Alur Cerita Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak beserta Amanatnya

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alur merupakan salah satu unsur yang penting dalam sebuah cerita. Alur akan menentukan bagaimana peristiwa yang terjadi dalam cerita tersebut. Karena itu, banyak yang mempertanyakan mengenai alur cerita Hikayat Sa-Ijaan dan ikan todak.
Hikayat Sa-Ijaan dan ikan todak merupakan salah satu cerita rakyat yang ada di Indonesia. Cerita ini berasal dari Kota Baru, Kalimantan Selatan.
Ketahui Alur Cerita Hikayat Sa-Ijaan dan Ikan Todak
Dikutip dari buku Menulis Teks Cerpen: Mengoptimalkan Penggunaan Gawai Sebagai Media Pembelajaran, Rene Murdianti & Gallant Karunia Assidik, (2024:34), alur merupakan susunan berurutan dalam suatu peristiwa pada sebuah prosa fiksi yang memperhitungkan ketertarikan sebab dan akibat. Karena itu, alur akan menciptakan sebuah cerita yang keseluruhan, komprehensif dan utuh.
Alur menjadi hal yang sangat penting dalam sebuah cerita apalagi dalam cerita rakyat. Pada cerita rakyat, banyak cerita yang menggunakan alur maju seperti cerita hikayat Sa-Ijaan dan Ikan Todak. Alur pada cerita rakyat ini menggunakan alur maju yang jalan ceritanya terus bergerak maju.
Oleh karena itu, untuk memahami alur pada cerita Hikayat Sa-Ijaan dan ikan Todak, berikut ringkasan ceritanya.
Cerita Hikayat Sa–Ijaan dan Ikan Todak berawal dari seorang datu yang memiliki kekuatan luar biasa yang sedang bertapa. Datu Mabrur bertapa di Selat Laut dan Selat Makasar.
Pada hari terakhir pertapaannya, ketika laut sedang tenang tiba-tiba seorang raja ikan todak menyerangnya Datu Mabrur dengan tenang menepis serangan tanpa berpindah tempat dan ikan tersebut terpelanting berulang kali.
Pada saat ikan todak terjatuh, Datu Mabrur bertanya mengenai serangan yang diberikan kepadanya. Raja ikan todak mengaku sebagai penguasa perairan dan menyatakan bahwa tapa Datu Mabrur telah mengganggu kedamaian lautan. Namun dengan kekalahannya, raja ikan todak memutuskan untuk tunduk begitu juga ikan lainnya.
Dengan kekalahan ini, raja ikan todak mengalami luka parah dan meminta tolong pada Datu Mabrur untuk mengobatinya. Jika mau menuruti permintaan itu, raja ikan todak akan mengabulkan semua permintaan Datu Mabrur. Datu Mabrur akhirnya mengobati luka ikan todak sebagai kepedulian sesama makhluk selagi bercerita tentang tujuan pertapaannya.
Mendengar cerita tersebut, raja ikan mengabulkan keinginan Datu secara sukarela dan ia akan menyediakan pulau untuk dihuni oleh keturunan sang Datu. Raja ikan bersama rakyatnya berseru “Sa-ijaan!” Sa-Ijaan berarti mufakat, satu hati dan se-iya sekata.
Ketika tengah malam, Datu Mabrur terkejut oleh gemuruh dari dasar laut. Gemuruh itu berasal dari jutaan ikan yang mendorong dan menciptakan daratan baru sebagai pemenuhan permintaan dan berteriak “Sa-ijaan!”.
Amanat Cerita Hikayat Sa-Ijaan dan Ikan Todak
Dari cerita rakyat ini, terdapat amanat yang terkandung di dalamnya. Amanat yang terkandung dalam cerita ini yaitu sikap kejujuran, setia, saling percaya, kesederhanaan dan kesabaran.
Amanat ini tergambarkan melalui perjanjian yang dilakukan oleh Datu Mabrur dan raja ikan todak terhadap pemenuhan keinginan dari Datu Mabrur setelah mengobati ikan todak.
Demikian alur cerita Hikayat Sa-Ijaan dan Ikan Todak beserta ringkasan cerita dan amanat yang merupakan cerita rakyat dari Kota Baru, Kalimantan Selatan. Semoga dapat memberikan makna yang dalam pada cerita ini. (RFL)
Baca juga: Mengenal 3 Bagian Alur Cerita dalam Karangan Fiksi
