Konten dari Pengguna

4 Ciri Tembang Macapat dan Contohnya

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ciri tembang macapat. Sumber foto: Pixabay/Dedy_Timbul
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ciri tembang macapat. Sumber foto: Pixabay/Dedy_Timbul

Macapat merupakan salah satu bentuk tembang Jawa. Tembang ini memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dengan ragam lagu Jawa pada umumnya. Adapun salah satu ciri tembang macapat, yaitu terikat dengan aturan guru wilangan (suku kata).

Macapat dapat dikenal juga sebagai jenis tembang cilik maupun tembang lumrah. Menurut asal usulnya, tembang macapat telah ada sejak masa-masa akhir kerajaan Majapahit dan mulai masuknya Islam di Jawa.

Ciri Tembang Macapat yang Menarik Diketahui

Ilustrasi ciri tembang macapat. Sumber foto: Pixabay/Dedy_Timbul

Mengutip buku Belajar Bahasa Daerah Jawa untuk Mahasiswa PGSD dan Guru SD, Rian Damariswara, (2020: 127), pengertian tembang macapat adalah puisi yang pembawaannya dilagukan. Tembang macapat ini menggunakan bahasa Jawa baru dengan patokan-patokan sastra Jawa.

Dengan adanya patokan tersebut, tembang macapat menjadi lebih mudah dikenali karena mempunyai karakteristik yang khas. Untuk lebih jelasnya, penjelasan mengenai beberapa ciri tembang macapat adalah sebagai berikut.

1. Aturan Guru Lagu

Tembang macapat tidak terlepas dari aturan guru lagu. Dalam hal ini, guru lagu, yaitu suara vokal yang terdapat pada akhir baris tembang macapat. Bentuk guru lagi antara lain a, i, u, e, dan o. Contohnya, yaitu pada tembang dhandanggula dengan patokan vokal i, a, e, u, i, a, u, a, i, a.

2. Jumlah Guru Gatra

Pada dasarnya, guru gatra adalah jumlah baris pada tiap bait. Umumnya, setiap tembang macapat memiliki jumlah guru gatra yang tidak sama. Seperti halnya jumlah gatra tembang pangkur, yaitu tujuh larik, sementara tembang megatruh berjumlah 5 gatra.

3. Patokan Guru Wilangan

Macapat juga ditandai dengan patokan guru wilangan pada masing-masing tembangnya. Dengan ini, guru wilangan dapat diartikan sebagai jumlah suku kata pada setiap baris.

Dalam penulisannya, tembang macapat harus sesuai dengan aturan guru wilangan yang sudah ditentukan. Sebagai contoh tembang pocung yang memiliki guru wilangan 12, 6, 8, dan 12 per baris.

4. Dapat Dilantunkan Tanpa Iringan

Tembang macapat memiliki ciri yang unik dan berbeda dengan lagu pada umumnya. Pasalnya, jenis tembang ini tetap dapat dilantunkan sendiri meskipun tanpa iringan instrumen Jawa atau gending.

Contoh Tembang Macapat

Ilustrasi ciri tembang macapat. Sumber foto: Pixabay/Dedy_Timbul

Setelah memahami ciri tembang macapat, untuk lebih mengenali ragam bentuknya, di bawah ini merupakan contoh tembang macapat yang dapat disimak dikutip dari buku Mengungkap Perjalanan Sunan Kalijaga, Jhony Hadi Saputra, (2010: 118-121).

Contoh 1

Megatruh

Sigra milir sang gethek sinangga bajul

Kawan dasa kang njageni

Ing ngarsa miwah ing pungkur

Tanapi ing kanan kering

Sang gethek lampahnya alon

Contoh 2

Gambuh

Sekar gambuh ping catur

Kang cinatur

Polah kang kalantur

Tanpo tutur katulo-tulo katali

Kadaluwarso katutur

Katutuh pan dadi awon

Contoh 3

Pocung

Ngelmu iku kelakone kanthi laku

Lekase lawan kas

Tegese kas nyantosani

Setya budya pangekesing dur angkara

Itu tadi beberapa ciri tembang macapat yang menarik dipelajari. Adanya ciri tersebut diharapkan dapat memudahkan pembaca dalam menentukan jenis tembang yang tertulis di dalam kepustakaan Jawa. (Riyana)

Baca Juga: 3 Contoh Tembang Dhandhanggula beserta Artinya