2 Contoh Karangan Cerita Sepak Bola di Lapangan

Ragam Info
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sepak bola menjadi salah satu olahraga paling digemari di tanah air hingga muncul beberapa contoh karangan cerita sepak bola yang sampai diangkat ke layar lebar. Film tersebut awalnya juga dibuat dari naskah film yang merupakan sebuah karangan.
Untuk membuat karangan cerita sepak bola, perlu dipahami tentang cara menulis narasi. Di dalamnya wajib terdapat alur yang jelas, plot, tokoh, penokohan, serta sudut pandang, yang dipakai harus konsisten dari awal cerita hingga akhir.
Contoh Karangan Cerita Sepak Bola
Mengutip dari buku 365++ Fakta Sepak Bola, Desi Saraswati (2013:8), sepak bola sebetulnya sudah ada sejak abad ke-2 dan 3 sebelum Masehi di Cina. Di masa Dinasti Han tersebut, masyarakat menggiring bola kulit dengan menendangnya ke jaring kecil.
Permainan tersebut akhirnya tersebar ke seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Olahraga tersebut juga menarik untuk diangkat menjadi tema dalam sebuah karangan.
Berikut ini contoh karangan cerita sepak bola di lapangan yang memiliki plot, alur, tokoh, penokohan, serta sudut pandang yang jelas.
1. Sepatu Bola untuk Masa Depan
Riky, seorang anak yang ambisius. Saat ini dia masih kelas 1 SD. Dia bercita-cita bisa menjadi pemain sepak bola terkenal di Indonesia suatu saat nanti.
Sayangnya, tidak mudah baginya mewujudkan impiannya karena untuk membeli sepatu bola saja dia tidak mampu. Keluarganya memang bukan dari kalangan berada, sehingga dia harus menabung untuk membeli barang impiannya itu.
Setiap hari, di lapangan, Riky berlatih sendiri tanpa alas kaki. Banyak teman-temannya yang mengejeknya, "Kamu main sepak bola kok tidak pakai sepatu? Dasar miskin."
Ucapan itu sangat menyayat hati dan membuatnya semakin giat berlatih dan menabung. Setiap diberi uang jajan oleh orang tuanya, uangnya ditabung agar bisa membeli sepatu bola.
Satu tahun kemudian, Riky berhasil mengumpulkan uang untuk membeli sepatu. Dia pergi ke toko sepatu di kotanya dan membeli sepatu keren yang ada dalam bayangannya selama ini.
Riky senang bukan main, dia akhirnya bisa memakai sepatu bola saat berlatih di lapangan. Tanpa Riky ketahui, sedari dulu sudah ada orang yang memerhatikannya, yaitu Pak Herman.
Pak Herman yang rumahnya ada di dekat lapangan merupakan pemilik sekolah sepak bola terkenal di Surakarta. Dia melihat bakat Riky dan berniat memberinya beasiswa gratis sekolah bola.
"Nak, sini!" Pak Herman memanggil Riky yang sedang berlatih di lapangan.
"Iya, pak ada apa?" tanya Riky.
"Sudah lama rupanya kamu latihan sendiri di sini, teman-teman kamu mana?" tanya Pak Herman.
"Saya tidak punya teman pak, karena saya cuma anak orang miskin. Saya ditertawakan karena ingin jadi pemain bola dan berlatih dengan kaki telanjang," ucap Riky.
"Tidak apa-apa, jangan sedih! Bapak sering lihat kamu main di sini, kemampuan kamu bagus juga. Bapak ada penawaran bagus buat kamu, nama kamu siapa?" tanya Pak Herman.
"Saya Riky," ucap Riky memperkenalkan diri.
"Saya Pak Herman, pemilik Garuda Football Foundation. Saya ingin memberi kamu beasiswa sekolah bola gratis di tempat saya. Saya yakin kamu bisa jadi pemain hebat nanti," kata Pak Herman.
Riky tidak menyangka, dia seolah bermimpi. Dia kemudian menyanggupi penawaran Pak Herman. Kini mimpinya menjadi pemain bola andal di tanah air terasa semakin dekat.
2. Bertemu Idola
Jordan sangat mengidolakan Bambang Pamungkas. Setiap idolanya berlaga di lapangan, dia selalu menonton aksinya meskipun hanya lewat layar kaca.
Saat nonton pertandingan bola bersama bapaknya, Jordan selalu berkata "Kapan ya, aku bisa ketemu langsung sama Bambang Pamungkas?"
Ayahnya tertawa, sambil menjawab "Kalau mau ketemu ya datang ke stadion saat BP bertanding. Tapi, penjagaan ke pemain bola itu ketat, nak. Kamu hanya bisa melihat dia dari kejauhan."
"Kapan, Pak kita nonton BP di stadion? Aku ingin melihat dia langsung, tidak apa dari kejauhan," katanya.
"Coba kamu lihat jadwal pertandingan klub sepak bolanya, kapan yang akan bertanding di kota ini? Bapak nggak sanggup kalau harus nonton di Jakarta, transportasinya mahal kalau berangkat dari Banyuwangi," kata bapaknya.
"Bulan depan, Pak! Ayo kita nonton ya, kali ini saja...," pinta Jordan.
"Iya, bapak usahakan," kata Bapaknya.
Tiba hari saat pertandingan klub sepak bola BP berlaga di Banyuwangi. Jordan dan Bapaknya sudah pesan tiket dan duduk di tribun. Begitu BP keluar, Jordan girang sekali.
"Alhamdulillah, itu Bambang Pamungkas. Aku bisa lihat dia langsung, Pak!" ucapnya sambil memeluk Bapaknya.
Dia menonton pertandingan hingga berakhir. Jordan tidak mau pulang, dia menunggu semua penonton beranjak dari tribun, berharap bisa menyapa idolanya dari dekat.
Saat tribun sepi, Jordan berteriak tepat di atas ruang pemain, "Aku ingin bertemu Bambang Pamungkas, aku sangat mengidolakannya, kabulkan doaku, Tuhan!"
Bapaknya malu, dia menutup mulut Jordan dan mengajaknya pulang. Tanpa disangka, Bambang Pamungkas penasaran dan keluar dari ruang pemain untuk melihat siapa yang baru saja berteriak.
Bambang Pamungkas melihat Jordan, dia membawa kaus sepak bolanya untuk Jordan.
"Hey, kamu! Kamu yang barusan teriak? Ini buat kamu," kata BP sambil memberikan kaus di tangannya.
"Masyaallah, ini beneran BP? Makasih Ya Allah," kata Jordan mendekat dan mengambil kaus pemberian idolanya.
Jordan pun berfoto sepuasnya dengan idolanya dan pulang dengan hati luar biasa gembira.
Contoh karangan cerita sepak bola yang telah dicantumkan di atas memiliki hikmah atau pelajaran penting yang bisa dipetik oleh pembaca. Isi karangan tersebut juga memiliki unsur intrinsik yang jelas sehingga memenuhi syarat untuk dianggap sebagai karangan narasi. (IMA)
Baca juga: 9 Gerakan Dasar dalam Permainan Sepak Bola dan Aturannya
