Konten dari Pengguna

50 Contoh Tembung Kawi dalam Karya Sastra Jawa

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh tembung kawi. Sumber: www.unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh tembung kawi. Sumber: www.unsplash.com

Tembung Kawi merupakan kosakata bahasa Jawa Kuno dalam karya sastra Jawa. Penggunaan tembung Kawi memberikan kesan estetis, puitis, dan mendalam, hingga sering digunakan untuk nama seseorang. Salah satu contoh tembung Kawi adalah bayu yang berarti angin.

Menurut buku Filologi Nusantara: Pengantar ke Arah Penelitian Filologi, Dra. Nurhayati Harahap, M.Hum. (2021:106), akar bahasa Jawa adalah bahasa Jawa Kuno, yang berakar dari bahasa Sanskerta. Dalam naskah Jawa Baru, pengaruhnya berupa kata-kata serapan atau biasa disebut tembung kawi “kata pujangga”.

Contoh Tembung Kawi yang Unik dan Indah

Ilustrasi contoh tembung kawi. Sumber: www.unsplash.com

Bahasa dalam tembung Kawi dinilai sebagai kunci untuk mengungkapkan kehidupan kebudayaan bangsa Indonesia. Bahasa dan sastra Kawi bisa dikatakan menjadi sumber kekayaan dan pengetahuan bagi perkembangan kebudayaan bangsa, karena sudah ada sejak 804 M dari temuan prasasti Sukabumi.

Menggunakan tembung Kawi di masa sekarang, artinya memperpanjang usia bahasa dan sastra Jawa sekaligus menghargai budaya bangsa. Berikut contoh tembung Kawi yang menarik untuk dapat digunakan.

  1. Agni: Api

  2. Agra: Pucuk

  3. Ajar: Guru

  4. Aji: Raja

  5. Aldaka: Gunung

  6. Badra: Rembulan

  7. Banyu: Air

  8. Bayu: Angin

  9. Bumi: Tanah

  10. Brahma: Dewa Pencipta

  11. Cakra: Senjata cakram

  12. Candrasa: Bulan

  13. Candramawa: Kucing

  14. Carita: Cerita

  15. Cita: Pikiran

  16. Dahana: Api

  17. Dasa: Sepuluh

  18. Dewi: Dewi

  19. Dharma: Kebenaran

  20. Diyu: Neraka

  21. Garuda: Burung Garuda

  22. Guna: Manfaat

  23. Gunung: Gunung

  24. Guru: Pengajar

  25. Gusti: Tuan

  26. Harsa: Bahagia

  27. Hati: Jantung, perasaan

  28. Hyang: Dewa

  29. Indra: Dewa Indra

  30. Istri: Perempuan

  31. Jaga: Menjaga

  32. Jaya: Kemenangan

  33. Jiwa: Roh

  34. Judhi: Perang

  35. Jumantara: Langit

  36. Karma: Perbuatan

  37. Kasmaran: Asmara

  38. Kasih: Cinta

  39. Kawula: Hamba

  40. Kerta: Sejahtera

  41. Lampu: Pelita

  42. Langit: Langit

  43. Laras: Harmonis

  44. Lemah: Tanah

  45. Luhur: Tinggi

  46. Mandhala: Bumi, tlatah

  47. Manah: Pikiran

  48. Manusia: Manusia

  49. Marga: Jalan

  50. Marta: Dunia

Baca juga: 4 Contoh Meneladani Sifat Wajib Rasul dalam Islam

Lahirnya Tembung Kawi melalui Perjalanan Sejarah Sastra Jawa

Ilustrasi contoh tembung kawi. Sumber: www.unsplash.com

Tembung Kawi dalam sejarah sastra Jawa muncul melalui perjalanan yang sangat panjang. Dimulai pada zaman sebelum abad ke IX, di mana pada zaman ini, bentuk karya sastra yang berbahasa Kawi masih diwariskan secara lisan.

Kemudian memasuki zaman Mataram, yang dimulai sekitar abad ke-9 hingga abad ke-10. Saat itu kerajaan Mataram berada di bawah pemerintahan Mpu Sindok (925-962 M) hingga pemerintahan Raja Dharwangsa Teguh (991-1007 M) melahirkan karya sastra tulisan berupa prosa dan Kakawin Ramayana.

Karya sastra tulisan ini semakin berkembang pada zaman kerajaan Kediri dengan kepimimpian Prabu Airlangga (1019 - 1049 M) hingga pemerintahan Raja Kertanegara (1268 - 1292 M) di Singasari, mulai muncul karya Kawi dengan karya sastra jenis tembang atau lagu.

Di zaman Majapahit I yang berkuasa dari tahun 1239 – 1389 M, karya sastra Kawi tulisan yang terkenal hingga saat ini lahir, yaitu Sutasoma, Parthayajna, dan Brahmaodapuraoa.

Hingga runtuhnya kerajaan Majapahit pada tahun 1518 M, kembali lahir karya besar sastra Jawa tulisan yang berjudul Kakawin Nitisastra, Nirartha Prakerta, Dharmasunya, dan Hariwangsa. Sejak itulah, tembung Kawi semakin dikenal dan digunakan secara turun temurun.

Kehadiran tembung Kawi dalam karya sastra Jawa memberikan warna tersendiri dan menunjukkan kekayaan bahasa serta budaya Jawa yang patut dilestarikan.

Melalui pemahaman terhadap contoh tembung Kawi dan sejarah singkatnya, diharapkan akan dapat lebih mengapresiasi keindahan serta kedalaman makna dalam karya sastra Jawa. (VAN)