50 Contoh Tembung Kawi dalam Karya Sastra Jawa

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tembung Kawi merupakan kosakata bahasa Jawa Kuno dalam karya sastra Jawa. Penggunaan tembung Kawi memberikan kesan estetis, puitis, dan mendalam, hingga sering digunakan untuk nama seseorang. Salah satu contoh tembung Kawi adalah bayu yang berarti angin.
Menurut buku Filologi Nusantara: Pengantar ke Arah Penelitian Filologi, Dra. Nurhayati Harahap, M.Hum. (2021:106), akar bahasa Jawa adalah bahasa Jawa Kuno, yang berakar dari bahasa Sanskerta. Dalam naskah Jawa Baru, pengaruhnya berupa kata-kata serapan atau biasa disebut tembung kawi “kata pujangga”.
Contoh Tembung Kawi yang Unik dan Indah
Bahasa dalam tembung Kawi dinilai sebagai kunci untuk mengungkapkan kehidupan kebudayaan bangsa Indonesia. Bahasa dan sastra Kawi bisa dikatakan menjadi sumber kekayaan dan pengetahuan bagi perkembangan kebudayaan bangsa, karena sudah ada sejak 804 M dari temuan prasasti Sukabumi.
Menggunakan tembung Kawi di masa sekarang, artinya memperpanjang usia bahasa dan sastra Jawa sekaligus menghargai budaya bangsa. Berikut contoh tembung Kawi yang menarik untuk dapat digunakan.
Agni: Api
Agra: Pucuk
Ajar: Guru
Aji: Raja
Aldaka: Gunung
Badra: Rembulan
Banyu: Air
Bayu: Angin
Bumi: Tanah
Brahma: Dewa Pencipta
Cakra: Senjata cakram
Candrasa: Bulan
Candramawa: Kucing
Carita: Cerita
Cita: Pikiran
Dahana: Api
Dasa: Sepuluh
Dewi: Dewi
Dharma: Kebenaran
Diyu: Neraka
Garuda: Burung Garuda
Guna: Manfaat
Gunung: Gunung
Guru: Pengajar
Gusti: Tuan
Harsa: Bahagia
Hati: Jantung, perasaan
Hyang: Dewa
Indra: Dewa Indra
Istri: Perempuan
Jaga: Menjaga
Jaya: Kemenangan
Jiwa: Roh
Judhi: Perang
Jumantara: Langit
Karma: Perbuatan
Kasmaran: Asmara
Kasih: Cinta
Kawula: Hamba
Kerta: Sejahtera
Lampu: Pelita
Langit: Langit
Laras: Harmonis
Lemah: Tanah
Luhur: Tinggi
Mandhala: Bumi, tlatah
Manah: Pikiran
Manusia: Manusia
Marga: Jalan
Marta: Dunia
Baca juga: 4 Contoh Meneladani Sifat Wajib Rasul dalam Islam
Lahirnya Tembung Kawi melalui Perjalanan Sejarah Sastra Jawa
Tembung Kawi dalam sejarah sastra Jawa muncul melalui perjalanan yang sangat panjang. Dimulai pada zaman sebelum abad ke IX, di mana pada zaman ini, bentuk karya sastra yang berbahasa Kawi masih diwariskan secara lisan.
Kemudian memasuki zaman Mataram, yang dimulai sekitar abad ke-9 hingga abad ke-10. Saat itu kerajaan Mataram berada di bawah pemerintahan Mpu Sindok (925-962 M) hingga pemerintahan Raja Dharwangsa Teguh (991-1007 M) melahirkan karya sastra tulisan berupa prosa dan Kakawin Ramayana.
Karya sastra tulisan ini semakin berkembang pada zaman kerajaan Kediri dengan kepimimpian Prabu Airlangga (1019 - 1049 M) hingga pemerintahan Raja Kertanegara (1268 - 1292 M) di Singasari, mulai muncul karya Kawi dengan karya sastra jenis tembang atau lagu.
Di zaman Majapahit I yang berkuasa dari tahun 1239 – 1389 M, karya sastra Kawi tulisan yang terkenal hingga saat ini lahir, yaitu Sutasoma, Parthayajna, dan Brahmaodapuraoa.
Hingga runtuhnya kerajaan Majapahit pada tahun 1518 M, kembali lahir karya besar sastra Jawa tulisan yang berjudul Kakawin Nitisastra, Nirartha Prakerta, Dharmasunya, dan Hariwangsa. Sejak itulah, tembung Kawi semakin dikenal dan digunakan secara turun temurun.
Kehadiran tembung Kawi dalam karya sastra Jawa memberikan warna tersendiri dan menunjukkan kekayaan bahasa serta budaya Jawa yang patut dilestarikan.
Melalui pemahaman terhadap contoh tembung Kawi dan sejarah singkatnya, diharapkan akan dapat lebih mengapresiasi keindahan serta kedalaman makna dalam karya sastra Jawa. (VAN)
