Konten dari Pengguna

3 Contoh Marah yang Terpuji dalam Islam

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh marah yang terpuji dalam Islam. Sumber foto: Pexels/Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh marah yang terpuji dalam Islam. Sumber foto: Pexels/Pixabay

Kemarahan bisa menyebabkan munculnya perkara negatif lainnya. Namun, tidak semua marah itu tercela, ada yang termasuk dalam kategori terpuji. Salah satu contoh marah yang terpuji dalam Islam adalah marah karena syariat Allah yang dilanggar.

Dikutip dari NU Online, nu.or.id, dalam agama Islam, marah (ghadab) itu diizinkan tapi harus dilakukan dengan syarat ketat dan kendali yang kuat. Hal ini menjaga supaya kemarahan tersebut tidak menimbulkan kerusakan dan membuat umat muslim tersebut tergelincir dalam dendam.

Contoh Marah yang Terpuji dalam Agama Islam

Ilustrasi contoh marah yang terpuji. Sumber foto: Pexels/Pixabay

Marah adalah sifat wajar yang ada di dalam diri manusia. Dalam Islam, tidak melarang seorang muslim untuk marah tapi dihimbau untuk sebisa mungkin menghindari sifat ini dan Islam memberikan panduan untuk mengendalikannya.

Di Al-Qur’an larangan untuk sifat ini ada pada surat Al-A’raf ayat 200, Allah berfirman yang artinya:

”Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”

Kendati sifat marah ini dilarang dalam agama Islam, namun ada marah terpuji yang bisa dilakukan bahkan dianjurkan. Marah yang terpuji adalah kemarahan yang muncul karena Allah.

Untuk memahaminya, berikut contoh marah yang terpuji dalam Islam yaitu:

  1. Marah karena ada aturan atau syariat Allah yang dihina dan dilanggar.

  2. Menegakkan kebenaran.

  3. Membela agama.

Ketiga contoh perbuatan itulah termasuk ke dalam marah terpuji dan mendapatkan pahala. Bahkan dalam Al-Qur’an, marah yang terpuji ini sudah dicontohkan oleh Nabi Musa a.s ketika pulang dan mendapati kaumnya berbuat syirik dengan menyembah patung anak sapi.

Allah Swt berfirman:

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوْمِهِۦ غَضْبَٰنَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِى مِنۢ بَعْدِىٓ ۖ

“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati, dia berkata, ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku!’” (QS. Al-A’raf: 150)

Walaupun marah itu muncul dan terpuji, tapi tetap harus terukur. Ada beberapa hal yang bisa umat muslim lakukan untuk mengendalikan marah tersebut agar menjaga diri serta orang lain tidak terjerumus ke perbuatan keji.

  1. Tidak memicu perbuatan yang melanggar aturan agama. Misalnya memukul, mencaci-maki dan main hakim sendiri.

  2. Memberikan nasihat.

  3. Memberikan hukuman untuk menimbulkan efek jera bagi pelaku serta peringatan untuk orang lain supaya tidak melakukan kesalahan yang sama.

Baca juga: 3 Contoh Jujur dalam Niat di Kehidupan Sehari-hari

Contoh perbuatan marah yang terpuji di atas walaupun diizinkan untuk dilakukan, tapi sebagai umat muslim hendaklah bisa menyikapinya dengan baik. Bukan karena marah terpuji terus melakukan perbuatan seperti mencaci-maki. Justru melakukan perbuatan caci-maki tersebut menjadikan marah terpuji menjadi marah tercela. (RAN)