Konten dari Pengguna

2 Contoh Soal Capital Budgeting dan Penjelasannya

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh soal capital budgeting. Sumber: www.unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh soal capital budgeting. Sumber: www.unsplash.com

Dalam dunia keuangan perusahaan, pengambilan keputusan investasi merupakan hal yang penting, dengan salah satu metode yang digunakan yaitu capital budgeting. Contoh soal capital budgeting diperlukan untuk memberikan penjelasan mengenai proses untuk menganalisis proyek dan menentukan proyek dalam anggaran modal.

Menurut buku Manajemen Penganggaran, DR.E Ari Dwi Astono.,S.Pd.,M.M.,CPMP , ‎Bayu Wijayama (2021:336), di sebagian besar perusahaan, capital budgeting atau penganggaran modal adalah salah satu sumber utama keuntungan perusahaan tersebut. Karena dengan adanya penganggaran modal, mereka dapat menghitung tingkat keuntungan pada jangka panjangnya.

Contoh Soal Capital Budgeting pada Perusahaan

Ilustrasi contoh soal capital budgeting. Sumber: www.unsplash.com

Dalam pengertiannya, modal (capital) menunjukkan aktiva tetap yang digunakan untuk produksi, sedangkan anggaran (budgeting) adalah sebuah rencana rinci yang meproyeksikan mengenai aliran kas masuk dan kas keluar selama beberapa periode pada saat yang akan datang.

Metode ini membantu perusahaan untuk memilih proyek-proyek yang paling menguntungkan dan sesuai dengan tujuan jangka panjang perusahaan. Berikut ini adalah contoh soal capital budgeting beserta penjelasannya.

1. Contoh Soal 1

PT Dorayaki sedang merencanakan sebuah proyek investasi yang membutuhkan dana sebesar Rp1 miliar. Dari total investasi tersebut, Rp100 juta akan digunakan sebagai modal kerja dan sisanya untuk modal tetap.

Proyek ini memiliki umur ekonomis selama 6 tahun dengan nilai residu diperkirakan mencapai Rp240 juta, dan menggunakan metode penyusutan garis lurus. Proyeksi penjualan selama umur ekonomis proyek adalah sebagai berikut:

Sumber: dok Pribadi

Struktur biaya proyek terdiri dari biaya variabel sebesar 45% dari penjualan dan biaya tetap lainnya sebesar Rp35 juta. Pajak yang dikenakan adalah 30% dan tingkat keuntungan yang diharapkan adalah 20%.

Pertanyaan: Apakah proyek ini layak? Gunakan metode Payback Period dengan target pengembalian 4 tahun, serta metode NPV dan IRR.

Jawaban:

1. Metode Payback Period

Payback Period = 3 tahun + (Rp119,8 juta / Rp324,2 juta) x 12 bulan = 3 tahun 4 bulan

Proyek layak karena Payback Period (3 tahun 4 bulan) lebih pendek dari target pengembalian 4 tahun.

2. Metode NPV

Menggunakan tingkat diskonto 20% per tahun

Sumber: dok Pribadi

3. Total PV dari NCF =

Rp1.139.699.320 Nilai Sekarang dari Investasi (ION) = Rp1.000.000.000 NPV = Total PV dari NCF - ION =

Rp1.139.699.320 - Rp1.000.000.000 = Rp139.699.320

4. Karena NPV positif (Rp139.699.320), proyek ini layak.

5. Metode IRR:

o Menghitung IRR menggunakan iterasi atau perhitungan khusus, didapatkan IRR sebesar 24,81%.

Karena IRR (24,81%) lebih besar dari tingkat keuntungan yang diharapkan (20%), proyek ini juga layak berdasarkan kriteria IRR.

2. Contoh Soal 2

Proyek investasi senilai Rp500.000.000 memiliki umur ekonomis 5 tahun dengan nilai residu Rp50.000.000 pada tahun kelima. Harga jual produk pada tahun pertama ditetapkan Rp3.500 per unit, dan unit penjualan awalnya adalah 250.000 unit.

Mulai tahun kedua, harga jual turun 20% dan unit penjualan meningkat 50.000 unit setiap tahun. Metode penyusutan yang digunakan adalah garis lurus dengan tarif pajak 40%.

Langkah-langkah untuk menghitung Payback Period:

1. Menghitung Unit Penjualan dan Nilai Penjualan

Tahun 1:

Unit penjualan = 250.000

Harga per unit = Rp3.500

Nilai penjualan = 250.000 × Rp3.500 = Rp875.000.000

Laba sebelum penyusutan dan pajak = 40% dari nilai penjualan = 40% × Rp875.000.000 = Rp350.000.000

2. Menghitung Cash Flow Tahunan

Tahun 1 sampai Tahun 5:

Penyusutan per tahun = (Investasi - Nilai residu) / Umur ekonomis = (Rp500.000.000 - Rp50.000.000) / 5 = Rp90.000.000

Dengan menggunakan tabel yang diberikan, dapat dihitung net cash flow (NCF) setiap tahunnya:

Sumber: dok Pribadi

3. Menghitung Akumulasi Cash Flow untuk Payback Period

Akumulasi cash flow dari tahun ke tahun:

Sumber: dok Pribadi

Menentukan Payback Period:

Dari perhitungan akumulasi cash flow di atas, investasi senilai Rp500.000.000 dapat kembali setelah 4 tahun.

Jawaban:

Payback Period untuk proyek ini adalah 4 tahun. Artinya, proyek ini dapat mengembalikan investasi awal dalam waktu 4 tahun.

Dengan demikian, proyek investasi ini memenuhi kriteria Payback Period kurang dari 5 tahun (sesuai dengan umur ekonomis proyek), sehingga layak untuk dilaksanakan berdasarkan metode Payback Period.

Dengan demikian, berdasarkan analisis menggunakan metode Payback Period, NPV, dan IRR, proyek investasi PT Dorayaki ini layak untuk dilakukan karena memenuhi semua kriteria yang telah ditetapkan.

Jadi, dengan demikian capital budgeting tidak hanya menjadi alat evaluasi finansial semata, tetapi juga menjadi pedoman strategis dalam pertumbuhan dan pengembangan perusahaan.

Melihat contoh soal capital budgeting ini, dalam praktiknya, penggunaan metode-metode di atas sangat membantu manajer keuangan untuk membuat keputusan yang tepat dalam mengalokasikan sumber daya perusahaan untuk proyek-proyek yang paling menguntungkan dalam jangka panjang. (VAN)

Baca juga: 10 Contoh Permintaan Kolektif Konsumen dalam Ilmu Ekonomi