5 Amanat Tembang Pocung dalam Perjalanan Hidup Manusia

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam sastra bahasa Jawa ada materi ajar tentang tembang macapat yang diajarkan kepada siswa-siswa di sekolah dasar, sekolah menengah, maupun sekolah lanjutan. Ada dua tembang yang diajarkan yaitu tembang pocung dan tembang pangkur. Apa contoh amanat tembang pocung dalam kehidupan suku Jawa di Indonesia?
Mengutip tulisan Wafa Aldawamy dalam buku Filsafat Ku (2020:102), Tembang Pucung adalah salah satu tembang macapat urutan yang terakhir. Tembang macapat, salah satu jenis karya sastra puisi bahasa Jawa yang penulisannya berdasarkan aturan tertentu, yang kemudian dinyanyikan atau dilagukan. Tembang macapat bermakna perjalanan manusia.
Contoh Amanat Tembang Pocung Pada Puisi Bahasa Jawa
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), amanat adalah pesan, wejangan, gagasan, konsep atau keterangan. Terkait sastra, amanat adalah gagasan atau pesan yang mendasari karya sastra, yang ingin disampaikan pengarang atau penulisnya kepada pembaca dan pendengarnya.
Amanat tembang pocung bisa diartikan pesan dari puisi atau tembang macapat yang mengingatkan manusia pada kematian. Pocung menggambarkan perjalanan terakhir dari kehidupan manusia di dunia.
Ciri khas dari tembang macapat adalah penggunaan rima dan gaya bahasa yang khas. Jika dimaknai, macapat berarti maca papat-papat atau membaca empat-empat. Dinyanyikan dengan perhentian napas pada setiap empat suku kata.
Masih dari buku Filsafat Ku, tembang pucung terdiri atas 4 baris dengan susunan I-12-u; II-6-a; III-8-I; IV-12-a.
Tembang pocung berwatak santai, penuh dengan sesuatu yang lucu. Karena itu, banyak tembang pocung digunakan untuk bermain tebak-tebakan.
Mengutip jurnal javanologi.uns.ac.id/tembangpocung, berikut ini contoh tembang pocung dengan susunan 12u, 6a, 81, 12a:
Bapak
pocung, dudu watu dudu gunung
(Bapak
pocung, bukan batu bukan gunung)
Sangkane
ing sabrang
(Asalnya
dari seberang)
Ngon
angonne sang bupati
(Peliharaan
sang Bupati)
Yen
lumampah si pocung lambeyan gena
(Jika
berjalan si pocung tidak mengenakan pakaian)
penulis: Elang Widya Buana
Ngelmu iku kelakone kanthi laku.
Lekase lawan kas.
Tegese kas nyantosani .
setya budya pangekese dur angkara.
Amanat tembang pocung di atas adalah semua ilmu harus dicari. Jika sudah didapat, harus diamalkan agar berguna bagi orang lain.
Durung becus kesusu selak besus
(Belum mumpuni tergesa-gesa untuk berceramah)
Amaknani rapal
(Mengartikan hafalan)
Kaya sayid weton mesir
(Seperti sayid dari Mesir)
Pendhak pendhak angendhak Gunaning jalma
(Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain)
Taman limut durgameng tyas kang weh limput
(Dalam kabut kegelapan, angkara dihati yang selalu menghalangi)
Karem ing karamat
(Larut dalam kesakralan hidup)
Karana karoban ing sih
(Karena temggelam dalam kasih sayang)
Sihing sukma ngrebda saardi pengira
(Kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung)
Beda lamun kang wus sengsem reh ngasamun
(Tetapi berbeda dengan yang sudah suka menyepi)
Semune ngaksama
(Tampak sifat pemaaf)
Sasamane bangsa sisip
(Antar manusia yang penuh salah)
Sarwa sareh saking mardi martatama
(Selalu sabar dengan jalan mengutamakan sikap rendah hati)
Baca Juga: 5 Contoh Tembang Pocung dalam Bahasa Jawa
Empat terakhir contoh amanat tembang pocung berdasarkan Serat Wedhatama karya Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV, Raja Surakarta.
