8 Jenis Cangkriman Bahasa Jawa dan Contohnya

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak hanya dalam bahasa Indonesia saja, permainan tebak-tebakan juga ada dalam bahasa Jawa. Permainan ini disebut dengan cangkriman. Terdapat 8 jenis cangkriman yang bisa ditemukan dalam kehidupan orang Jawa.
Cangkriman merupakan rangkaian kata yang mengandung arti atau makna khusus yang harus dicari tahu dengan menebaknya. Cangkriman dapat berfungsi sebagai hiburan, sarana pendidikan, hingga syair atau lirik tembang atau lagu.
Informasi Mengenai Jenis Cangkriman Bahasa Jawa dan Contohnya
Dikutip Dalam buku Etnologi Jawa oleh Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum (2015: 66-74) terdapat 8 jenis cangkriman yang telah dilengkapi dengan contohnya, berikut penjelasannya.
1. Cangkriman Asosiatif
Cangkriman asosiatif yakni cangkriman menggunakan hubungan asosiasi antar dua benda atau lebih. Cangkriman jenis ini sering menggelitik dan membutuhkan pemikiran ketika menjawab, contoh:
Gajah nguntal sangkarah. Jawaban: Tungku.
Pitik walik saba kebon. Jawaban: Nanas.
Sawah rong kedhok galengane mung sitok. Jawaban: daun pisang.
2. Cangkriman Berbau Erotis
Cangkriman ini seolah-olah vulgar, tetapi ada unsur humor untuk memberi kesan hiburan, contoh:
Sing neng ndhuwur manggut-manggut, sing neng ngisor merem-merem, gaweyane obah munggah mudhun, apa? Jawaban: Orang yang menggergaji kayu pada posisi atas bawah.
Mlebune kaku, disogokke bola-bali, njur metu putih-putihe, yen uwis marahi lega, apa? Jawaban: Orang menyikat gigi.
3. Cangkriman Humoris
Adapun contoh dari cangkriman jenis humoris yaitu:
Apa sing dikunci ing njeron omah kok bisa metu dhewe? Jawaban: Api kebakaran.
Ana pawongan duwe gulu ora duwe sirah, duwe silit ora tau mbebuwang, apa? Jawaban: Gendul.
Ana piranti pawon, bareng ketiban cecak seka ndhuwur bisa mabur, apa? Jawaban: Kalo.
4. Cangkriman Tembang
Cangkriman ini biasanya menggunakan tembang pocung, asmaradana, hingga lagu dolanan anak-anak, contoh:
Tembang asmaradana:
Sresreban ning dudu kaji
Nganggo kucir dudu Cina
Sarwi bolong mbun-mbunane
Gawene atetangisan
Weteng bolong tinutupan
Lamun mbun-mbunane sinebul
Tangise dadi tontonan
5. Cangkriman Pemendekan Kata
Dalam bahasa Jawa cangkriman jenis ini disebut cangkriman wancahan. Artinya dua kata atau lebih sengaja dipendekkan, diambil suku kata terakhir, lalu digabung. Cangkriman ini dipandang lebih enteng dan enak diterka, contoh:
Wiwawite lesbadhonge jatos pelempuk (Uwi dawa wite tales amba godhonge maja atos pelem empuk).
Rukningbuteng (Jeruk kuning jambu mateng).
Ana manuk endhase telu (Ana manuk endhase kebuntel wulu).
6. Cangkriman Pertanyaan Cerdik
Cangkriman ini biasanya menampilkan pertanyaan kritis dan menggelitik, contoh:
Ana wong wadon mlaku mundur seka Surabaya. Njur ana wong lanang mlaku mundur seka Jakarta, ketemune neng ngendi? Jawaban: Di rumah sakit, sebab keduanya orang gila.
Apa bedane balapan jaran lan balapan sepeda? Jawaban: Jika ada balapan kuda ada titipan sepeda, dan pada balap sepeda tidak ada titipan kuda.
7. Cangkriman Permainan Kata (Punning)
Contoh dari cangkriman jenis permainan kata yaitu:
Anak kepiting sirahe neng ngendi? Jawaban: Neng cangklakan (ketiak). Artinya anak yang dipithing tentu berada di ketiak.
8. Cangkriman Problematik
Cangkriman yang terakhir yaitu cangkriman problematik dengan contoh yaitu:
Ibu bapake dielus-elus, anake diidak-idak apa? Jawaban: Sebuah tangga yang digunakan untuk memanjat.
Isih cilik anake wis sanggulan, ibuke rambute ngore-ore (terurai) apa? Jawaban: Pohon pakis.
Dari 8 jenis cangkriman di atas, menggambarkan bahwa orang Jawa memiliki sistem logika bagus dengan mengaitkan nilai-nilai budaya masyarakat yang ada. Bermain cangkriman mengasah otak karena harus berfikir untuk menjawab tebakan yang diberikan. (MRZ)
Baca juga: 3 Contoh Puisi Bahasa Jawa Berbagai Tema
