada Sinta atas tindakan saya yang tidak terpuji. Saya berjanji tidak akan melakukan tindakan bullying lagi di masa depan.

Epilog

Dalam drama ini, kita melihat bagaimana tindakan bullying dapat memengaruhi mental seseorang. Kita juga belajar bahwa tindakan bullying harus dihentikan dan pelakunya harus bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Contoh 2: Menghentikan Bullying

Pemeran:

  • Mawar (korban bullying)

  • Dudung (pelaku bullying)

  • Alya(teman Mawar)

  • Farhan (teman Dudung)

  • Ibu Dewi (guru Mawar, Alya, Dudung, dan Farhan)

  • Orang tua Mawar

  • Orang tua Dudung

Pendahuluan

Drama ini dimulai di sekolah tinggi, di mana Mawar, seorang siswi berbakat dan pendiam, telah menjadi target bullying oleh Dudung, seorang siswa yang suka menjahili teman-temannya. Cerita ini menggambarkan perjuangan Mawar untuk mengakhiri bullying.

Adegan 1

(Mawar sedang berjalan sendirian di koridor sekolah, tiba-tiba Dudung dan Farhan mendekatinya)

Dudung: (Mengejek) Hei, Mawar, mengapa kamu selalu sendirian? Apa kamu tidak punya teman?

Farhan: (Tertawa) Iya, Mawar, kamu memang aneh.

(Mawar merasa terluka dan pergi dengan cepat)

Adegan 2

(Mawar duduk di perpustakaan, Alya mendekatinya)

Alya: (Ramah) Hai, Mawar, apa kabar?

Mawar: (Dengan ragu) Hai, Alya. Aku baik-baik saja.

Alya: (Perhatian) Aku tahu tentang Dudung dan Farhan. Jangan biarkan mereka mengganggumu. Aku ada di sini untukmu.

Adegan 3

(Ibu Dewi mendeteksi ketidaknyamanan Mawar dan Alya)

Ibu Dewi: (prihatin) Apa yang terjadi, Mawar? Apakah semuanya baik-baik saja?

Mawar: (berbicara dengan ragu) Guru, saya sering dibully oleh Dudung dan Farhan.

Ibu Dewi: (serius) Kami akan mengatasi ini bersama. Kami tidak boleh mentolerir perilaku seperti ini di sekolah kita.

Adegan 4

(Orang tua Mawar mengunjungi sekolah setelah mendengar tentang masalahnya)

Orang Tua Mawar: (khawatir) Ibu Dewi, apa yang bisa kami lakukan untuk membantu Mawar?

Ibu Dewi: (menghibur) Mari kita bekerja sama untuk menghentikan bullying ini. Pertama-tama, kita perlu berbicara dengan orang tua Dudung.

Adegan 5

(Orang tua Dudung datang ke sekolah untuk berbicara dengan guru dan orang tua Mawar)

Ibu Dewi: (tegas) Perilaku Dudung sangat tidak bisa diterima. Kami perlu bekerja sama untuk mengubahnya.

Orang Tua Dudung: (malu) Kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi masalah ini.

Adegan 6

(Dudung mulai berubah setelah berbicara dengan orang tuanya, ia meminta maaf pada Mawar)

Dudung: (menghampiri Mawar) Mawar, aku minta maaf atas semua yang telah kulakukan. Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi.

Mawar: (lembut) Terima kasih, Dudung. Semua orang bisa berubah.

Epilog

Drama ini menunjukkan betapa pentingnya kerjasama dan perubahan sikap untuk mengakhiri bullying di sekolah dan mendorong persahabatan dan pemahaman.

Baca juga: Contoh Drama Tragedi beserta Jenis-jenis Drama Lainnya

Dengan adanya contoh dialog drama tentang bullying di atas diharapkan murid dapat mempraktikkannya dan dapat mengambil pesan bahwa bullying di sekolah adalah perilaku yang merugikan baik secara fisik, verbal, sosial, atau emosional. (MRZ)