Arti Cagak Papat Lawang Songo, Peribahasa dalam Bahasa Jawa

Ragam Info
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peribahasa adalah salah satu karya sastra lama yang populer. Salah satu peribahasa yang saat ini cukup viral di media sosial adalah peribahasa dari bahasa Jawa, yaitu cagak papat lawang songo. Meskipun cukup banyak digunakan, masih ada yang belum mengetahui arti cagak papat lawang songo.
Peribahasa dalam bahasa Jawa, yang sering disebut juga sebagai paribasan atau bebasan. Biasanya, peribahasa digunakan dalam percakapan sehari-hari maupun dalam karya sastra untuk memperindah bahasa serta memperdalam makna pembicaraan.
Ketahui Arti Cagak Papat Lawang Songo, Peribahasa Bahasa Jawa yang Viral
Mengutip buku Kamus Lengkap Peribahasa dan Ungkapan, Miftah Fauzi (2014:7), peribahasa adalah ayat atau kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan mengandung pengertian tertentu. Peribahasa ini merupakan bagian dari kekayaan budaya dan sastra lisan Jawa yang diwariskan secara turun-temurun.
Peribahasa cagak papat lawang songo pada dasarnya berasal dari sebuah nasihat, yaitu sak polah tingkahmu ojo nganti metu soko garis, cagak papat lawang songo. Berikut ini arti cagak papat lawang songo yang dapat diketahui dan juga diperhatikan.
1. Cagak Papat
Cagak papat memiliki arti empat tiang atau empat nafsu dasar pada diri manusia. Keempat tiang ini harus dijaga keseimbangannya agar tidak meruntuhkan kehidupan.
Apabila salah satu tiang terlalu kuat atau dominan, manusia mudah terjatuh dalam ketidakseimbangan batin maupun moral. Setiap tiang ini mewakili elemen penting dari karakter manusia, yang jika diarahkan dengan baik akan menjadi penopang kekuatan hidup.
Lawwamah
Lawwamah adalah nafsu jasmani, hal ini berkaitan dengan dorongan dasar seperti makan, tidur, dan syahwat. Nafsu ini penting untuk menjaga kelangsungan hidup.
Namun, jika tidak dikendalikan akan mengakibatkan kerakusan, kemalasan, dan tindakan yang merusak martabat. Pengendalian lawwamah menuntut kesadaran atas batas dan kebutuhan, bukan keinginan semata.
Sufiyah
Sufiyah mencerminkan nafsu terhadap dunia dan keindahan, meliputi harta, kedudukan, penampilan, serta pengakuan sosial. Sufiyah mendorong manusia untuk berusaha dan berkreasi.
Namun, hal ini dapat menjerumuskan ke dalam keserakahan dan juga iri hati jika tidak dikendalikan secara bijak. Keseimbangan dalam sufiyah memerlukan pengetahuan diri dan nilai spiritual yang kokoh.
Amarah
Amarah adalah dorongan emosional yang meliputi semangat, keberanian, kemarahan, dan kehendak untuk berkuasa. Bila diarahkan secara benar, amarah dapat menjadi kekuatan untuk membela kebenaran atau memperjuangkan keadilan.
Namun bila tidak terkendali, dapat melahirkan kekerasan, dendam, dan konflik. Latihan pengendalian diri dan kesabaran menjadi kunci dalam mengelola amarah.
Mutmainnah
Mutmainnah merupakan nafsu yang bersifat spiritual dan condong pada kebaikan dan kebenaran. Nafsu ini menjadi pusat keseimbangan yang mengarahkan manusia menuju kesucian jiwa dan kedekatan dengan Tuhan.
Mutmainnah berkembang melalui ibadah, refleksi diri, dan sikap menerima keadaan tanpa kehilangan arah atau semangat.
2. Lawang Songo
Lawang songo berarti sembilan pintu, hal ini merujuk pada sembilan lubang tubuh manusia, yaitu mulut, dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, qubul (kemaluan), dan dubur. Kesembilan pintu ini menjadi saluran masuk dan keluar informasi, nafsu, serta tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Jika tidak dijaga, pintu-pintu ini bisa menjadi jalan masuk bagi dosa, godaan, dan kerusakan moral. Mulut dapat menjadi sumber kebaikan jika digunakan untuk berkata benar dan santun.
Namun, bisa pula menjadi sumber fitnah dan kebohongan. Mata dapat digunakan untuk melihat kebenaran, tapi juga bisa menjadi alat untuk memandang yang haram.
Telinga bisa mendengar ilmu dan nasihat, namun juga bisa menjadi saluran gosip dan keburukan. Hidung menerima udara kehidupan, tapi juga harus dijaga dari hal-hal yang merusak.
Qubul dan dubur adalah bagian dari sistem reproduksi dan ekskresi, yang jika tidak dijaga, bisa menjerumuskan dalam perilaku amoral dan penyakit.
Menjaga lawang songo berarti menjaga pintu-pintu tubuh dari hal yang dapat merusak jiwa, serta menjadikannya saluran bagi kebaikan, kesucian, dan penguatan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.
Secara keseluruhan, arti cagak papat lawang songo adalah mengajak manusia untuk menyadari empat nafsu utama yang digunakan sebagai tiang penyangga kehidupan jasmani dan spiritual. Selain itu, juga menjaga sembilan pintu tubuh sebagai saluran interaksi dengan dunia. (BAI)
Baca Juga: 5 Arti Peribahasa Sepandai pandainya Tupai Melompat Akhirnya Jatuh Juga
