4 Aturan Membuat Puisi yang Benar dan Contohnya

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aturan membuat puisi hanya berlaku untuk jenis puisi lama, seperti pantun dan syair. Aturannya terikat pada bait, baris, dan rima. Sedangkan untuk jenis puisi baru, tidak memiliki aturan khusus untuk pembuatannya.
Puisi merupakan karya sastra yang berisi kata-kata dengan maksud untuk hiburan maupun memberikan pelajaran pada pembaca. Biasanya, puisi dibacakan pada acara resmi maupun non formal.
4 Aturan Membuat Puisi Lama dan Contohnya
Mengutip dari buku Panduan Lengkap Menulis Kreatif Proses, Keterampilan dan Profesi, Didik Komaidi, S.Ag.,M.Pd. (2017:167-168), puisi lama terikat aturan, sedangkan puisi baru tidak beraturan alias puisi bebas. Aturan membuat puisi lama terikat oleh beberapa hal di bawah ini.
1. Banyaknya Baris
Banyaknya baris dalam setiap bait (kuplet/strofa, suku/karangan). Biasanya, untuk puisi lama jenis pantun diatur hanya 4 baris dalam satu bait.
2. Banyaknya Kata
Umumnya, puisi lama memiliki aturan jumlah kata yang tidak boleh terlalu banyak dan terlalu panjang dalam setiap baris. Untuk pantun dan syair, tidak boleh lebih dari 10 kata dalam 1 baris.
3. Banyaknya Suku Kata
Banyaknya suku kata dalam setiap baris menjadi hal yang patut diperhatikan dalam pembuatan puisi lama. Tujuannya agar puisi tidak terlalu panjang dan menjemukan saat dibacakan.
4. Rima dan Irama
Rima adalah bunyi akhir pada setiap kata yang ada dalam bagian puisi. Sedangkan irama juga berkaitan dengan bunyinya yang dipadukan dengan panjangnya kata dalam puisi.
Misalnya, rima a-b-a-b atau rima a-a-a-a yang berkaitan dengan huruf akhir pada tiap kata di ujung baris. Hal ini akan menciptakan irama tersendiri.
Baca juga: Pengertian Puisi Lengkap dengan Contoh dan Jenis-Jenisnya
Contoh Puisi Lama
Berikut ini contoh puisi lama yang terdiri dari pantun dan syair. Keduanya memiliki pola yang hampir serupa.
1. Contoh Pantun
Berakit-rakit ke hulu Berenang-renang ke tepian Bersakit-sakit dahulu Bersenang-senang kemudian
2. Syair
Apakah dosa salahku ini? Maka mendapat siksa begini Badan yang hidup berasa fani Seorang tiada mengasihani
(Siti Nurbaya, hlm. 1974, dalam Pradopo, 2002: 42)
Aturan membuat puisi lama sangat terikat dan baku, sedangkan puisi baru bisa bebas dibuat tanpa memperhitungkan jumlah kata, jumlah suku kata, dan sebagainya seperi aturan yang ada pada pembuatan puisi lama. (IMA)
