5 Contoh Puisi Septima yang Penuh Makna

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi septima merupakan salah satu jenis karya sastra puisi yang dibuat pada masa pujangga baru. Puisi ini tidak terikat pada aturan-aturan puisi lama. Oleh karena itu, contoh puisi septima perlu dipelajari agar pembaca lebih mengenali strukturnya.
Puisi septima memiliki bentuk yang lebih bebas dibandingkan puisi lama. Dengan begitu, penyair dapat lebih mengekspresikan kata-kata dalam karyanya, tanpa terpaut pada ketentuan suku kata, jumlah baris, maupun rima.
Contoh Puisi Septima yang Penuh Makna
Berdasarkan buku Mengupas Puisi, Putu Sudarma, (2020:18), septima merupakan karya sastra puisi baru di mana satu baitnya terdiri dari tujuh baris. Oleh karena itu, jenis puisi ini biasa disebut dengan tujuh seuntai.
Untuk lebih memahaminya, beberapa contoh puisi septima yang menarik yang menarik diketahui adalah sebagai berikut.
Contoh 1
Meriwayatkan Waktu
Aku telah sampai di tepian
Merenungi detik-detik penantian
Hingga kau kembali, ku tetap di sini
Menanam harapan tanpa penyesalan
Sebab setiap takdir telah digariskan
Menuntut setiap langkah pertemuan
Meruwat doa ‘tuk merunut perjalanan
Contoh 2
Jiwa
Jika hari tidak lagi berganti
Jiwa akan kembali abadi
Semua duka akan sirna seperti debu
Yang tandas dicecar angin kemarau
Dahan-dahan kian berterbangan
Sebagaimana luruh perasaan tenang
Bahwa tidak selamanya kita dikenang
Contoh 3
Hening Malam
Aku terbangun pada malam yang kelu
Hanya waktu dan hening berpadu
Perjamuan malam kian nelangsa
Tiada bintang di angkasa
Bulan bersembunyi menutupi luka
Sementara aku mengumbar duka
Pada batang usia yang teramat renta
Contoh 4
Bangku Sekolah
Tujuh tahun silam telah berlalu
Seragam putih abu-abu yang lusuh
Sudah khatam meriwayatkan sedu
Pada harapan-harapan paling teduh
Namun, apakah langkahmu telah tiba?
Doa terus mengembara menuju perwujudan
Pada cita-cita yang enggan dilupakan
Contoh 5
Mencari Kisah
Sepanjang perjalanan pulang
Peron disesaki lamunan orang-orang malang
Yang lapang menerima keputusan
Bahwa tiada kata yang menuntut keadilan
Lantaran inilah takdir Tuhan
Yang musti diperjuangkan
Tanpa pantang pada perintang keadaan
Itulah kumpulan contoh puisi septima yang sarat akan makna. Melalui ulasan di atas, pembaca dapat menambah wawasan mengenai ragam puisi baru dalam Bahasa Indonesia. (Riyana)
Baca Juga: 4 Contoh Puisi Perpisahan Anak TK yang Singkat dan Berkesan
