Bagaimana Nilai Islam Diterapkan untuk Menciptakan Budaya Akademik yang Sehat?

Ragam Info
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam menjalankan kehidupan, ada berbagai nilai-nilai Islam yang wajib diaplikasikan oleh setiap muslim. Lantas, bagaimana nilai-nilai Islam, seperti keseimbangan (tawazun), etika (akhlak), dan niat (ikhlas) dapat diterapkan dalam dunia akademik untuk menciptakan budaya akademik yang sehat?
Pertanyaan ini memang tak jarang muncul di benak seseorang. Khususnya bagi para tenaga pendidik yang ingin menerapkan nilai-nilai Islam ke dalam kegiatan pembelajaran.
Bagaimana Nilai-Nilai Islam, seperti Keseimbangan (Tawazun), Etika (Akhlak), dan Niat (Ikhlas) dapat Diterapkan dalam Dunia Akademik untuk Menciptakan Budaya Akademik yang Sehat?
Mengutip dari buku Nilai-Nilai Islam dalam Masyarakat Melayu Sumatera Selatan, Eti Yusnita (2023:35), dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nilai-nilai islam atau nilai keislaman adalah sebagai agian dari nilai material yang bersifat universal, kebenaran yang absolut dan suci tanpa memandang ras, golongan, dan strata sosial kemasyarakatan sebagai wujud dari pengalaman rohani dan jasmani, menyatu dalam pribadi seseorang yang berbudi pekerti tinggi atau insan kamil.
Jadi, bagaimana nilai-nilai Islam, seperti keseimbangan (tawazun), etika (akhlak), dan niat (ikhlas) dapat diterapkan dalam dunia akademik untuk menciptakan budaya akademik yang sehat? Berikut ini adalah penjelasannya.
1. Keseimbangan (Tawazun)
Istilah tawazun mengacu pada keseimbangan antara aspek duniawi dan ukhrawi. Sementara dalam konteks akademik, hal ini berarti mahasiswa dan akademisi tidak hanya fokus pada prestasi akademik semata, tapi juga memperhatikan kesehatan mental, hubungan sosial, dan ibadah.
Contohnya, seperti seorang mahasiswa harus mengatur waktu antara belajar dan beribadah agar tidak mengalami kelelahan atau stres berlebihan.
2. Etika (Akhlak)
Akhlak atau etika sebagai nilai Islam mencakup kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap orang lain. Adapun dalam dunia akademik, istilah ini bisa diterjemahkan sebagai sikap anti-plagiarisme, kejujuran dalam ujian. dan penghormatan terhadap dosen serta sesama manusia.
Dengan kata lain, etika Islam mengajarkan untuk menghargai ilmu sebagai amanah, sehingga ketidakjujuran akademik dianggap sebagai pengkhianatan terhadap amanah tersebut.
3. Niat (Ikhlas)
Ikhlas artinya melakukan sesuatu semata-mata karena Allah Swt. Dalam konteks akademik, niat yang ikhlas mendorong seseorang untuk menuntut ilmu bukan hanya untuk mendapatkan gelar atau prestise, tapi untuk memberikan manfaat kepada masyarakat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Dengan niat yang ikhlas, maka seseorang akan terhindar dari sifat sombong atau persaingan yang tidak sehat.
Demikian jawaban dari pertanyaan bagaimana nilai-nilai Islam seperti keseimbangan (tawazun), etika (akhlak), dan niat (ikhlas) dapat diterapkan dalam dunia akademik untuk menciptakan budaya akademik yang sehat. (Anne)
Baca Juga: Apa yang Dilakukan agar Siswa Menekuni Akademik, Olahraga, Agama, Sosial, Seni?
